Lompat ke isi

Titik lebur

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 26 Agustus 2026 04.03 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Titik lebur adalah suhu di mana zat tersebut berubah wujud dari padat menjadi cair. Pada titik lebur, fase padat dan cair berada dalam kesetimbangan. Titik lebur suatu zat bergantung pada tekanan dan biasanya ditentukan pada tekanan standar seperti 1 atmosfer atau 100 kPa.

Jika perubahan sebaliknya dari cair menjadi padat, ini disebut sebagai titik beku atau titik kristalisasi. Karena kemampuan zat untuk mendingin sangat lambat, titik beku dapat dengan mudah tampak lebih rendah dari nilai sebenarnya. Penentuan titik beku pada suatu zat dilakukan dengan mengamati proses peleburan bukan pembekuan, sehingga yang diukur adalah pengukuran titik lebur."[1]

Contoh

Untuk sebagian besar zat, titik lebur dan beku kira-kira sama. Misalnya, titik lebur dan titik beku merkuri adalah .[2] Akan tetapi, zat tertentu memiliki suhu transisi padat-cair yang berbeda. Contohnya, agar melebur pada dan memadat pada ; ketergantungan arah ini dikenal sebagai histeresis. Titik lebur es pada tekanan 1 atmosfer sangat mendekati[3] ; ini juga dikenal sebagai titik es. Dengan adanya zat penginiti, titik beku air tidak selalu sama dengan titik leburnya. Tanpa penginiti, air dapat berada sebagai cairan [[ Temperatur dan tekanan standar|superdingin]] hingga sebelum membeku.[4]

Logam dengan titik lebur tertinggi adalah tungsten, yaitu ;[5] sifat ini membuat tungsten sangat baik digunakan sebagai filamen pada lampu pijar. Karbon yang sering disebut tidak melebur pada tekanan ambien tetapi menyublim pada sekitar ; fase cair hanya ada di atas tekanan dan perkiraan suhu (lihat diagram fase karbon). Hafnium karbonitrida (HfCN) adalah senyawa refraktori dengan titik lebur tertinggi yang diketahui dari semua zat hingga saat ini dan satu-satunya yang dikonfirmasi memiliki titik lebur di atas pada tekanan ambien. Simulasi komputer mekanika kuantum memprediksi bahwa paduan ini (HfN0,38C0,51) memiliki titik lebur sekitar 4.400 K.[6] Prediksi ini kemudian dikonfirmasi oleh eksperimen, meskipun pengukuran pasti titik leburnya masih belum dikonfirmasi.[7] Di sisi lain skala, helium tidak membeku sama sekali pada tekanan normal bahkan pada suhu yang mendekati nol mutlak; diperlukan tekanan lebih dari dua puluh kali tekanan atmosfer normal.

Daftar bahan kimia umum
Bahan Kimia Massa jenis Lebur [8] Didih
Air @TTS 1
Timah patri (Pb60Sn40)
Mentega kakao -
Parafin 0.9
Hidrogen 0.00008988 20,28
Helium 0.0001785 4,22
Berilium 1.85 2.742
Karbon 2.267 [9] 4.000[10]
Nitrogen 0.0012506 77,36
Oksigen 0.001429 90,20
Natrium 0.971 1.156
Magnesium 1.738 1.363
Aluminium 2.698 2.792
Belerang 2.067 717,87
Klorin 0.003214 239,11
Kalium 0.862 1.032
Titanium 4.54 3.560
Besi 7.874 3.134
Nikel 8.912 3.186
Tembaga 8.96 1.357,77 2.835
Seng 7.134 1.180
Galium 5.907 2.673
Perak 10.501 1.234,93 2.435
Kadmium 8.69 1.040
Indium 7.31 2.345
Iodin 4.93 457,4
Tantalum 16.654 3.290 5.731
Tungsten 19.25 3.695 5.828
Platinum 21.46 2.041,4 4.098
Emas 19.282 1.337,33 3.129
Raksa 13.5336 629,88
Timbal 11.342 2.022
Bismut 9.807 1.837

Catatan

Catatan:

  • TTS adalah singkatan dari Temperatur dan tekanan standar
  • Tanda koma (,) digunakan sebagai pemisah desimal, sesuai konvensi dalam bahasa Indonesia. Tanda titik (.) digunakan sebagai pemisah ribuan.

Titik lebur elemen

Pranala luar

Referensi

  1. J. A. Ramsay. A New Method of Freezing-Point Determination for Small Quantities. Journal of Experimental Biology. 1 May 1949. Vol. 26 (1). hlm. 57–64. doi:10.1242/jeb.26.1.57.
  2. Haynes, p. 4.122.
  3. Titik lebur air murni telah diukur sebesar 0,002519 ± 0,000002 °C, lihat Feistel, R. A New Equation of State for H 2 O Ice Ih. Journal of Physical and Chemical Reference Data. 2006. Vol. 35 (2). hlm. 1021–1047. doi:10.1063/1.2183324.
  4. Loni Kringle. Reversible structural transformations in supercooled liquid water from 135 to 245 K. Science. 2020-09-18. Vol. 369 (6510). hlm. 1490–1492. doi:10.1126/science.abb7542.
  5. Haynes, p. 4.123.
  6. Hong, Q.-J. Prediction of the material with highest known melting point from ab initio molecular dynamics calculations. Phys. Rev. B. 2015. Vol. 92 (2). hlm. 020104(R). doi:10.1103/PhysRevB.92.020104.
  7. V.S. Buinevich. Fabrication of ultra-high-temperature nonstoichiometric hafnium carbonitride via combustion synthesis and spark plasma sintering. Ceramics International. Maret 2020. Vol. 46 (10). hlm. 16068–16073. doi:10.1016/j.ceramint.2020.03.158.
  8. S. W. Holman. Melting Points of Aluminum, Silver, Gold, Copper, and Platinum. Proceedings of the American Academy of Arts and Sciences. 1 Januari 1895. Vol. 31. hlm. 218–233. doi:10.2307/20020628.
  9. Carbon. rsc.org.
  10. Carbon. rsc.org.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29012391 (2026-03-05T21:57:20Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.