Lompat ke isi

Verisimilitude: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29477888; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Verisimilitude''' (dari bahasa Latin ''veri similis'', yang berarti "menyerupai kebenaran"), atau '''kedekatan terhadap kebenaran''', adalah konsep dalam [[filsafat ilmu]] yang mengacu pada sejauh mana suatu teori, hipotesis, atau pernyataan mendekati kebenaran, meskipun tidak sepenuhnya benar. Konsep ini digunakan untuk menjelaskan bagaimana ilmu pengetahuan dapat mengalami kemajuan melalui pengembangan teori-teori yang semakin akurat dalam menggambarkan realitas, walaupun teori tersebut mungkin akhirnya digantikan oleh teori yang lebih baik.
'''Verisimilitude''' (dari bahasa Latin ''veri similis'', yang berarti "menyerupai kebenaran"), atau '''kedekatan terhadap kebenaran''', adalah konsep dalam [[filsafat ilmu]] yang mengacu pada sejauh mana suatu teori, hipotesis, atau pernyataan mendekati kebenaran, meskipun tidak sepenuhnya benar. Konsep ini digunakan untuk menjelaskan bagaimana ilmu pengetahuan dapat mengalami kemajuan melalui pengembangan teori-teori yang semakin akurat dalam menggambarkan realitas, walaupun teori tersebut mungkin akhirnya digantikan oleh teori yang lebih baik.<ref>[https://plato.stanford.edu/entries/truthlikeness/ Verisimilitude].</ref>


Konsep verisimilitude menjadi salah satu pembahasan penting dalam filsafat ilmu modern setelah diperkenalkan secara sistematis oleh filsuf [[Karl Popper]] pada dekade 1960-an. Popper berpendapat bahwa teori ilmiah tidak pernah dapat dibuktikan benar secara mutlak, tetapi dapat dibandingkan berdasarkan tingkat kedekatannya dengan kebenaran.
Konsep verisimilitude menjadi salah satu pembahasan penting dalam filsafat ilmu modern setelah diperkenalkan secara sistematis oleh filsuf [[Karl Popper]] pada dekade 1960-an. Popper berpendapat bahwa teori ilmiah tidak pernah dapat dibuktikan benar secara mutlak, tetapi dapat dibandingkan berdasarkan tingkat kedekatannya dengan kebenaran.<ref>Karl R. Popper. ''Conjectures and Refutations: The Growth of Scientific Knowledge''. Routledge. 1963. ISBN 9780415285940.</ref>


== Etimologi ==
== Etimologi ==
 
Istilah ''verisimilitude'' berasal dari bahasa Latin ''veri'' ("kebenaran") dan ''similis'' ("serupa" atau "mirip"). Dalam bahasa Inggris, istilah ini sering diterjemahkan sebagai ''truthlikeness'' atau ''truth approximation'', sedangkan dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai ''kedekatan terhadap kebenaran'' atau ''kemiripan terhadap kebenaran''.<ref>[https://www.britannica.com/topic/truthlikeness Truthlikeness].</ref>
Istilah ''verisimilitude'' berasal dari bahasa Latin ''veri'' ("kebenaran") dan ''similis'' ("serupa" atau "mirip"). Dalam bahasa Inggris, istilah ini sering diterjemahkan sebagai ''truthlikeness'' atau ''truth approximation'', sedangkan dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai ''kedekatan terhadap kebenaran'' atau ''kemiripan terhadap kebenaran''.


== Sejarah ==
== Sejarah ==
Walaupun gagasan mengenai pendekatan terhadap kebenaran telah dibahas sejak zaman filsafat Yunani Kuno, konsep modern mengenai verisimilitude berkembang terutama melalui karya Karl Popper. Menurut Popper, ilmu pengetahuan berkembang melalui proses dugaan (''conjectures'') dan penyangkalan (''refutations''). Ketika suatu teori berhasil menjelaskan lebih banyak fenomena dibanding teori sebelumnya dan bertahan dari berbagai pengujian empiris, teori tersebut dianggap memiliki tingkat verisimilitude yang lebih tinggi.<ref>Karl R. Popper. ''Objective Knowledge: An Evolutionary Approach''. Oxford University Press. 1972.</ref>


Walaupun gagasan mengenai pendekatan terhadap kebenaran telah dibahas sejak zaman filsafat Yunani Kuno, konsep modern mengenai verisimilitude berkembang terutama melalui karya Karl Popper. Menurut Popper, ilmu pengetahuan berkembang melalui proses dugaan (''conjectures'') dan penyangkalan (''refutations''). Ketika suatu teori berhasil menjelaskan lebih banyak fenomena dibanding teori sebelumnya dan bertahan dari berbagai pengujian empiris, teori tersebut dianggap memiliki tingkat verisimilitude yang lebih tinggi.
Setelah Popper, sejumlah filsuf seperti Pavel Tichý, David Miller, Theo Kuipers, dan Ilkka Niiniluoto mengembangkan berbagai pendekatan matematis maupun logis untuk mengukur tingkat kedekatan suatu teori terhadap kebenaran.<ref>[https://plato.stanford.edu/entries/truthlikeness/ Verisimilitude].</ref>
 
Setelah Popper, sejumlah filsuf seperti Pavel Tichý, David Miller, Theo Kuipers, dan Ilkka Niiniluoto mengembangkan berbagai pendekatan matematis maupun logis untuk mengukur tingkat kedekatan suatu teori terhadap kebenaran.


== Dalam filsafat ilmu ==
== Dalam filsafat ilmu ==
 
Verisimilitude digunakan untuk menjelaskan bagaimana teori ilmiah dapat dikatakan mengalami kemajuan tanpa harus dianggap benar secara absolut. Sebagai contoh, teori gravitasi [[Isaac Newton]] mampu menjelaskan berbagai fenomena fisika dengan sangat baik, tetapi kemudian diketahui tidak sepenuhnya akurat setelah munculnya [[teori relativitas umum]] karya [[Albert Einstein]]. Meskipun demikian, teori Newton tetap dianggap memiliki tingkat verisimilitude yang tinggi karena berhasil menggambarkan banyak aspek realitas secara tepat dalam berbagai kondisi.<ref>[https://www.britannica.com/topic/truthlikeness Truthlikeness].</ref>
Verisimilitude digunakan untuk menjelaskan bagaimana teori ilmiah dapat dikatakan mengalami kemajuan tanpa harus dianggap benar secara absolut. Sebagai contoh, teori gravitasi [[Isaac Newton]] mampu menjelaskan berbagai fenomena fisika dengan sangat baik, tetapi kemudian diketahui tidak sepenuhnya akurat setelah munculnya [[teori relativitas umum]] karya [[Albert Einstein]]. Meskipun demikian, teori Newton tetap dianggap memiliki tingkat verisimilitude yang tinggi karena berhasil menggambarkan banyak aspek realitas secara tepat dalam berbagai kondisi.


Konsep ini menjadi penting karena memungkinkan para filsuf menjelaskan kemajuan ilmu pengetahuan tanpa mengharuskan setiap teori lama dianggap sepenuhnya salah.
Konsep ini menjadi penting karena memungkinkan para filsuf menjelaskan kemajuan ilmu pengetahuan tanpa mengharuskan setiap teori lama dianggap sepenuhnya salah.


== Kritik ==
== Kritik ==
Konsep verisimilitude Popper mendapat kritik dari sejumlah filsuf. Pada tahun 1974, Pavel Tichý dan David Miller secara independen menunjukkan bahwa definisi formal Popper mengenai verisimilitude mengandung masalah logis sehingga tidak dapat digunakan sebagai ukuran yang konsisten terhadap kedekatan suatu teori dengan kebenaran.
Konsep verisimilitude Popper mendapat kritik dari sejumlah filsuf. Pada tahun 1974, Pavel Tichý dan David Miller secara independen menunjukkan bahwa definisi formal Popper mengenai verisimilitude mengandung masalah logis sehingga tidak dapat digunakan sebagai ukuran yang konsisten terhadap kedekatan suatu teori dengan kebenaran.


Sebagai tanggapan, berbagai definisi alternatif dikembangkan, termasuk pendekatan berbasis probabilitas, teori model, dan ukuran semantik yang mencoba memberikan landasan matematis yang lebih kuat bagi konsep tersebut.
Sebagai tanggapan, berbagai definisi alternatif dikembangkan, termasuk pendekatan berbasis probabilitas, teori model, dan ukuran semantik yang mencoba memberikan landasan matematis yang lebih kuat bagi konsep tersebut.<ref>[https://plato.stanford.edu/entries/truthlikeness/ Verisimilitude].</ref>


== Dalam sastra ==
== Dalam sastra ==
 
Di luar filsafat ilmu, istilah ''verisimilitude'' juga digunakan dalam [[sastra]], [[film]], dan [[teater]] untuk menggambarkan tingkat keterpercayaan atau kesan realistis suatu karya fiksi. Sebuah cerita tidak harus benar-benar nyata, tetapi harus cukup konsisten sehingga pembaca atau penonton menganggapnya masuk akal dalam konteks dunia yang dibangun oleh karya tersebut.<ref>[https://www.britannica.com/art/verisimilitude Verisimilitude].</ref>
Di luar filsafat ilmu, istilah ''verisimilitude'' juga digunakan dalam [[sastra]], [[film]], dan [[teater]] untuk menggambarkan tingkat keterpercayaan atau kesan realistis suatu karya fiksi. Sebuah cerita tidak harus benar-benar nyata, tetapi harus cukup konsisten sehingga pembaca atau penonton menganggapnya masuk akal dalam konteks dunia yang dibangun oleh karya tersebut.


Konsep ini banyak digunakan dalam kritik sastra untuk menilai kualitas pembangunan dunia (''world-building''), karakter, alur cerita, maupun dialog.
Konsep ini banyak digunakan dalam kritik sastra untuk menilai kualitas pembangunan dunia (''world-building''), karakter, alur cerita, maupun dialog.


== Lihat pula ==
== Lihat pula ==
* [[Karl Popper]]
* [[Karl Popper]]
* [[Filsafat ilmu]]
* [[Filsafat ilmu]]
Baris 41: Baris 35:


== Referensi ==
== Referensi ==
 
<references />
 


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Verisimilitude&oldid=29477888 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29477888 (2026-07-20T02:18:32Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Verisimilitude&oldid=29477888 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29477888 (2026-07-20T02:18:32Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 25 Agustus 2026 04.04

Verisimilitude (dari bahasa Latin veri similis, yang berarti "menyerupai kebenaran"), atau kedekatan terhadap kebenaran, adalah konsep dalam filsafat ilmu yang mengacu pada sejauh mana suatu teori, hipotesis, atau pernyataan mendekati kebenaran, meskipun tidak sepenuhnya benar. Konsep ini digunakan untuk menjelaskan bagaimana ilmu pengetahuan dapat mengalami kemajuan melalui pengembangan teori-teori yang semakin akurat dalam menggambarkan realitas, walaupun teori tersebut mungkin akhirnya digantikan oleh teori yang lebih baik.[1]

Konsep verisimilitude menjadi salah satu pembahasan penting dalam filsafat ilmu modern setelah diperkenalkan secara sistematis oleh filsuf Karl Popper pada dekade 1960-an. Popper berpendapat bahwa teori ilmiah tidak pernah dapat dibuktikan benar secara mutlak, tetapi dapat dibandingkan berdasarkan tingkat kedekatannya dengan kebenaran.[2]

Etimologi

Istilah verisimilitude berasal dari bahasa Latin veri ("kebenaran") dan similis ("serupa" atau "mirip"). Dalam bahasa Inggris, istilah ini sering diterjemahkan sebagai truthlikeness atau truth approximation, sedangkan dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai kedekatan terhadap kebenaran atau kemiripan terhadap kebenaran.[3]

Sejarah

Walaupun gagasan mengenai pendekatan terhadap kebenaran telah dibahas sejak zaman filsafat Yunani Kuno, konsep modern mengenai verisimilitude berkembang terutama melalui karya Karl Popper. Menurut Popper, ilmu pengetahuan berkembang melalui proses dugaan (conjectures) dan penyangkalan (refutations). Ketika suatu teori berhasil menjelaskan lebih banyak fenomena dibanding teori sebelumnya dan bertahan dari berbagai pengujian empiris, teori tersebut dianggap memiliki tingkat verisimilitude yang lebih tinggi.[4]

Setelah Popper, sejumlah filsuf seperti Pavel Tichý, David Miller, Theo Kuipers, dan Ilkka Niiniluoto mengembangkan berbagai pendekatan matematis maupun logis untuk mengukur tingkat kedekatan suatu teori terhadap kebenaran.[5]

Dalam filsafat ilmu

Verisimilitude digunakan untuk menjelaskan bagaimana teori ilmiah dapat dikatakan mengalami kemajuan tanpa harus dianggap benar secara absolut. Sebagai contoh, teori gravitasi Isaac Newton mampu menjelaskan berbagai fenomena fisika dengan sangat baik, tetapi kemudian diketahui tidak sepenuhnya akurat setelah munculnya teori relativitas umum karya Albert Einstein. Meskipun demikian, teori Newton tetap dianggap memiliki tingkat verisimilitude yang tinggi karena berhasil menggambarkan banyak aspek realitas secara tepat dalam berbagai kondisi.[6]

Konsep ini menjadi penting karena memungkinkan para filsuf menjelaskan kemajuan ilmu pengetahuan tanpa mengharuskan setiap teori lama dianggap sepenuhnya salah.

Kritik

Konsep verisimilitude Popper mendapat kritik dari sejumlah filsuf. Pada tahun 1974, Pavel Tichý dan David Miller secara independen menunjukkan bahwa definisi formal Popper mengenai verisimilitude mengandung masalah logis sehingga tidak dapat digunakan sebagai ukuran yang konsisten terhadap kedekatan suatu teori dengan kebenaran.

Sebagai tanggapan, berbagai definisi alternatif dikembangkan, termasuk pendekatan berbasis probabilitas, teori model, dan ukuran semantik yang mencoba memberikan landasan matematis yang lebih kuat bagi konsep tersebut.[7]

Dalam sastra

Di luar filsafat ilmu, istilah verisimilitude juga digunakan dalam sastra, film, dan teater untuk menggambarkan tingkat keterpercayaan atau kesan realistis suatu karya fiksi. Sebuah cerita tidak harus benar-benar nyata, tetapi harus cukup konsisten sehingga pembaca atau penonton menganggapnya masuk akal dalam konteks dunia yang dibangun oleh karya tersebut.[8]

Konsep ini banyak digunakan dalam kritik sastra untuk menilai kualitas pembangunan dunia (world-building), karakter, alur cerita, maupun dialog.

Lihat pula

Referensi

  1. Verisimilitude.
  2. Karl R. Popper. Conjectures and Refutations: The Growth of Scientific Knowledge. Routledge. 1963. ISBN 9780415285940.
  3. Truthlikeness.
  4. Karl R. Popper. Objective Knowledge: An Evolutionary Approach. Oxford University Press. 1972.
  5. Verisimilitude.
  6. Truthlikeness.
  7. Verisimilitude.
  8. Verisimilitude.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29477888 (2026-07-20T02:18:32Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.