Lompat ke isi

Nu'aim bin Mas'ud

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 9 September 2026 06.25 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Pembersihan konten sesuai kebijakan Wiki Unissula)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Battle of Trench 627 CE

Nu'aim bin Mas'ud () adalah seorang sahabat Nabi Muhammad yang berasal dari Najd di dataran tinggi utara Arabia, ia berasal dari suku Ghatafan yang kuat. Kontak pertamanya dengan Muhammad adalah ketika Abu Sufyan mengirimnya ke Madinah untuk meyakinkan kaum Muslim agar tidak melawan tentara Quraisy dengan melebih-lebihkan jumlah mereka. Hal ini berkaitan dengan perang Badar kedua yang telah disepakati oleh kedua belah pihak pada Perang Uhud.[1] Namun saat Pertempuran Khandak berlangsung, ia membantu muslimin memecah belah barisan musuh dengan kemampuan propagandanya.[2]

"Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah masuk Islam. Sementara kaumku tidak mengetahui tentang keislamanku ini. Maka perintahkanlah kepadaku apa pun yang engkau kehendaki."

"Engkau adalah orang satu-satunya,'' kata Nabi, "berilah pertolongan kepada kami menurut kesanggupanmu karena peperangan ini adalah tipu muslihat."


"Engkau benar,'' kata mereka.

Nu'aim berkata, "Orang-orang Quraisy tidak bisa disamakan dengan kalian. Negeri ini adalah negeri milik kalian. Di sini ada harta benda, anakanak dan istri-istri kalian. Kalian tidak akan sanggup meninggalkan negeri ini untuk pindah ke tempat lain. Sementara Quraisy dan Ghathafan datang ke sini untuk memerangi Muhammad dan rekan-rekannya, lalu kalian menampakkan dukungan kepada mereka. Padahal negeri, harta benda dan wanita-wanita mereka berada di tempat lain. Jika mereka merasa mendapat kesempatan, tentu kesempatan itu akan mereka pergunakan sebaik-baiknya. Jika tidak, mereka pun akan kembali ke negeri mereka dan meninggalkan kalian bersama Muhammad yang akan melampiaskan dendam kepada kalian."

"Lalu bagaimana baiknya wahai Nu'aim?" Tanya mereka.

"Kalian tidak perlu berperang bersama mereka kecuali setelah mereka memberikan jaminan kepada kalian,'' jawab Nu'aim.

"Engkau telah memberikan jawaban yang sangat tepat," jawab mereka.

Setelah itu Nu' aim langsung menemui Quraisy dan berkata kepada mereka, "Kalian sudah tahu cintaku kepada kalian dan nasihat-nasihat yang pemah kusampaikan."

"Begitulah,'' jawab mereka.


Kemudian Nu' aim menemui orang-orang Ghathafan dan berkata seperti pula kepada mereka.


Bani Quraizhah berkata, "Demi Allah, benar apa yang dikatakan Nu'aim kepada kalian."

Dengan begitu Nu'aim mampu memperdayai kedua belah pihak dan menciptakan perpecahan di barisan musuh, sehingga semangat mereka menjadi turun drastis. Sementara orang-orang Muslim selalu berdoa kepada Tuhannya, "Ya Allah, tutupilah kelemahan kami dan amankanlah kegundahan kami."[3][4]

Para ahli berbeda pendapat tentang kematian Nu'aim. Sebagian mengatakan bahwa ia wafat pada masa Khalifah Utsman, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa ia wafat saat Perang Jamal.[5]

Referensi

  1. Qadhi, Yasir. A Mercy to Mankind
  2. Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1
  3. Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1
  4. Muhammad Raji Hassan, Kinas (2012). Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi. Jakarta: Penerbit Zaman. ISBN 978-979-024-295-1
  5. Muhammad Raji Hassan, Kinas (2012). Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi. Jakarta: Penerbit Zaman. ISBN 978-979-024-295-1

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29429177 (2026-07-07T15:07:52Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.