Lompat ke isi

Selenol

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 29 Agustus 2026 08.58 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Struktur selenol generik

Selenol adalah senyawa organik yang mengandung gugus fungsi dengan konektivitas . Selenol terkadang juga disebut selenomerkaptan dan selenotiol. Selenol adalah salah satu golongan utama senyawa organoselenium.[1] Senyawa selenol yang terkenal adalah asam amino selenosisteina.

Struktur dan sifat

Selenol secara struktural mirip dengan tiol, tetapi ikatan sekitar 8% lebih panjang pada 196 pm. Sudut mendekati 90°. Ikatan tersebut melibatkan orbital p yang hampir murni pada Se, sehingga sudutnya mendekati 90 derajat. Energi ikatan lebih lemah daripada ikatan , sehingga selenol lebih mudah teroksidasi dan akan berfungsi sebagai donor atom H. Ikatan lebih lemah daripada ikatan sebagaimana tercermin dalam energi disosiasi ikatan (bond dissociation energy, BDE)-nya. Untuk Benzenaselenol, BDE-nya adalah 326 kJ/mol, sedangkan untuk Tiofenol, BDE-nya adalah 368 kJ/mol.[2]

Selenol adalah asam yang sekitar 1000 kali lebih kuat daripada tiol: pKa Metanaselenol adalah 5,2 vs 8,3 untuk Metanatiol. Deprotonasi akan menghasilkan anion selenolat, , yang sebagian besar contohnya sangat nukleofilik dan cepat teroksidasi oleh udara.[3]

Titik didih selenol cenderung sedikit lebih tinggi daripada tiol. Perbedaan ini dapat dikaitkan dengan meningkatnya ikatan van der Waals menjadi lebih kuat untuk atom yang lebih besar. Selenol yang mudah menguap memiliki bau yang sangat menyengat.

Kegunaan dan keterjadian

Selenol memiliki sedikit kegunaan komersial, karena dibatasi oleh toksisitas selenium serta sensitivitas ikatan . Basa konjugatnya, selenolat, juga memiliki kegunaan terbatas dalam sintesis organik.

Peran biokimia

Selenol memiliki peran penting dalam proses biologis tertentu. Tiga enzim yang ditemukan pada mamalia mengandung selenol di tempat aktifnya: glutationa peroksidase, iodotironina deiodinase, dan tioredoksin reduktase. Selenol dalam protein ini merupakan bagian dari asam amino esensial selenosisteina.[4] Selenol berfungsi sebagai reduktor untuk menghasilkan turunan asam selenenat (), yang selanjutnya direduksi ulang oleh enzim yang mengandung tiol. Metanaselenol (umumnya disebut "metilselenol") (), yang dapat diproduksi secara in vitro melalui inkubasi selenometionina dengan enzim metionina gama-liase (METase) bakteri, melalui metilasi biologis ion selenida, atau secara in vivo melalui reduksi asam metanaseleninat (), telah digunakan untuk menjelaskan aktivitas antikanker dari senyawa organoselenium tertentu.[5][6][7] Prekursor metanaselenol sedang diselidiki secara aktif dalam pencegahan dan terapi kanker. Dalam penelitian ini, metanaselenol ditemukan lebih aktif secara biologis daripada etanaselenol () atau 2-propanaselenol ().[8]

Pembuatan

Selenol biasanya dibuat melalui reaksi reagen organolitium atau reagen Grignard dengan selenium elemental.[9] Misalnya, benzenaselenol dihasilkan melalui reaksi fenilmagnesium bromida dengan selenium yang diikuti oleh asidifikasi:[10]

Rute preparatif lain untuk selenol melibatkan alkilasi selenourea, diikuti oleh hidrolisis.

Selenol sering kali dihasilkan melalui reduksi diselenida yang diikuti oleh protonasi selenolat yang dihasilkan:

Dimetil diselenida dapat dengan mudah direduksi menjadi metanaselenol di dalam sel.[11]

Reaksi

Selenol mudah teroksidasi menjadi diselenida, yaitu senyawa yang mengandung ikatan . Misalnya, pereaksian benzenaselenol dengan bromin akan menghasilkan difenil diselenida.

Dalam keadaan basa, selenol mudah dialkilasi untuk menghasilkan selenida. Hubungan ini diilustrasikan melalui metilasi metanaselenol untuk menghasilkan dimetil selenida.

Keamanan

Senyawa organoselenium (atau senyawa selenium apa pun) merupakan racun kumulatif, meskipun selenium dalam jumlah kecil diperlukan untuk kesehatan.[12]

Lihat pula

Referensi

  1. Damiano Tanini. Synthesis and Applications of Organic Selenols. Advanced Synthesis & Catalysis. 2021. Vol. 363 (24). hlm. 5360–5385. doi:10.1002/adsc.202101147.
  2. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  3. Selenium in Chemistry and Biochemistry in Comparison to Sulfur. Biological Chemistry. 2007. Vol. 388 (10). hlm. 997–1006. doi:10.1515/BC.2007.138.
  4. Selenium in Chemistry and Biochemistry in Comparison to Sulfur. Biological Chemistry. 2007. Vol. 388 (10). hlm. 997–1006. doi:10.1515/BC.2007.138.
  5. Methylselenol, a Selenium Metabolite, Plays Common and Different Roles in Cancerous Colon HCT116 Cell and Noncancerous NCM460 Colon Cell Proliferation. Nutrition and Cancer. 2012. Vol. 64 (1). hlm. 128–135. doi:10.1080/01635581.2012.630555.
  6. Methylselenol Formed by Spontaneous Methylation of Selenide Is a Superior Selenium Substrate to the Thioredoxin and Glutaredoxin Systems. PLOS ONE. 2012. Vol. 7 (11). hlm. e50727. doi:10.1371/journal.pone.0050727.
  7. New Concepts in Selenium Chemoprevention. Cancer and Metastasis Reviews. 2002. Vol. 21 (3–4). hlm. 281–289. doi:10.1023/a:1021263027659.
  8. Cytotoxic and Proapototic Activities of Imidoselenocarbamate Derivatives Are Dependent on the Release of Methylselenol. Chemical Research in Toxicology. 2012. Vol. 25 (11). hlm. 2479–2489. doi:10.1021/tx300306t.
  9. Hans J. Reich. Functional group manipulation using organoselenium reagents. Accounts of Chemical Research. American Chemical Society. 1979. Vol. 12. doi:10.1021/ar50133a004.
  10. Selenophenol. Organic Syntheses. 1944. Vol. 24. hlm. 89. doi:10.15227/orgsyn.024.0089.
  11. Formation of methylselenol, dimethylselenide and dimethyldiselenide in in vitro metabolism models determined by headspace GC-MS. Metallomics. 2010. Vol. 2 (2). hlm. 167–173. doi:10.1039/b914255j.
  12. Selenium and human health. The Lancet. 2012. Vol. 379 (9822). hlm. 1256–1268. doi:10.1016/S0140-6736(11)61452-9.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 27488934 (2025-07-02T11:18:50Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.