Sengkalan Jawa
Sengkalan merupakan sandi untuk menulis tahun atau penanda waktu dalam bahasa Jawa. Secara etimologi kata sengkalan berasal dari kata saka yang berarti "angka" dan kala yang artinya "waktu". Sengkalan juga sering disebut sebagai Kronogram Jawa. Sengkalan atau juga sering disebut Candrasengkala ditulis dengan cara menyusun kata yang bermakna sebuah angka dan ditulis secara terbalik. Hal ini juga menggambarkan bahwa sengkalan ditulis untuk keperluan tertentu misalnya, peringatan hari penting maupun peristiwa bersejarah. Sengkalan biasanya ditemukan pada bangunan atau makam sebagai hiasan artistik.
Jenis
Ditinjau dari wujud dan gabungan kata yang dipilih, sengkalan terbagi menjadi dua jenis, yakni sengkalan lamba dan sengkalan memet. Sengkalan lamba adalah sengkalan yang berbentuk kalimat atau kumpulan kata yang berisi angka tertentu misal, sirna ilang kertaning bumi (dalam bahasa Indonesia : sirna dan hilangnya kesejahteran bumi) yang menjadi pengingat peristiwa sejarah runtuhnya Kerajaan Majapahit. Sirna (musnah) melambangkan nol. Sesuatu yang telah sirna berarti hilang atau tiada, oleh karena itu digunakan untuk melambangkan angka nol. Ilang (hilang) juga melambangkan angka nol karena barang yang hilang berarti tak ada lagi. Kerta (kesejahteraan) menggambarkan angka 4 dan bumi hanya ada satu di dunia sehingga kata bumi melambangkan angka satu. Jika disusun secara terbalik, terbentuklah angka tahun 1400, bertepatan dengan tahun 1478 Masehi tahun runtuhnya Kerajaan Majapahit.
Sengkalan memet adalah jenis sengkalan yang dibuat dengan menggambarkan sesuatu yang memiliki makna sebuah angka. Sengkalan memet yang terkenal salah satunya adalah gambar naga pada salah satu ruang di Keraton Yogyakarta Hadiningrat yang sering disebut Dwi naga rasa tunggal. Dwi dalam bahasa jawa berarti dua, naga yang menggambarkan angka delapan rasa angka enam dan tunggal menggambarkan angka satu. Sengkalan ini menggambarkan tahun berdirinya Kraton Yogyakarta Hadiningrat dalam tahun Jawa yakni 1682.
Watak
Kata atau kalimat yang disusun untuk membentuk sebuah sengkalan memiliki watak tertentu yang terbagi menjadi sepuluh watak yakni watak satu sampai sepuluh.
Referensi
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29234986 (2026-05-16T09:37:10Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.