Lompat ke isi

Intuisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 9 September 2026 09.09 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Pembersihan konten sesuai kebijakan Wiki Unissula)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Intuisi adalah istilah untuk kemampuan memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan intelektualitas. Kata intuisi berasal dari kata kerja Latin "intueri" yang diterjemahkan sebagai "mempertimbangkan" atau dari bahasa Inggris, "intuit" yakni "untuk merenungkan".[1]

Pemahaman intuisi ini datang seketika dari dunia lain dan di luar kesadaran diri manusia. Misalnya saja, seseorang tiba-tiba saja terdorong untuk membaca sebuah buku. Ternyata, di dalam buku itu ditemukan keterangan yang dicarinya selama bertahun-tahun. Atau misalnya, merasa bahwa ia harus pergi ke sebuah tempat, ternyata di sana ia menemukan penemuan besar yang mengubah hidupnya. Namun tidak semua intuisi berasal dari kekuatan psikis. Sebagian intuisi dapat dijadikan sebagai landasan berpikir untuk mendapatkan kebenaran objektif.[2]

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang berada dalam jajaran puncak bisnis atau kaum eksekutif memiliki skor lebih baik dalam eksperimen uji indra keenam dibandingkan dengan orang-orang biasa. Penelitian itu sepertinya menegaskan bahwa orang-orang sukses lebih banyak menerapkan kekuatan psikis dalam kehidupan keseharian mereka, yang mana dapat menunjang kesuksesan mereka. Salah satu bentuk kemampuan psikis yang sering muncul adalah kemampuan intuisi. Tidak jarang, intuisi menentukan keputusan yang mereka ambil. Namun banyak orang beranggapan intuisi sering dianggap tidak rasional dan tidak dibenarkan sebagai metode pengambilan keputusan yang utama. Padahal, intuisi dapat bernilai benar karena merupakan hasil dari pengetahuan dan pengalaman yang disaring untuk dijadikan acuan pengambilan keputusan. Misalnya, beberapa ilmuwan menyatakan bahwa kebenaran matematika hanya bisa didapatkan melalui intuisi.[3] Dengan demikian, kini banyak orang yang percaya bahwa intuisi yang baik dan tajam adalah syarat agar seseorang dapat sukses dalam hidup. Oleh karena itu tidak mengherankan jika banyak buku-buku mengenai kiat-kiat sukses selalu memasukkan strategi mempertajam intuisi.

Intuisi adalah kemampuan untuk memperoleh pengetahuan tanpa mengandalkan penalaran sadar.[4] Bidang lain menggunakan kata "intuisi" dengan cara yang sangat berbeda, tetapi tidak terbatas pada akses langsung ke pengetahuan bawah sadar; kognisi bawah sadar; penginderaan batin; wawasan batin ke pengenalan pola bawah sadar; dan kemampuan untuk memahami sesuatu secara naluriah tanpa memerlukan penalaran sadar.[5]

Intuisi menurut pakar psikolog

Sigmund Freud

Menurut Sigmund Freud, pengetahuan hanya bisa dicapai melalui manipulasi intelektual dari pengamatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan menolak cara untuk memperoleh pengetahuan, seperti menggunakan intuisi.[6] Dengan demikian, pengetahuan tidak bisa dicapai hanya melalui intuisi, melainkan harus didasari oleh pemikiran rasional dan sikap ilmiah.

Carl Jung

Pada Teori Ego yang diungkapkan Carl Jung, didefinisikan bahwa intuisi adalah 'fungsi irasional' dan persepsi yang didapatkan melalui ketidaksadaran. Seperti menggunakan persepsi indera hanya sebagai titik awal untuk menemukan ide, gambar, kemungkinan, dan jalan keluar dari situasi sulit melalui proses yang sebagian besar tidak disadari.[7]

Jung mengklasifikasikan beberapa tipe psikologi manusia yang dituliskan dalam bukunya. Lebih lanjut Jung menjelaskan bahwa seseorang yang dominan menggunakan intuisinya, "tipe intuitif", akan bertindak bukan atas dasar pemikiran rasional tetapi hanya pada persepsi belaka. Tipe intuitif ekstrover, berorientasi pada kemungkinan baru yang menjanjikan meskipun belum terbukti kebenarannya, mereka cenderung mengejar kemungkinan baru sebelum usaha lama membuahkan hasil, sehingga sering melakukan perubahan secara konstan. Tipe intuitif introver berorientasi pada gambaran dari alam bawah sadar, selalu menjelajahi dunia psikis arketipe, berusaha memahami makna peristiwa, tetapi seringnya tidak tertarik untuk berperan dalam peristiwa tersebut dan tidak melihat hubungan apa pun antara dunia psikis dan dirinya sendiri.[8]

Jung berpikir bahwa tipe intuitif yang ekstrovert kemungkinan besar adalah pengusaha, spekulan, maupun revolusioner budaya. Mereka sering kali membatalkan sesuatu yang sedang dijalani karena keinginan untuk melarikan diri dari berbagai situasi sebelum mendapatkan hasil—bahkan berulang kali meninggalkan kekasih demi kemungkinan kisah baru. Tipe intuitif introvert kemungkinan besar dimiliki oleh orang yang tertarik pada dunia mistis maupun spiritual. Mereka cenderung berjuang antara melindungi visi mereka dari pengaruh orang lain dan membuat ide mereka dapat dipahami maupun bersifat persuasif bagi orang lain—sehingga visi tersebut harus memberikan hasil yang nyata.[9]

Psikologi Modern

Dalam ilmu psikologi modern, intuisi dapat mencakup kemampuan untuk mengetahui solusi yang valid untuk menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan. Misalnya, model pengenalan keputusan prima atau recognition primed decision (RPD) menjelaskan bagaimana orang dapat membuat keputusan yang relatif cepat tanpa harus membandingkan pilihan. Gary Klein menemukan bahwa di bawah tekanan waktu, risiko tinggi, dan perubahan parameter, para ahli menggunakan basis pengalaman mereka untuk mengidentifikasi situasi serupa dan secara intuitif memilih solusi yang layak. Dengan demikian, model RPD merupakan perpaduan antara intuisi dan analisis. Intuisi adalah proses pencocokan pola dengan cepat untuk mendapatkan solusi dan tindakan yang layak. Sementara, analisis adalah simulasi mental, yang secara sadar dan disengaja membentuk suatu tindakan.[10]

Intuisi sering dihubungkan dengan naluri. Namun, naluri berbeda dengan intuisi, keandalan naluri dianggap bergantung pada pengetahuan masa lalu dan kejadian di suatu area tertentu. Naluri dianggap sebagai kebiasaan yang diturunkan atau dikembangkan, Pierce menambahkan bahwa naluri itu sadar, ditentukan dalam beberapa cara menuju tujuan (apa yang ia rujuk sebagai tujuan semu), dan mampu disempurnakan dengan pelatihan.[11] Hal ini mengindikasikan perbedaan naluri dan intuisi.

Kemampuan intuitif dapat menjadi dasar dari sikap seseorang. Peneliti menemukan bahwa kemampuan untuk mengenali ekspresi wajah dapat berkorelasi dengan kemampuan altruistik dan sikap yang prososial.[12] Namun kemampuan seperti itu tidak hanya didapatkan melalui intuisi, melainkan juga dengan informasi yang dia miliki dari kehidupan sehari-harinya.[13]

Intuisi menurut ilmu filsafat

Filsafat Timur

Sebagian besar masyarakat di Wilayah Timur menganggap intuisi terkait dengan agama dan spiritualitas. Berbagai makna terkait intuisi ini muncul dari referensi teks berbagai agama.Kesalahan pengutipan: </ref> yang menutup hilang untuk tanda <ref>

Awal Filsafat Modern

Dalam bukunya yang berjudul Meditation on First Philosophy, Decrates menganggap intuisi (berasal dari kata kerja bahasa Latin, intueor, yakni untuk melihat) sebagai pengetahuan yang sudah ada sebelumnya, di mana pengetahuan tersebut diperoleh melalui penalaran rasional atau menemukan kebenaran melalui kontemplasi. Definisi ini menyatakan bahwa "apapun yang saya rasa dengan jelas suatu kebenaran adalah benar"[14][15] dan hal ini sering disebut sebagai intuisi rasional.[16] Hal ini berkaitan dengan kesalahan potensial yang disebut lingkaran Cartesian. Intuisi dan deduksi dapat menjadi dasar dari pengetahuan geometris,[17] sedangkan yang dimaksudkan sebagai "urutan intuisi yang terhubung",[18] secara khusus berarti secara apriori sebagai sesuatu dan ide yang sudah jelas dan nyata, sebelum dihubungkan dengan ide-ide lain dalam demonstrasi logis.

Kemudian filsuf lainnya, seperti Hume, memiliki interpretasi intuisi yang lebih ambigu. Hume mengklaim intuisi adalah pengenalan hubungan (hubungan waktu, tempat, dan sebab-akibat) sementara ia menyatakan bahwa "kemiripan" (pengenalan hubungan) "akan mencolok mata" (yang tidak memerlukan pemeriksaan lebih lanjut) tetapi menyatakan, "atau lebih tepatnya dalam pikiran"—menghubungkan intuisi dengan kekuatan pikiran, bertentangan dengan teori empirisme.[19][20]

Immanuel Kant

Gagasan Immanuel Kant tentang "intuisi" sangat berbeda dari gagasan Cartesian. Menurutnya, intuisi terdiri dari informasi sensorik dasar yang disediakan oleh kemampuan sensibilitas kognitif (setara dengan persepsi). Kant berpendapat bahwa pikiran kita mengeluarkan semua intuisi eksternal kita dalam bentuk ruang dan semua intuisi internal kita (memori, pikiran) dalam bentuk waktu.[21]

Filsafat Kontemporer

Intuisi biasanya digunakan secara terpisah dari teori lainnya tentang bagaimana intuisi memberikan bukti untuk bisa dinyatakan. Terdapat anggapan yang berbeda mengenai jenis intuisi keadaan mental, mulai dari penilaian spontan hingga penyajian khusus dari kebenaran yang diperlukan. Dalam beberapa tahun terakhir sejumlah filsuf, seperti George Bealer, telah mencoba untuk mempertahankan daya tarik intuisi melawan keraguan Quine tentang analisis konseptual.[22] Tantangan berbeda untuk menarik intuisi, baru-baru ini datang dari filsuf eksperimental yang berpendapat bahwa menarik intuisi harus diinformasikan oleh metode ilmu sosial.

Asumsi metafilosofis yang mengungkap bahwa filsafat harus bergantung pada intuisi, baru-baru ini ditentang oleh para filsuf eksperimental (misalnya, Stephen Stich).[23] Salah satu masalah utama yang dikemukakan oleh para filsuf eksperimental adalah bahwa intuisi berbeda, misalnya, dari satu budaya ke budaya lain, sehingga tampaknya cukup bermasalah untuk mengutipnya sebagai bukti klaim filosofis.[24] Timothy Williamson telah menanggapi keberatan semacam itu terhadap metodologi filosofis dengan menyatakan bahwa intuisi tidak memainkan peran khusus dalam praktik filsafat, dan menganggap bahwa skeptisisme tentang intuisi tidak dapat dipisahkan secara bermakna dari skeptisisme umum tentang penilaian. Pada pandangan ini, tidak ada perbedaan kualitatif antara metode filsafat dan akal sehat, sains atau matematika.[25] Filsuf lainnya seperti Ernest Sosa berusaha untuk mendukung intuisi dengan menyatakan bahwa keberatan terhadap intuisi hanya menyoroti ketidaksetujuan verbal.[26]

Referensi

  1. Merriam-Webster. Definition of INTUITION. www.merriam-webster.com.
  2. BBC Ethics. Intuitionism. www.bbc.co.uk.
  3. Rosalie Iemhoff. Intuitionism in the Philosophy of Mathematics. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2020.
  4. Seymour Epstein. Demystifying Intuition: What It Is, What It Does, and How It Does It. An International Journal for The Advancement of Psychological Theory. 2010. Vol. 21 (4). hlm. 295-312. doi:10.1080/1047840X.2010.523875.
  5. Aurobindo Ghose. The synthesis of yoga. Lotus Light Publications. 1992. hlm. 479-480. ISBN 0-941524-65-5.
  6. Helen Walker Punner. Sigmund Freud: His Life and Mind. Transaction Publisher. 1992. hlm. 197-200. ISBN 9781412834063.
  7. Michael J. Oyster. Success in a Low-Return World: Using Risk Management and Behavioral Finance to Achieve Market Outperformance. Springer. 2018-11-19. hlm. 100. ISBN 978-3-319-99855-8.
  8. Carl Jung. Psychological Types. Routledge. 2016-10-04. hlm. 340-346. doi:10.4324/9781315512334. ISBN 978-1-315-51232-7.
  9. Carl Jung. Psychological Types. Routledge. 2016-10-04. hlm. 340-346. doi:10.4324/9781315512334. ISBN 978-1-315-51232-7.
  10. Gary Klein. Naturalistic Decision Making. Human Factors. 2008. Vol. 50 (3). hlm. 457-458. doi:10.1518/001872008X288385.
  11. Kenneth Boyd. Peirce on Intuition, Instinct, & Common Sense. European Journal of Pragmatism and American Philosophy. 2017-12-29. Vol. IX (2). hlm. 38. doi:10.4000/ejpap.1035.
  12. Martin S. Remland. Nonverbal Communication in Everyday Life. SAGE Publications. 2016-04-29. hlm. 191. ISBN 978-1-4833-7024-8.
  13. Christine Ma-Kellams. Trust your gut or think carefully? Examining whether an intuitive, versus a systematic, mode of thought produces greater empathic accuracy. Journal of Personality and Social Psychology. 2016-11. Vol. 111 (5). hlm. 681-682. doi:10.1037/pspi0000063.
  14. Lex Newman. Descartes’ Epistemology. The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Spring 2019 Edition), Edward N. Zalta (ed.). 1997.
  15. University of Colorado Boulder. Cartesian Foundationalism. spot.colorado.edu.
  16. James L. Mursell. The Function of Intuition in Descartes' Philosophy of Science. The Philosophical Review. 1919-07. Vol. 28 (4). hlm. 391-401. doi:10.2307/2178199.
  17. Karl Ameriks. Interpreting Kant's Critiques. Clarendon Press. 2003. hlm. 53. ISBN 978-0-19-924731-8.
  18. John Cottingham. The Cambridge companion to Descartes. 1992. hlm. 206. ISBN 0-521-36623-2.
  19. David Hume. A treatise of human nature : being an attempt to introduce the experimental method of reasoning into moral subjects. Floating Press. 2009. hlm. 105. ISBN 978-1-77541-067-6.
  20. Oliver A. Johnson. The mind of David Hume : a companion to book I of A treatise of human nature. University of Illinois Press. 1995. hlm. 121. ISBN 0-252-02156-8.
  21. Immanuel Kant. The critique of pure reason. Philosophical Library/Open Road. 2015. hlm. 49. ISBN 978-1-5040-0462-6.
  22. George Bealer. Intuition and the Autonomy of Philosophy. Rowman & Littlefield. 1998. hlm. 201–240.
  23. Mark Pinder. The Explication Defence of Arguments from Reference. Erkenntnis. 2017-12-01. Vol. 82 (6). hlm. 1253–1276. doi:10.1007/s10670-016-9868-9.
  24. Stephen P. Stich. Collected papers. Volume 2, Knowledge, rationality, and morality, 1978-2010. Oxford University Press. 2012. hlm. 159-190. ISBN 978-0-19-987585-6.
  25. Timothy Williamson. The Philosophy of Philosophy. John Wiley & Sons. 2008. hlm. 240. ISBN 978-0-470-69591-3.
  26. Ernest Sosa. A Defense of the Use of Intuitions in Philosophy. Wiley-Blackwell. 2009-03-20. hlm. 101–112. doi:10.1002/9781444308709.ch6. ISBN 978-1-4443-0870-9.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29397005 (2026-06-28T16:37:16Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.