Apilan dan kota mara

Apilan dan kota mara adalah dua istilah kelautan melayu yang merujuk pada struktur pada kapal tempat meriam dipasang. Istilah ini digunakan terutama pada perahu dan kapal Melayu.
Apilan
Apilan (atau ampilan)[1] adalah perisai senjata (gunshield) kayu yang ditemukan di perahu melayu di mana meriam ditempatkan. Ia memiliki lubang untuk menempatkan meriam panjang, dan kadang-kadang meriam putar dapat ditempatkan di atas apilan. Apilan tidak permanen, ia dapat dirakit, dibongkar, dan dipindahkan.[2] Awak perahu melayu mengoperasikan meriam panjang di belakang sebuah apilan. Apilan biasanya terletak di haluan perahu.[3] Perisai senjata ini hanya dipasang saat kapal beraksi. Sunting apilan adalah nama yang diberikan kepada dua lela atau meriam ringan yang berdiri di atas perisai senjata dari sebuah meriam berat.[4]
Etimologi
Apilan adalah kata yang melayu yang sebenarnya, tidak diturunkan dari kata apa pun. Ia juga merupakan kata yang berdiri sendiri, karena fakta bahwa suku katanya adalah api-lan bukan apil-an.[5]
Kota mara
Kota mara adalah tembok pertahanan atau casement perahu melayu. Fungsinya untuk melindungi penembak. Berlawanan dengan apilan, kota mara tidak dapat dipindahkan.[6] Ia adalah dinding permanen baterai meriam di kapal perompak Melayu. Istilah saga kota mara mengacu pada alat khusus yang menjaga perisai senjata (apilan) di posisinya. Kata benteng juga digunakan untuk dinding pertahanan permanen ini. Ambong-ambong adalah balok-balok kayu yang membentuk bagian dari kerangka baterai dalam perahu perompak Melayu. Blok-blok ini menyokong pangkal dari benteng.[7] Kota mara sudah ada setidaknya sejak abad ke-8 Masehi, ditunjukkan pada relief kapal Borobudur.[8]
Etimologi
Kata kotta berasal dari kata Melayu kota yang pada gilirannya berasal dari kata Sanskerta कोट्ट (kota) yang berarti benteng, perkubuan, kastil, rumah yang dibentengi, pabrik, kota, atau tempat yang dikelilingi oleh tembok.[9] Kata mara mungkin berasal dari kata melayu yang berarti "tampil ke hadapan", "maju", "datang",[10] "pindah ke depan", dan "lanjutan".[11] Dengan demikian dapat diartikan sebagai "tembok pertahanan sebelum sebuah meriam" atau "dinding pertahanan di depan". Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kota mara berarti (1) Dinding di atas kapal untuk melindungi orang yang memasang meriam (2) Teras atau dinding di atas sebuah benteng tempat meriam.[12] Menurut H. Warington Smyth, kota mara berarti sekat dek melintang di haluan dan buritan kapal.[13] Benteng itu sendiri berarti bangunan tempat berlindung atau bertahan, dinding untuk menahan serangan, sesuatu yang dipakai untuk memperkuat atau mempertahankan kedudukan,[14] atau baterai.[15]
Contoh pada catatan sejarah
Residen Singapura John Crawfurd mencatat perompakan Melayu dekat perairan Singapura. Kapal-kapal bajak laut Melayu pada waktu itu memiliki panjang 40–50 kaki (12–15 m) dengan lebar 15-kaki (4,6 m). Geladaknya terbuat dari kayu nibong yang terbelah. Kapal bajak laut yang lebih kecil memasang benteng tebal [apilan] saat bertempur, sementara yang lebih besar seperti yang dimiliki orang-orang Lanun memiliki tepian bambu yang menjorok tergantung di atas bibir kapal mereka, dengan tembok pertahanan [kota mara] dari anyaman rotan sekitar 3 kaki (1 meter) tingginya. Krunya mungkin terdiri dari 20–30 orang, ditambah dengan pendayung dari budak yang ditangkap. Kapal kecil akan memiliki sembilan dayung per sisi; yang lebih besar bertingkat dua, dengan pendayung atas yang duduk di proyeksi dinding tersembunyi di balik jeruji rotan. Persenjataan bajak laut ini termasuk benteng di dekat haluan, dengan meriam besi atau kuningan 4 pon, dan benteng lainnya di buritan, umumnya dilengkapi dengan dua meriam putar. Mereka juga mungkin memiliki empat atau lima meriam putar kuningan, atau rantaka, di setiap sisi. Mereka memiliki perisai bambu, dan dipersenjatai dengan tombak, keris, senapan lontak dan senjata api lain yang bisa mereka peroleh.[16]
Deskripsi H. H. Frese dari kapal pribadi Sultan Riau dari tahun 1883 berbunyi:[17]
Letnan T.J. Newbold mencatat tentang perahu bajak laut melayu:[18]
Lihat juga
Referensi
- ↑ John Crawfurd. A Descriptive Dictionary of the Indian Islands and Adjacent Countries. Bradbury and Evans. 1856.
- ↑ Richard James Wilkinson. An Abridged Malay-English Dictionary (Romanised). F.M.S Government Press. 1908.
- ↑ T.J. Newbold. Note on the States of Perak, Srimenanti, and other States in the Malay Peninsula. Journal of the Asiatic Society of Bengal. 1836. Vol. 5.
- ↑ Richard James Wilkinson. A Malay-English dictionary. Kelly & Walsh, limited. 1901.
- ↑ Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. PT Gramedia Pustaka Utama. 2008.
- ↑ Richard James Wilkinson. An Abridged Malay-English Dictionary (Romanised). F.M.S Government Press. 1908.
- ↑ Richard James Wilkinson. A Malay-English dictionary. Kelly & Walsh, limited. 1901.
- ↑ Horst Liebner. 2016 Gambar Dan Tabel Perahu MSI short1.pdf.
- ↑ James T. Siegel. Southeast Asia over Three Generations: Essays Presented to Benedict R. O'G. Anderson. Cornell University Press. 2018. hlm. 94. ISBN 9781501718946.
- ↑ Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. PT Gramedia Pustaka Utama. 2008.
- ↑ MARA - Definition and synonyms of mara in the Malay dictionary. educalingo.com.
- ↑ Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. PT Gramedia Pustaka Utama. 2008.
- ↑ H. Warington Smyth. Boats and Boat Building in the Malay Peninsula. Journal of the Society of Arts. May 16, 1902. Vol. 50. hlm. 570-588.
- ↑ Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. PT Gramedia Pustaka Utama. 2008.
- ↑ Richard James Wilkinson. A Malay-English dictionary. Kelly & Walsh, limited. 1901.
- ↑ Malcolm H. Murfett. Between 2 Oceans (2nd Edn): A Military History of Singapore from 1275 to 1971. Marshall Cavendish International Asia Pte Ltd. 2011.
- ↑ H. H. Frese. (1956). Small Craft in the Rijksmuseum voor Volkenkunde, Leiden. The Mariner's Mirror. 42 : 2, 101-112.
- ↑ T.J. Newbold. Note on the States of Perak, Srimenanti, and other States in the Malay Peninsula. Journal of the Asiatic Society of Bengal. 1836. Vol. 5.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29220542 (2026-05-12T16:22:58Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.