Lompat ke isi

Peristiwa 4,2 kilowarsa

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 29 Agustus 2026 23.02 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi)

Peristiwa 4,2 kilowarsa, yang dikenal sebagai peristiwa 4,2 ka (singkatan dari "kiloyear ago"), adalah peristiwa kekeringan panjang yang terjadi pada 4.200 tahun yang lalu (atau 2200 tahun sebelum masehi). Ini merupakan salah satu peristiwa perubahan iklim paling parah pada zaman Holosen,[1] yang menjadi penanda awal zaman Holosen Akhir di saat ini.

Memasuki 2200 SM terjadi kekeringan panjang yang berlangsung hampir di sepanjang abad ke 22 SM. Beberapa sejarahwan melihat kejadian ini sebagai penyebab runtuhnya beberapa kerajaan kuno, seperti Kerajaan Lama di Mesir, Kekaisaran Akkadia di Mesopotamia, dan Kebudayaan Liangzhu di daerah hilir Sungai Yangtze. [2] [3] Kekeringan ini mungkin juga memicu runtuhnya Peradaban Lembah Indus di India, di mana sebagian penduduknya ditenggarai melakukan migrasi ke tenggara untuk mengikuti pergerakan habitat yang mereka inginkan,[4] dan juga memicu migrasi orang-orang berbahasa Indo-Eropa ke India.[5]

Penyebab

Bukti pemodelan menunjukkan bahwa peristiwa 4,2 ka merupakan akibat dari pelemahan signifikan sirkulasi meridional Atlantik (Atlantic Meridional Overturning Circulation, AMOC) yang mengganggu arus laut global dan menghasilkan perubahan curah hujan dan suhu di berbagai wilayah,[6][7] di antaranya adanya pergeseran tiba-tiba dari Zona Konvergensi Angin Antar Tropis (Intertropical Convergence Zone, ITCZ) ke selatan.[8][9] Bukti menunjukkan peningkatan variabilitas El Niño–Southern Oscillation (ENSO) juga turut berperan dalam menghasilkan kondisi iklim pada peristiwa tersebut.[10] Letusan gunung berapi di Islandia juga telah diusulkan sebagai penyebabnya,[11] meski kandungan sulfur yang rendah pada gunung api Islandia membuat beberapa peneliti mengabaikan dampaknya terhadap perubahan iklim global.[12]

Bukti-Bukti Pendukung

Fase kekeringan hebat pada kurun 2200 SM tercatat di seluruh Afrika Utara,[13] Timur Tengah,[14] Laut Merah,[15] Semenanjung Arab,[16] anak benua India,[17] dan Amerika Utara bagian tengah.[18] Selain itu, gletser di seluruh pegunungan Kanada barat meluas sekitar waktu itu,[19] sebagaimana juga terjadi di Islandia.[20] Bukti juga telah ditemukan di batuan aliran gua Italia,[21] lapisan es Kilimanjaro,[22] dan pada gletser di pegunungan Andes.[23] Permulaan pengeringan di Mesopotamia sekitar tahun 2100 SM juga bertepatan dengan peristiwa pendinginan di Atlantik Utara, yang dikenal sebagai peristiwa Bond 3.[24][25][26] Bukti adanya peristiwa 4,2 ka di Eropa Utara dapat diamati baik pada inti es maupun garis pepohonan di lembah Kauner Alpen dari data North Greenland Ice Core Project (NGRIP), seperti yang divisualisasikan dalam grafik gabungan variabilitas iklim Holosen.[27]

Pada tahun 2018, Komisi Internasional tentang Stratigrafi membagi zaman Holosen menjadi tiga periode,[28] dengan Holosen Akhir berlangsung dari 2250 SM dan seterusnya ditetapkan sebagai tahap atau zaman Meghalayan.[29] Batas dari stratotipe adalah lspeleotem di Gua Mawmluh di India, dan stratotipe tambahan globalnya adalah inti es dari Gunung Logan di Kanada.[30] Namun, justifikasi pembagian ini diperdebatkan karena beberapa menganggap kurun waktunya tidak konkrit, seperti diajukan Jessica Tierney, seorang paleoklimatolog di Universitas Arizona di Tucson, yang menyatakan bahwa para pendukung pembagian baru tersebut secara keliru "mencampuradukkan bukti kekeringan dan periode basah lainnya, terkadang berabad-abad jauhnya dari peristiwa tersebut."[31]

Lihat Juga

Bibliografi

Pranala luar

Referensi

  1. Peter B. deMenocal. Cultural Responses to Climate Change During the Late Holocene. Science. 2001. Vol. 292 (5517). hlm. 667–673. doi:10.1126/science.1059827.
  2. Gibbons, Ann. How the Akkadian Empire Was Hung Out to Dry. Science. 1993. Vol. 261 (5124). hlm. 985. doi:10.1126/science.261.5124.985.
  3. Chun-Hai Li. A high-resolution pollen record from East China reveals large climate variability near the Northgrippian-Meghalayan boundary (around 4200 years ago) exerted societal influence. Palaeogeography, Palaeoclimatology, Palaeoecology. August 2018. Vol. 512. hlm. 156–165. doi:10.1016/j.palaeo.2018.07.031.
  4. M. Staubwasser. Climate change at the 4.2 ka BP termination of the Indus valley civilization and Holocene south Asian monsoon variability. Geophysical Research Letters. 2003. Vol. 30 (8). hlm. 1425. doi:10.1029/2002GL016822.
  5. Rajesh Kochhar. The Aryan chromosome. The Indian Express. 2017-07-25.
  6. Mi Yan. Physical processes of cooling and mega-drought during the 4.2 ka BP event: results from TraCE-21ka simulations. Climate of the Past. 21 February 2019. Vol. 15 (1). hlm. 265–277. doi:10.5194/cp-15-265-2019.
  7. Liang Ning. Comparing the spatial patterns of climate change in the 9th and 5th millennia BP from TRACE-21 model simulations. Climate of the Past. 10 January 2019. Vol. 15 (1). hlm. 41–52. doi:10.5194/cp-15-41-2019.
  8. Bassem Jalali. Influence of the North Atlantic subpolar gyre circulation on the 4.2 ka BP event. Climate of the Past. 8 April 2019. Vol. 15 (2). hlm. 701–711. doi:10.5194/cp-15-701-2019.
  9. Monica Bini. The 4.2 ka BP Event in the Mediterranean region: an overview. Climate of the Past. 27 March 2019. Vol. 15 (2). hlm. 555–577. doi:10.5194/cp-15-555-2019.
  10. Lauren T. Toth. The 4.2 ka event, ENSO, and coral reef development. Climate of the Past. 16 January 2019. Vol. 15 (1). hlm. 105–119. doi:10.5194/cp-15-105-2019.
  11. Raymond S. Bradley. Is there evidence for a 4.2 ka BP event in the northern North Atlantic region?. Climate of the Past. 2 September 2019. Vol. 15 (5). hlm. 1665–1676. doi:10.5194/cp-15-1665-2019.
  12. Áslaug Geirsdóttir. The onset of neoglaciation in Iceland and the 4.2 ka event. Climate of the Past. 8 January 2019. Vol. 15 (1). hlm. 25–40. doi:10.5194/cp-15-25-2019.
  13. Françoise Gasse. Abrupt post-glacial climate events in West Asia and North Africa monsoon domains. Earth and Planetary Science Letters. 1994. Vol. 126 (4). hlm. 435–456. doi:10.1016/0012-821X(94)90123-6.
  14. Miryam Bar-Matthews. Late Quaternary Paleoclimate in the Eastern Mediterranean Region from Stable Isotope Analysis of Speleothems at Soreq Cave, Israel. Quaternary Research. 1997. Vol. 47 (2). hlm. 155–168. doi:10.1006/qres.1997.1883.
  15. Helge W. Arz. A pronounced dry event recorded around 4.2 ka in brine sediments from the northern Red Sea. Quaternary Research. 2006. Vol. 66 (3). hlm. 432–441. doi:10.1016/j.yqres.2006.05.006.
  16. Adrian G. Parker. A record of Holocene climate change from lake geochemical analyses in southeastern Arabia. Quaternary Research. 2006. Vol. 66 (3). hlm. 465–476. doi:10.1016/j.yqres.2006.07.001.
  17. M. Staubwasser. Climate change at the 4.2 ka BP termination of the Indus valley civilization and Holocene south Asian monsoon variability. Geophysical Research Letters. 2003. Vol. 30 (8). hlm. 1425. doi:10.1029/2002GL016822.
  18. Booth, Robert K. A severe centennial-scale drought in midcontinental North America 4200 years ago and apparent global linkages. The Holocene. 2005. Vol. 15 (3). hlm. 321–328. doi:10.1191/0959683605hl825ft.
  19. B. Menounos. Western Canadian glaciers advance in concert with climate change c. 4.2 ka. Geophysical Research Letters. 2008. Vol. 35 (7). hlm. L07501. doi:10.1029/2008GL033172.
  20. Áslaug Geirsdóttir. The onset of neoglaciation in Iceland and the 4.2 ka event. Climate of the Past. 8 January 2019. Vol. 15 (1). hlm. 25–40. doi:10.5194/cp-15-25-2019.
  21. Drysdale, Russell. Late Holocene drought responsible for the collapse of Old World civilizations is recorded in an Italian cave flowstone. Journal Geology. 2005. Vol. 34 (2). hlm. 101–104. doi:10.1130/G22103.1.
  22. Thompson. Kilimanjaro Ice Core Records Evidence of Holocene Climate Change in Tropical Africa. Science. 2002. Vol. 298 (5593). hlm. 589–93. doi:10.1126/science.1073198.
  23. Davis, Mary E. An Andean ice-core record of a Middle Holocene mega-drought in North Africa and Asia. Annals of Glaciology. 2006. Vol. 43 (1). hlm. 34–41. doi:10.3189/172756406781812456.
  24. Peter B. deMenocal. Cultural Responses to Climate Change During the Late Holocene. Science. 2001. Vol. 292 (5517). hlm. 667–673. doi:10.1126/science.1059827.
  25. Bond, G. A Pervasive Millennial-Scale Cycle in North Atlantic Holocene and Glacial Climates. Science. 1997. Vol. 278 (5341). hlm. 1257–1266. doi:10.1126/science.278.5341.1257.
  26. Two examples of abrupt climate change. Lamont–Doherty Earth Observatory.
  27. Holm, Hans J. (2011a): Archäoklimatologie des Holozäns: Ein durchgreifender Vergleich der „Wuchshomogenität“ mit der Sonnenaktivität und anderen Klimaanzeigern („Proxies“). In: Archäologisches Korrespondenzblatt 41-1, S.119-132.
  28. Meghalaya Age: Newest phase in Earth's history named after Meghalaya rock | – Times of India. The Times of India. 19 July 2018.
  29. Jonathan Amos. Welcome to the Meghalayan Age a new phase in history. BBC News. 18 July 2018.
  30. Formal subdivision of the Holocene Series/Epoch.
  31. Voosen. Massive drought or myth? Scientists spar over an ancient climate event behind our new geological age. Science. August 8, 2018.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29345834 (2026-06-14T13:46:50Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.