Lompat ke isi

Bom kotor

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 27 Agustus 2026 08.20 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 26069397; atribusi sumber disertakan.)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Bom kotor atau perangkat dispersi radiologis adalah senjata radiologis yang menggabungkan bahan radioaktif dengan bahan peledak konvensional. Tujuan dari senjata ini adalah untuk mencemari area di sekitar bahan penyebar/ledakan konvensional dengan bahan radioaktif, yang berfungsi terutama sebagai perangkat penyangkalan area terhadap warga sipil. Senjata ini tidak boleh disamakan dengan ledakan nuklir, seperti bom fisi, yang menghasilkan efek ledakan yang jauh lebih besar daripada yang dapat dicapai dengan menggunakan bahan peledak konvensional. Tidak seperti awan radiasi dari bom fisi pada umumnya, radiasi bom kotor hanya dapat tersebar dalam jarak beberapa ratus meter atau beberapa mil dari ledakan.

Bom kotor tidak pernah digunakan, hanya diuji coba. Bom ini dirancang untuk menyebarkan bahan radioaktif di area tertentu. Bom ini bekerja melalui efek kontaminasi radioaktif terhadap lingkungan dan efek kesehatan terkait keracunan radiasi pada populasi yang terkena dampak. Penahanan dan dekontaminasi korban, serta dekontaminasi daerah yang terkena dampak membutuhkan waktu dan biaya yang cukup besar, membuat daerah tersebut sebagian tidak dapat digunakan dan menyebabkan kerusakan ekonomi. Bom kotor dapat digunakan untuk menciptakan kepanikan massal sebagai senjata teror.

Pengobatan

, penelitian sedang dilakukan untuk menemukan obat dekontaminasi radioaktif untuk menghilangkan unsur radioaktif dari tubuh. Salah satu kandidat obat yang sedang diteliti adalah HOPO 14-1.

Lihat pula

Referensi

Rujukan

Karya yang dikutip

  • .
  • Burgess, M. (2003) "Pascal's New Wager: The Dirty Bomb Threat Heightens", Center for Defense Information.
  • .
  • .
  • Adam Curtis's The Power of Nightmares, Part IIIVideo/Transcript at informationclearinghouse.info.
  • Ferguson, C.D., Kazi, T. and Perera J. (2003) Commercial Radioactive Sources: Surveying the Security Risks, Monterey Institute of International Studies, Center for Nonproliferation Studies, Occasional Paper #11, , Webpage with PDF file of paper.
  • .
  • .
  • Hosenball, M., Hirsch, M. and Moreau, R. (2002) "War on Terror: Nabbing a "Dirty Bomb" Suspect", Newsweek (Int. ed.), ID: X7835733: 28–33.
  • .
  • .
  • Liolios, T.E. (2008) The effects of using Cesium-137 teletherapy sources as a radiological weapon (dirty bomb), Hellenic Arms Control Center, Occasional Paper May 2008, [1].
  • Mullen, E., Van Tuyle, G. and York, R. (2002) "Potential radiological dispersal device threats and related technology", Transactions of the American Nuclear Society, 87: 309.
  • .
  • .
  • .
  • Sohier, A. and Hardeman, F. (2006) "Radiological Dispersion Devices: are we prepared?", Journal of Environmental Radioactivity, 85: 171–181.
  • Van Tuylen, G.J. and Mullen, E. (2003) "Large radiological source applications: RDD implications and proposed alternative technologies", Global 2003: Atoms for Prosperity: Updating Eisenhouwer's Global Vision for Nuclear Energy, LA-UR-03-6281: 622–631, .
  • Vantine, H.C. and Crites, T.R. (2002) "Relevance of nuclear weapons cleanup experience to dirty bomb response", Transactions of the American Nuclear Society, 87: 322–323.
  • Zimmerman, P.D. and Loeb, C. (2004) "Dirty Bombs: The Threat Revisited", Defense Horizons, 38: 1-11.
  • .

Pranala luar


Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 26069397 (2024-07-21T15:58:18Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.