Lompat ke isi

Triangulasi (pengukuran): Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 26502437; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Triangulasi (pengukuran)''' merupakan proses penentuan lokasi suatu titik dengan mengukur [[Sudut (geometri)|sudut]] yang terbentuk atas [[Sudut dalam dan luar|sudut dalam]] segitiga, berdasarkan data titik-titik tetap yang diketahui di kedua ujung segitiga yang disebut dengan titik kontrol. Menggunakan metode [[trigonometri]] dan data hasil [[Ilmu ukur wilayah|pengukuran]] panjang dari salah satu sisi segitiga tersebut, maka jarak lain dalam segitiga dapat diketahui menggunakan perhitungan.
[[File:Triangulation_Outhier_Bretagne.png|thumb|right|280px|Triangulation Outhier Bretagne]]


Triangulasi melibatkan penggunaan sistem segitiga tumpang tindih untuk mendapatkan data di seluruh area pemetaan, melalui pengukuran sudut dan sisi segitiga yang dilakukan, maka lokasi tepat dari titik-titik berurutan dapat diketahui menggunakan perhitungan trigonometri. Pemilihan dalam melakukan pengukuran sudut maupun pengukuran sisi dilakukan dengan menyesuaikan area pemetaan. Metode ini umum dilakukan untuk melakukan pengukuran pada area pengukuran yang luas jika dibandingkan dengan mengukur jarak ke titik secara langsung menggunakan metode trilaterasi.
'''Triangulasi (pengukuran)''' merupakan proses penentuan lokasi suatu titik dengan mengukur [[Sudut (geometri)|sudut]] yang terbentuk atas [[Sudut dalam dan luar|sudut dalam]] segitiga, berdasarkan data titik-titik tetap yang diketahui di kedua ujung segitiga yang disebut dengan titik kontrol. Menggunakan metode [[trigonometri]] dan data hasil [[Ilmu ukur wilayah|pengukuran]] panjang dari salah satu sisi segitiga tersebut, maka jarak lain dalam segitiga dapat diketahui menggunakan perhitungan.<ref>[https://www.icsm.gov.au/education/fundamentals-mapping/surveying-mapping/surveying-methods Surveying Methods Intergovernmental Committee on Surveying and Mapping]. ''www.icsm.gov.au''.</ref>
 
Triangulasi melibatkan penggunaan sistem segitiga tumpang tindih untuk mendapatkan data di seluruh area pemetaan, melalui pengukuran sudut dan sisi segitiga yang dilakukan, maka lokasi tepat dari titik-titik berurutan dapat diketahui menggunakan perhitungan trigonometri. Pemilihan dalam melakukan pengukuran sudut maupun pengukuran sisi dilakukan dengan menyesuaikan area pemetaan.<ref>[https://www.sciencedirect.com/topics/earth-and-planetary-sciences/triangulation Triangulation - an overview ScienceDirect Topics]. ''www.sciencedirect.com''.</ref> Metode ini umum dilakukan untuk melakukan pengukuran pada area pengukuran yang luas jika dibandingkan dengan mengukur jarak ke titik secara langsung menggunakan metode trilaterasi.


== Prinsip Triangulasi ==
== Prinsip Triangulasi ==
Baris 14: Baris 16:
# Sebagai pengecekan, diperlukan pengukuran panjang satu sisi segitiga terakhir yang diukur dan dibandingkan dengan hasil hitungan melalui prinsip triangulasi
# Sebagai pengecekan, diperlukan pengukuran panjang satu sisi segitiga terakhir yang diukur dan dibandingkan dengan hasil hitungan melalui prinsip triangulasi
# Dibutuhkan ''base'' tambahan yang diletakkan pada interval tertentu untuk meminimalkan akumulasi kesalahan panjang yang terjadi saat pengukuran
# Dibutuhkan ''base'' tambahan yang diletakkan pada interval tertentu untuk meminimalkan akumulasi kesalahan panjang yang terjadi saat pengukuran
# Pengamatan astronomis dilakukan di stasiun perantara untuk mengontrol kesalahan dalam [[azimut]]
# Pengamatan astronomis dilakukan di stasiun perantara untuk mengontrol kesalahan dalam [[azimut]]  
# Stasiun triangulasi disebut Stasiun Laplace
# Stasiun triangulasi disebut Stasiun Laplace<ref>[https://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:BUYUBkCG2hwJ:https://old.amu.ac.in/emp/studym/99992138.pdf+&cd=27&hl=en&ct=clnk&gl=id Introduction-Triangulation]. ''webcache.googleusercontent.com''.</ref>


== Referensi ==
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Triangulasi+%28pengukuran%29&oldid=26502437 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 26502437 (2024-11-07T15:56:40Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


== Sumber dan atribusi ==
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->
 
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Triangulasi+%28pengukuran%29&oldid=26502437 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 26502437 (2024-11-07T15:56:40Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.

Revisi terkini sejak 25 Agustus 2026 04.10

Triangulation Outhier Bretagne

Triangulasi (pengukuran) merupakan proses penentuan lokasi suatu titik dengan mengukur sudut yang terbentuk atas sudut dalam segitiga, berdasarkan data titik-titik tetap yang diketahui di kedua ujung segitiga yang disebut dengan titik kontrol. Menggunakan metode trigonometri dan data hasil pengukuran panjang dari salah satu sisi segitiga tersebut, maka jarak lain dalam segitiga dapat diketahui menggunakan perhitungan.[1]

Triangulasi melibatkan penggunaan sistem segitiga tumpang tindih untuk mendapatkan data di seluruh area pemetaan, melalui pengukuran sudut dan sisi segitiga yang dilakukan, maka lokasi tepat dari titik-titik berurutan dapat diketahui menggunakan perhitungan trigonometri. Pemilihan dalam melakukan pengukuran sudut maupun pengukuran sisi dilakukan dengan menyesuaikan area pemetaan.[2] Metode ini umum dilakukan untuk melakukan pengukuran pada area pengukuran yang luas jika dibandingkan dengan mengukur jarak ke titik secara langsung menggunakan metode trilaterasi.

Prinsip Triangulasi

Pengukuran menggunakan metode triangulasi memiliki prinsip dasar antara lain :

  1. Seluruh area survey harus dikonversi menjadi kerangka segitiga
  2. Jika panjang salah satu sisi segitiga dan bearing tiga sudut segitiga diukur dengan tepat, panjang dan arah dua sisi lainnya dapat diketahui
  3. Garis yang diukur secara langsung disebut sebagai baseline
  4. Hasil perhitungan antara dua garis akan digunakan sebagai baseline untuk dua segitiga yang saling berhubungan
  5. Sudut dari masing-masing segitiga disebut sebagai stasiun triangulasi
  6. Jaringan segitiga dapat diperluas untuk menghitung seluruh area pengukuran
  7. Sebagai pengecekan, diperlukan pengukuran panjang satu sisi segitiga terakhir yang diukur dan dibandingkan dengan hasil hitungan melalui prinsip triangulasi
  8. Dibutuhkan base tambahan yang diletakkan pada interval tertentu untuk meminimalkan akumulasi kesalahan panjang yang terjadi saat pengukuran
  9. Pengamatan astronomis dilakukan di stasiun perantara untuk mengontrol kesalahan dalam azimut
  10. Stasiun triangulasi disebut Stasiun Laplace[3]

Referensi

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 26502437 (2024-11-07T15:56:40Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.