Lompat ke isi

Psikologi Kognitif Penalaran: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29519886; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Psikologi penalaran''' (juga dikenal sebagai salah satu '''ilmu kognitif penalaran''') adalah studi tentang bagaimana orang bernalar, sering didefinisikan secara luas sebagai suatu proses penarikan kesimpulan untuk menginformasikan bagaimana orang memecahkan masalah dan mengambil keputusan. Ini tumpang tindih dengan [[psikologi]], [[filsafat]], [[linguistik]], [[ilmu kognitif]], [[kecerdasan buatan]], [[logika]], dan [[Peluang (matematika)|teori probabilitas]].
'''Psikologi penalaran''' (juga dikenal sebagai salah satu '''ilmu kognitif penalaran''') adalah studi tentang bagaimana orang bernalar, sering didefinisikan secara luas sebagai suatu proses penarikan kesimpulan untuk menginformasikan bagaimana orang memecahkan masalah dan mengambil keputusan.<ref>J. P. Leighton. [https://books.google.com/books?hl=en&lr=&id=o1Tn_nkUhYkC&oi=fnd&pg=PA3&dq=%22Defining+and+describing+reason%22&ots=2IMoo4LPgx&sig=e-nUVBv3U4MkVoymC71IZBU7dRo#v=onepage&q=%22Defining%20and%20describing%20reason%22&f=false The Nature of Reasoning]. Cambridge University Press. 2004. hlm. 5. ISBN 9780521009287.</ref> Ini tumpang tindih dengan [[psikologi]], [[filsafat]], [[linguistik]], [[ilmu kognitif]], [[kecerdasan buatan]], [[logika]], dan [[Peluang (matematika)|teori probabilitas]].<ref>Sabian Fleming. [https://www.google.co.id/books/edition/Cognitive_Psychology/WOTEDwAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=The+psychology+of+reasoning+(also+known+as+the+cognitive+science+of+reasoning)+is+the+study+of+how+people+reason,+often+broadly+defined+as+the+process+of+drawing+conclusions+to+inform+how+people+solve+problems+and+make+decisions&pg=PA236&printsec=frontcover Cognitive Psychology]. EDTECH. 2019. hlm. 236. ISBN 9781839474064.</ref>


Eksperimen psikologis tentang bagaimana manusia dan hewan lainnya bernalar telah dilakukan selama lebih dari 100 tahun. Sebuah pertanyaan abadi adalah apakah orang memiliki kapasitas untuk menjadi rasional atau tidak. Penelitian saat ini di bidang ini membahas berbagai pertanyaan tentang penalaran, rasionalitas, penilaian, [[kecerdasan]], hubungan antara [[emosi]] dan penalaran, dan perkembangan. Orang dewasa akan secara rutin memahami tindakan orang lain dengan menyimpulkan keadaan mental yang mendasari tindakan ini.
Eksperimen psikologis tentang bagaimana manusia dan hewan lainnya bernalar telah dilakukan selama lebih dari 100 tahun. Sebuah pertanyaan abadi adalah apakah orang memiliki kapasitas untuk menjadi rasional atau tidak. Penelitian saat ini di bidang ini membahas berbagai pertanyaan tentang penalaran, rasionalitas, penilaian, [[kecerdasan]], hubungan antara [[emosi]] dan penalaran, dan perkembangan.<ref>Schacter Daniel. [https://books.google.co.id/books?id=jqAcBQAAQBAJ&pg=PA116&lpg=PA116&dq=Psychological+experiments+on+how+humans+and+other+animals+reason+have+been+carried+out+for+over+100+years.&source=bl&ots=koqrm8MLNW&sig=ACfU3U1eIA7XWXopKve4hchlaNeNUCUCaw&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwj3nP-y_N_0AhX6zDgGHbOBC6sQ6AF6BAgoEAM#v=onepage&q=Psychological%20experiments%20on%20how%20humans%20and%20other%20animals%20reason%20have%20been%20carried%20out%20for%20over%20100%20years.&f=false Psychology: European Edition]. Palgrave Macmillan. 2015. hlm. 116. ISBN 9781137406743.</ref> Orang dewasa akan secara rutin memahami tindakan orang lain dengan menyimpulkan keadaan mental yang mendasari tindakan ini.<ref>Renee Baillargeon. [https://smartlib.umri.ac.id/assets/uploads/files/bdbd1-annurev-psych-010213-115033.pdf Psychological Reasoning in Infancy]. ''Psychology, Medicine. Annual review of psychology''. 2016. Vol. 67. hlm. 159. doi:10.1146/annurev-psych-010213-115033.</ref>


== Kondisional psikologi kognitif penalaran ==
== Kondisional psikologi kognitif penalaran ==
Salah satu bidang yang paling jelas di mana orang menggunakan penalaran adalah dengan kalimat dalam bahasa sehari-hari. Sebagian besar eksperimen deduksi telah dilakukan pada pemikiran hipotetis, khususnya, memeriksa bagaimana orang bernalar tentang kondisional, misalnya, Jika A maka B. Peserta eksperimen membuat inferensi [[modus ponens]], dengan kondisi indikatif Jika A maka B, dan diberikan premis A, mereka menyimpulkan B. Namun, mengingat kondisional indikatif dan premis minor untuk inferensi [[modus tollens]], bukan-B, sekitar setengah dari peserta dalam eksperimen menyimpulkan bukan-A dan sisanya menyimpulkan bahwa tidak ada yang mengikuti.
Salah satu bidang yang paling jelas di mana orang menggunakan penalaran adalah dengan kalimat dalam bahasa sehari-hari. Sebagian besar eksperimen deduksi telah dilakukan pada pemikiran hipotetis, khususnya, memeriksa bagaimana orang bernalar tentang kondisional, misalnya, Jika A maka B.<ref>Lance J. Rips. [http://lib.stikes-mw.id/wp-content/uploads/2020/06/The-Psychology-of-Proof_-Deductive-Reasoning-in-Human-Thinking-PDFDrive.com-.pdf The Psychology of Proof: Deductive Reasoning in Human Thinking]. MIT Press. 1994. hlm. 71. doi:10.7551/mitpress/5680.001.0001. ISBN 9780262282413.</ref> Peserta eksperimen membuat inferensi [[modus ponens]], dengan kondisi indikatif Jika A maka B, dan diberikan premis A, mereka menyimpulkan B.<ref>Fabrizio Cariani. [https://onlinelibrary.wiley.com/doi/epdf/10.1111/cogs.12336 Conditionals, Context, and the Suppression Effect]. ''Cognitive Science''. 2016. Vol. 41 (3). hlm. 540-541. doi:10.1111/cogs.12336.</ref> Namun, mengingat kondisional indikatif dan premis minor untuk inferensi [[modus tollens]], bukan-B, sekitar setengah dari peserta dalam eksperimen menyimpulkan bukan-A dan sisanya menyimpulkan bahwa tidak ada yang mengikuti.<ref>Sabian Fleming. [https://www.google.co.id/books/edition/Cognitive_Psychology/WOTEDwAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=The+psychology+of+reasoning+(also+known+as+the+cognitive+science+of+reasoning)+is+the+study+of+how+people+reason,+often+broadly+defined+as+the+process+of+drawing+conclusions+to+inform+how+people+solve+problems+and+make+decisions&pg=PA236&printsec=frontcover Cognitive Psychology]. EDTECH. 2019. hlm. 236. ISBN 9781839474064.</ref>


Kemudahan orang membuat kesimpulan bersyarat dipengaruhi oleh konteks, seperti yang ditunjukkan dalam tugas seleksi terkenal yang dikembangkan oleh [[Peter Wason]]. Peserta lebih mampu menguji suatu kondisi dalam konteks yang relevan secara ekologis, misalnya jika amplop disegel maka harus ada cap 50 sen di atasnya dibandingkan dengan yang berisi konten simbolis, misalnya jika hurufnya vokal maka nomornya adalah genap. Pengetahuan latar belakang juga dapat menyebabkan penekanan bahkan pada inferensi modus ponens sederhana. Peserta diberi syarat jika Lisa memiliki [[esai]] untuk ditulis maka dia terlambat belajar di perpustakaan dan premis Lisa memiliki esai untuk ditulis membuat inferensi [[modus ponens]] 'dia belajar terlambat di perpustakaan', tetapi kesimpulannya ditekan ketika mereka juga diberi syarat kedua jika perpustakaan tetap buka maka dia belajar terlambat di perpustakaan. Interpretasi dari efek supresi masih kontroversial
Kemudahan orang membuat kesimpulan bersyarat dipengaruhi oleh konteks, seperti yang ditunjukkan dalam tugas seleksi terkenal yang dikembangkan oleh [[Peter Wason]]. Peserta lebih mampu menguji suatu kondisi dalam konteks yang relevan secara ekologis, misalnya jika amplop disegel maka harus ada cap 50 sen di atasnya dibandingkan dengan yang berisi konten simbolis, misalnya jika hurufnya vokal maka nomornya adalah genap.<ref>J. St. B. T. Evans. [https://archive.org/details/humanreasoningps0000evan_l5y4/ Human Reasoning The Psychology of Deduction]. Lawrence Erlbaum Associates. 1993. hlm. 30. ISBN 9780863773143.</ref> Pengetahuan latar belakang juga dapat menyebabkan penekanan bahkan pada inferensi modus ponens sederhana.<ref>Ruth M. J. Byrne. [http://www.tara.tcd.ie/bitstream/handle/2262/86166/Byrne%2c%20RMJ%20%281989%29%20Suppressing%20valid%20inferences%20with%20conditionals.%20Cognition..pdf Suppressing valid inferences with conditionals]. ''Psychology, Medicine, Cognition''. 1989. Vol. 31 (1). hlm. 65. doi:10.1016/0010-0277(89)90018-8.</ref> Peserta diberi syarat jika Lisa memiliki [[esai]] untuk ditulis maka dia terlambat belajar di perpustakaan dan premis Lisa memiliki esai untuk ditulis membuat inferensi [[modus ponens]] 'dia belajar terlambat di perpustakaan', tetapi kesimpulannya ditekan ketika mereka juga diberi syarat kedua jika perpustakaan tetap buka maka dia belajar terlambat di perpustakaan. Interpretasi dari efek supresi masih kontroversial<ref>Jean-Francois Bonnefon. [https://jfbonnefon.github.io/publication/tar02/tar02.pdf The suppression of Modus Ponens as a case of pragmatic preconditional reasoning]. ''Thinking & Reasoning''. Februari 2002. Vol. 8 (1). hlm. 21–40. doi:10.1080/13546780143000134.</ref><ref>Ruth M.J. Byrne. [https://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.448.9150&rep=rep1&type=pdf Counterexamples and the Suppression of Inferences]. ''Journal of Memory and Language''. April 1999. Vol. 40 (3). hlm. 347–373. doi:10.1006/jmla.1998.2622.</ref>


Penyelidikan lain dari inferensi proposisional memeriksa bagaimana orang berpikir tentang alternatif disjungtif, misalnya: A atau B, dan bagaimana mereka bernalar tentang negasi, misalnya: A dan B tidak demikian. Banyak eksperimen telah dilakukan untuk menguji bagaimana orang membuat kesimpulan relasional termasuk perbandingan, misalnya: A lebih baik daripada B. Investigasi tersebut juga menyangkut kesimpulan spasial, misalnya: A di depan B dan inferensi temporal, mis A terjadi sebelum B. Fungsi umum lainnya termasuk [[silogisme kategorikal]] yang digunakan untuk memeriksa bagaimana orang bernalar tentang quantifiers seperti Seluruh atau Sebagian, misalnya: Sebagian dari A bukan B.
Penyelidikan lain dari inferensi proposisional memeriksa bagaimana orang berpikir tentang alternatif disjungtif, misalnya: A atau B, dan bagaimana mereka bernalar tentang negasi, misalnya: A dan B tidak demikian. Banyak eksperimen telah dilakukan untuk menguji bagaimana orang membuat kesimpulan relasional termasuk perbandingan, misalnya: A lebih baik daripada B. Investigasi tersebut juga menyangkut kesimpulan spasial, misalnya: A di depan B dan inferensi temporal, mis A terjadi sebelum B.<ref>St. B. T. Evans Jonathan. [http://www.modeltheory.org/papers/1999necc&prob.pdf Reasoning about necessity and possibility: A test of the mental model theory of deduction]. ''Journal of Experimental Psychology: Learning, Memory, and Cognition''. 1999. Vol. 25 (6). hlm. 1497. doi:10.1037/0278-7393.25.6.1495.</ref> Fungsi umum lainnya termasuk [[silogisme kategorikal]] yang digunakan untuk memeriksa bagaimana orang bernalar tentang quantifiers seperti Seluruh atau Sebagian, misalnya: Sebagian dari A bukan B.<ref>Maxwell J Roberts. [https://link.springer.com/content/pdf/10.3758/BF03192727.pdf Expanding the universe of categorical syllogisms: A challenge for reasoning researchers]. ''Behavior Research Methods''. 2005. Vol. 37 (4). hlm. 560. doi:10.3758/BF03192727.</ref><ref>[https://www.britannica.com/topic/syllogistic Syllogistic Definition, History, & Facts]. ''Encyclopedia Britannica''.</ref>


== Teori psikologi kognitif penalaran ==
== Teori psikologi kognitif penalaran ==
Ada beberapa teori alternatif tentang proses kognitif yang menjadi dasar penalaran psikologi manusia. Sudut pandang bahwa orang mengandalkan logika mental yang terdiri dari aturan inferensi formal (abstrak atau [[sintaksis]]) yang serupa dengan yang dikembangkan oleh ahli logika dalam [[kalkulus proposisional]]. Pandangan lain adalah psikolog yang menganjurkan pendekatan khusus seseorang telah menemukan diri mereka dalam situasi yang tidak terduga. Pandangan ketiga adalah bahwa orang mengandalkan model mental, yaitu representasi mental yang sesuai dengan kemungkinan yang dibayangkan. Pandangan keempat adalah bahwa orang menghitung probabilitas.
Ada beberapa teori alternatif tentang proses kognitif yang menjadi dasar penalaran psikologi manusia.<ref>R. Byrne. [http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.370.4668&rep=rep1&type=pdf ‘If’ and the problems of conditional reasoning]. ''Psychology, Medicine''. 2009. Vol. 13 (7). hlm. 282. doi:10.1016/j.tics.2009.04.003.</ref> Sudut pandang bahwa orang mengandalkan logika mental yang terdiri dari aturan inferensi formal (abstrak atau [[sintaksis]]) yang serupa dengan yang dikembangkan oleh ahli logika dalam [[kalkulus proposisional]].<ref>Internet Encyclopedia of Philosophy. [https://iep.utm.edu/prop-log/ Propositional Logic]. ''iep.utm.edu''.</ref> Pandangan lain adalah psikolog yang menganjurkan pendekatan khusus seseorang telah menemukan diri mereka dalam situasi yang tidak terduga.<ref>John Tooby. [https://www.google.co.id/books/edition/Mapping_the_Mind/n1tqi8Tux-kC?hl=id&gbpv=1&dq=4+Origins+of+domain+specificity:+The+evolution+of+functional&pg=PA85&printsec=frontcover 4 - Origins of domain specificity: The evolution of functional organization]. Cambridge University Press. 1994. hlm. 85. ISBN 9780521429931.</ref> Pandangan ketiga adalah bahwa orang mengandalkan model mental, yaitu representasi mental yang sesuai dengan kemungkinan yang dibayangkan.<ref>P. N. Johnson-Laird. [http://www.sfu.ca/~jeffpell/Cogs300/J-LByrneConditionals.pdf Conditionals: A Theory of Meaning, Pragmatics, and Inference]. ''Psychological Review''. 2002. Vol. 109 (4). hlm. 674. doi:10.1037/0033-295X.109.4.646.</ref> Pandangan keempat adalah bahwa orang menghitung probabilitas.<ref>Mike Oaksford. [https://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.383.1077&rep=rep1&type=pdf The probabilistic approach to human reasoning]. ''Trends in Cognitive Sciences''. August 2001. Vol. 5 (8). hlm. 349–357. doi:10.1016/s1364-6613(00)01699-5.</ref><ref>Mike Oaksford. [http://matt.colorado.edu/teaching/highcog/readings/oc9.pdf Précis of Bayesian Rationality: The Probabilistic Approach to Human Reasoning]. ''Behavioral and Brain Sciences''. Cambridge University Press. 2009. Vol. 32 (1). hlm. 69. doi:10.1017/S0140525X09000284.</ref>


== Lihat pula ==
== Lihat pula ==
* [[Penalaran]]
* [[Penalaran]]
* [[Psikologi]]
* [[Psikologi]]
Baris 20: Baris 19:


== Referensi ==
== Referensi ==
 
<references />
 


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Psikologi+Kognitif+Penalaran&oldid=29519886 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29519886 (2026-08-03T13:01:16Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Psikologi+Kognitif+Penalaran&oldid=29519886 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29519886 (2026-08-03T13:01:16Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 25 Agustus 2026 09.03

Psikologi penalaran (juga dikenal sebagai salah satu ilmu kognitif penalaran) adalah studi tentang bagaimana orang bernalar, sering didefinisikan secara luas sebagai suatu proses penarikan kesimpulan untuk menginformasikan bagaimana orang memecahkan masalah dan mengambil keputusan.[1] Ini tumpang tindih dengan psikologi, filsafat, linguistik, ilmu kognitif, kecerdasan buatan, logika, dan teori probabilitas.[2]

Eksperimen psikologis tentang bagaimana manusia dan hewan lainnya bernalar telah dilakukan selama lebih dari 100 tahun. Sebuah pertanyaan abadi adalah apakah orang memiliki kapasitas untuk menjadi rasional atau tidak. Penelitian saat ini di bidang ini membahas berbagai pertanyaan tentang penalaran, rasionalitas, penilaian, kecerdasan, hubungan antara emosi dan penalaran, dan perkembangan.[3] Orang dewasa akan secara rutin memahami tindakan orang lain dengan menyimpulkan keadaan mental yang mendasari tindakan ini.[4]

Kondisional psikologi kognitif penalaran

Salah satu bidang yang paling jelas di mana orang menggunakan penalaran adalah dengan kalimat dalam bahasa sehari-hari. Sebagian besar eksperimen deduksi telah dilakukan pada pemikiran hipotetis, khususnya, memeriksa bagaimana orang bernalar tentang kondisional, misalnya, Jika A maka B.[5] Peserta eksperimen membuat inferensi modus ponens, dengan kondisi indikatif Jika A maka B, dan diberikan premis A, mereka menyimpulkan B.[6] Namun, mengingat kondisional indikatif dan premis minor untuk inferensi modus tollens, bukan-B, sekitar setengah dari peserta dalam eksperimen menyimpulkan bukan-A dan sisanya menyimpulkan bahwa tidak ada yang mengikuti.[7]

Kemudahan orang membuat kesimpulan bersyarat dipengaruhi oleh konteks, seperti yang ditunjukkan dalam tugas seleksi terkenal yang dikembangkan oleh Peter Wason. Peserta lebih mampu menguji suatu kondisi dalam konteks yang relevan secara ekologis, misalnya jika amplop disegel maka harus ada cap 50 sen di atasnya dibandingkan dengan yang berisi konten simbolis, misalnya jika hurufnya vokal maka nomornya adalah genap.[8] Pengetahuan latar belakang juga dapat menyebabkan penekanan bahkan pada inferensi modus ponens sederhana.[9] Peserta diberi syarat jika Lisa memiliki esai untuk ditulis maka dia terlambat belajar di perpustakaan dan premis Lisa memiliki esai untuk ditulis membuat inferensi modus ponens 'dia belajar terlambat di perpustakaan', tetapi kesimpulannya ditekan ketika mereka juga diberi syarat kedua jika perpustakaan tetap buka maka dia belajar terlambat di perpustakaan. Interpretasi dari efek supresi masih kontroversial[10][11]

Penyelidikan lain dari inferensi proposisional memeriksa bagaimana orang berpikir tentang alternatif disjungtif, misalnya: A atau B, dan bagaimana mereka bernalar tentang negasi, misalnya: A dan B tidak demikian. Banyak eksperimen telah dilakukan untuk menguji bagaimana orang membuat kesimpulan relasional termasuk perbandingan, misalnya: A lebih baik daripada B. Investigasi tersebut juga menyangkut kesimpulan spasial, misalnya: A di depan B dan inferensi temporal, mis A terjadi sebelum B.[12] Fungsi umum lainnya termasuk silogisme kategorikal yang digunakan untuk memeriksa bagaimana orang bernalar tentang quantifiers seperti Seluruh atau Sebagian, misalnya: Sebagian dari A bukan B.[13][14]

Teori psikologi kognitif penalaran

Ada beberapa teori alternatif tentang proses kognitif yang menjadi dasar penalaran psikologi manusia.[15] Sudut pandang bahwa orang mengandalkan logika mental yang terdiri dari aturan inferensi formal (abstrak atau sintaksis) yang serupa dengan yang dikembangkan oleh ahli logika dalam kalkulus proposisional.[16] Pandangan lain adalah psikolog yang menganjurkan pendekatan khusus seseorang telah menemukan diri mereka dalam situasi yang tidak terduga.[17] Pandangan ketiga adalah bahwa orang mengandalkan model mental, yaitu representasi mental yang sesuai dengan kemungkinan yang dibayangkan.[18] Pandangan keempat adalah bahwa orang menghitung probabilitas.[19][20]

Lihat pula

Referensi

  1. J. P. Leighton. The Nature of Reasoning. Cambridge University Press. 2004. hlm. 5. ISBN 9780521009287.
  2. Sabian Fleming. Cognitive Psychology. EDTECH. 2019. hlm. 236. ISBN 9781839474064.
  3. Schacter Daniel. Psychology: European Edition. Palgrave Macmillan. 2015. hlm. 116. ISBN 9781137406743.
  4. Renee Baillargeon. Psychological Reasoning in Infancy. Psychology, Medicine. Annual review of psychology. 2016. Vol. 67. hlm. 159. doi:10.1146/annurev-psych-010213-115033.
  5. Lance J. Rips. The Psychology of Proof: Deductive Reasoning in Human Thinking. MIT Press. 1994. hlm. 71. doi:10.7551/mitpress/5680.001.0001. ISBN 9780262282413.
  6. Fabrizio Cariani. Conditionals, Context, and the Suppression Effect. Cognitive Science. 2016. Vol. 41 (3). hlm. 540-541. doi:10.1111/cogs.12336.
  7. Sabian Fleming. Cognitive Psychology. EDTECH. 2019. hlm. 236. ISBN 9781839474064.
  8. J. St. B. T. Evans. Human Reasoning The Psychology of Deduction. Lawrence Erlbaum Associates. 1993. hlm. 30. ISBN 9780863773143.
  9. Ruth M. J. Byrne. Suppressing valid inferences with conditionals. Psychology, Medicine, Cognition. 1989. Vol. 31 (1). hlm. 65. doi:10.1016/0010-0277(89)90018-8.
  10. Jean-Francois Bonnefon. The suppression of Modus Ponens as a case of pragmatic preconditional reasoning. Thinking & Reasoning. Februari 2002. Vol. 8 (1). hlm. 21–40. doi:10.1080/13546780143000134.
  11. Ruth M.J. Byrne. Counterexamples and the Suppression of Inferences. Journal of Memory and Language. April 1999. Vol. 40 (3). hlm. 347–373. doi:10.1006/jmla.1998.2622.
  12. St. B. T. Evans Jonathan. Reasoning about necessity and possibility: A test of the mental model theory of deduction. Journal of Experimental Psychology: Learning, Memory, and Cognition. 1999. Vol. 25 (6). hlm. 1497. doi:10.1037/0278-7393.25.6.1495.
  13. Maxwell J Roberts. Expanding the universe of categorical syllogisms: A challenge for reasoning researchers. Behavior Research Methods. 2005. Vol. 37 (4). hlm. 560. doi:10.3758/BF03192727.
  14. Syllogistic Definition, History, & Facts. Encyclopedia Britannica.
  15. R. Byrne. ‘If’ and the problems of conditional reasoning. Psychology, Medicine. 2009. Vol. 13 (7). hlm. 282. doi:10.1016/j.tics.2009.04.003.
  16. Internet Encyclopedia of Philosophy. Propositional Logic. iep.utm.edu.
  17. John Tooby. 4 - Origins of domain specificity: The evolution of functional organization. Cambridge University Press. 1994. hlm. 85. ISBN 9780521429931.
  18. P. N. Johnson-Laird. Conditionals: A Theory of Meaning, Pragmatics, and Inference. Psychological Review. 2002. Vol. 109 (4). hlm. 674. doi:10.1037/0033-295X.109.4.646.
  19. Mike Oaksford. The probabilistic approach to human reasoning. Trends in Cognitive Sciences. August 2001. Vol. 5 (8). hlm. 349–357. doi:10.1016/s1364-6613(00)01699-5.
  20. Mike Oaksford. Précis of Bayesian Rationality: The Probabilistic Approach to Human Reasoning. Behavioral and Brain Sciences. Cambridge University Press. 2009. Vol. 32 (1). hlm. 69. doi:10.1017/S0140525X09000284.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29519886 (2026-08-03T13:01:16Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.