Lompat ke isi

Medium (situs web)

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 25 Agustus 2026 09.05 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Medium adalah platform penerbitan online yang dikembangkan oleh Evan Williams dan diluncurkan pada Agustus 2012. Williams yang sebelumnya menjabat sebagai co-founder Blogger dan Twitter awalnya mengembangkan Medium sebagai wadah untuk menerbitkan tulisan dan dokumen yang lebih panjang dari 140 karakterbatas maksimum karakter di Twitter kala itu.

Platform yang saat ini dimiliki oleh A Medium Corporation[1] ini merupakan salah satu contoh jurnalisme sosial

Sejarah

Evan Williams, co-founder dan mantan CEO Twitter, menciptakan Medium untuk mendorong para penggunanya agar membuat tulisan yang lebih panjang dari batas 140 karakter di Twitter. Pada April 2013, Williams melaporkan bahwa mereka mempekerjakan 30 staf purnawaktu termasuk pekerjaan sebagai "Storyteller."[2] Ia juga mengatakan bahwa "98 persen" dari waktunya didekasikan untuk platform ini.[3] Pada Agustus 2013, Williams melaporkan bahwa situs web itu masih tergolong kecil, tetapi ia merasa cukup optimis dengan mengatakan, "Kami berusaha membuatnya semudah mungkin bagi orang-orang yang ingin mengungkapkan pemikirannya".[4]

Alih-alih memperbanyak jumlah pengunjung situs, Medium justru berfokus pada bagaimana pengunjung situs menghabiskan lebih banyak waktu membaca di platform mereka.[5][6] Pada 2015, Williams mengkritik ukuran lalu lintas pengunjung sebagai "angka yang sangat tidak stabil dan tidak memiliki arti apapun bagi apa yang kami coba lakukan." Pada Mei 2017, Medium.com menyatakan bahwa mereka telah memiliki 60 juta pembaca bulanan.[7]

Hingga tahun 2019, Medium belum meraih menguntungkan.[8]

Tata kelola perusahaan

Medium awalnya menggunakan holakrasi sebagai struktur tata kelola perusahaan.[9][10] Pada tahun 2016, Medium beralih dari sistem holakrasi karena mereka kesulitan untuk mengoordinasikan proyek-proyek skala besar, ditambah persepsi publik yang buruk tentang holakrasi.[11]

Informasi dan fitur pengguna

Pengguna

Medium tidak memublikasikan statistik pengguna resmi di situs webnya. Menurut blog AS, platform ini memiliki sekitar 60 juta pengunjung bulanan pada tahun 2016.[12] Pada tahun 2015, jumlah total pengguna Medium berjumlah sekitar 25 juta.

Pemblokiran

Malaysia

Pada Januari 2016, Medium menerima usulan take-down dari Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia (MCMC) terhadap salah satu artikel yang diterbitkan oleh Sarawak Report. Sarawak Report telah memublikasikan artikelnya di Medium sejak Juli 2015, ketika situs webnya diblokir oleh pemerintah Malaysia. Artikel tersebut melaporkan dugaan bahwa dana investasi negara di 1Malaysia Development Berhad (1MDB) berakhir di rekening bank milik Perdana Menteri Najib Razak.[13]

Tim hukum Medium menanggapi usulan tersebut dengan meminta salinan pernyataan dari resmi Komisi Anti Korupsi Malaysia bahwa berita yang dimuat oleh Sarawak Report itu tidak benar. Situs menolak untuk menghapus konten sampai dikeluarkannya perintah dari pengadilan yang berwenang.[14] Akibatnya, semua konten di Medium tidak dapat diakses oleh pengguna internet di Malaysia pada 27 Januari 2016. Pemblokiran Medium kemudian dicabut pada 18 Mei 2018 karena MCMC menyatakan bahwa mereka "tidak memiliki alasan untuk memblokir situs tersebut" karena 1MDB telah membuat klarifikasi yang dapat diakses oleh publik.

Mesir

Sejak Juni 2017, Medium telah diblokir di Mesir bersama dengan lebih dari 60 situs media lainnya dalam sebuah tindakan keras oleh pemerintah Mesir.[15] Situs yang turut diblokir antara lain Al Jazeera, The Huffington Post, dan Mada Masr .

Tiongkok

Pada April 2016, Medium diblokir di daratan Tiongkok[16] setelah informasi dari Panama Papers dibocorkan melalui situs tersebut.

Albania

Otoritas Media Audiovisual Albania memblokir Medium dari 19 hingga 21 April 2020.[17]

Catatan

Pranala luar

Referensi

  1. Matthew Panzarino. Twitter Co-Founder Evan Williams' Blogging Platform Medium Opens Signups To All. TechCrunch.
  2. Drew Olanoff. Ev Williams Takes To Medium To Discuss The True Purpose Of His New Publishing Tool. TechCrunch. November 15, 2012.
  3. Colleen Taylor. Williams, Biz Stone, And Jason Goldman Shift Focus To Individual Startups. TechCrunch. April 5, 2013.
  4. Brad Stone. Twitter Co-Creator Ev Williams Stretches the Medium. August 22, 2013.
  5. Medium's metric that matters: Total Time Reading. Data Lab. November 21, 2013.
  6. Jessi Hempel. Ev Williams' Rules for Quality Content in the Clickbait Age. Wired. 2015-04-14.
  7. David Streitfeld. 'The Internet Is Broken': @ev Is Trying to Salvage It. The New York Times. May 20, 2017.
  8. Laura Hazard Owen. The long, complicated, and extremely frustrating history of Medium, 2012–present. Nieman Lab. March 25, 2019.
  9. Jason Stirman. How Medium Is Building a New Kind of Company with No Managers. First Round Review.
  10. Stowe Boyd. Medium has no "people managers" and operates as a "holacracy". GigaOm. August 7, 2013.
  11. Andy Doyle. Management and Organization at Medium. Medium Blog. March 4, 2016.
  12. Medium grows 140% to 60 million monthly visitors. venturebeat.com.
  13. Beh Lih Yi. Sarawak Report whistle blowing website blocked by Malaysia after PM allegations. The Guardian. July 20, 2015.
  14. Medium Legal. The Post Stays Up. Medium. January 26, 2016.
  15. Egypt bans Medium as media crackdown widens. Al Jazeera.
  16. Steven Millward. Medium is now blocked in China. Tech In Asia. April 15, 2016.
  17. Popular Blogging Site ‘Medium’ Blocked in Albania. Exit-al.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29506889 (2026-07-30T09:42:23Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.