Lompat ke isi

Asam vanilat

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 30 Agustus 2026 04.06 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Kwas wanilinowy

Asam vanilat (atau asam 4-hidroksi-3-metoksibenzoat) adalah turunan asam dihidroksibenzoat yang digunakan sebagai bahan perasa. Senyawa ini merupakan bentuk teroksidasi dari vanilin. Senyawa ini juga merupakan zat perantara dalam produksi vanilin dari asam ferulat.[1][2]

Keberadaan di alam

Jumlah asam vanilat tertinggi dalam tumbuhan yang diketahui sejauh ini ditemukan di akar Angelica sinensis,[3] suatu tumbuhan asli Cina, yang digunakan dalam pengobatan tradisional Cina.

Keberadaan dalam makanan

Minyak açaí, yang diperoleh dari buah pohon palem açaí (Euterpe oleracea), kaya akan asam vanilat (1616±94 mg/kg).[4] Senyawa ini juga ditemukan dalam wine dan cuka.[5]

Metabolisme

Asam vanilat adalah salah satu metabolit katekin utama yang ditemukan pada manusia setelah mengonsumsi infus teh hijau.[6]

Sintesis

Asam vanilat dapat diperoleh dari oksidasi vanilin oleh berbagai agen pengoksidasi.

Referensi

  1. A two-step bioconversion process for vanillin production from ferulic acid combining Aspergillus niger and Pycnoporus cinnabarinus. J. Biotechnol. October 1996. Vol. 50 (2–3). hlm. 107–113. doi:10.1016/0168-1656(96)01552-0.
  2. Bioconversion of ferulic acid into vanillic acid by means of a vanillate-negative mutant of Pseudomonas fluorescens strain BF13. Appl. Environ. Microbiol. June 2000. Vol. 66 (6). hlm. 2311–2317. doi:10.1128/AEM.66.6.2311-2317.2000.
  3. Duke, JA. Handbook of phytochemical constituents of GRAS herbs and other economic plants. CRC Press, 999 edition. 1992. ISBN 978-0-8493-3865-6.
  4. Chemical composition, antioxidant properties, and thermal stability of a phytochemical enriched oil from Açaí (Euterpe oleracea Mart.). J Agric Food Chem. Jun 2008. Vol. 56 (12). hlm. 4631–4636. doi:10.1021/jf800161u.
  5. Miguel Carrero Gálvez. Analysis of polyphenolic compounds of different vinegar samples. Zeitschrift für Lebensmittel-Untersuchung und -Forschung. 1994. Vol. 199. hlm. 29–31. doi:10.1007/BF01192948.
  6. P. G. Pietta. Catechin metabolites after intake of green tea infusions. BioFactors. 1998. Vol. 8 (1–2). hlm. 111–8. doi:10.1002/biof.5520080119.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29380249 (2026-06-23T14:03:44Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.