Ekolokasi hewan
Ekolokasi, juga disebut bio sonar, adalah sonar aktif biologis yang digunakan oleh beberapa kelompok hewan, baik di udara maupun di bawah air. Hewan yang melakukan ekolokasi memancarkan panggilan dan mendengarkan gema dari panggilan yang kembali dari berbagai objek di dekat mereka. Mereka menggunakan gema ini untuk menemukan dan mengidentifikasi objek. Ekolokasi digunakan untuk navigasi, merambah, dan berburu mangsa.
Panggilan ekolokasi dapat berupa frekuensi termodulasi (FM, bervariasi dalam nada selama panggilan) atau frekuensi konstan (CF). FM menawarkan diskriminasi jarak yang tepat untuk melokalisasi mangsa, dengan mengorbankan jangkauan operasional yang berkurang. CF memungkinkan kecepatan dan pergerakan mangsa dideteksi melalui efek Doppler. FM mungkin paling baik untuk lingkungan yang dekat dan berantakan, sementara CF mungkin lebih baik di lingkungan terbuka atau untuk berburu sambil bertengger.
Hewan yang melakukan ekolokasi meliputi mamalia, terutama odontoceti (paus bergigi) dan beberapa spesies kelelawar, serta spesies dalam kelompok lain seperti celurut dengan menggunakan bentuk yang lebih sederhana. Beberapa spesies burung dalam dua kelompok burung penghuni gua melakukan ekolokasi, yaitu sriti dan burung minyak.
Beberapa hewan mangsa yang diburu oleh kelelawar yang melakukan ekolokasi mengambil tindakan pencegahan aktif untuk menghindari penangkapan. Tindakan ini meliputi penghindaran predator, pengalihan serangan, dan penggunaan klik ultrasonik, yang telah mengembangkan berbagai fungsi termasuk aposematisme, mimikri spesies yang dilindungi secara kimiawi, dan pengacauan ekolokasi.
Penelitian awal
Istilah ekolokasi diciptakan pada tahun 1944 oleh ahli zoologi Amerika Donald Griffin, yang bersama Robert Galambos, pertama kali menunjukkan fenomena tersebut pada kelelawar. Seperti yang dijelaskan Griffin dalam bukunya, ilmuwan Italia abad ke-18 Lazzaro Spallanzani, melalui serangkaian percobaan yang rumit, menyimpulkan bahwa ketika kelelawar terbang di malam hari mereka mengandalkan indra selain penglihatan, tetapi ia tidak menemukan bahwa indra lainnya adalah pendengaran. Dokter dan naturalis Swiss Louis Jurine mengulangi percobaan Spallanzani (menggunakan spesies kelelawar yang berbeda), dan menyimpulkan bahwa ketika kelelawar berburu di malam hari, mereka mengandalkan pendengaran. Pada tahun 1908, Walter Louis Hahn mengonfirmasi temuan Spallanzani dan Jurine.
Pada tahun 1912, penemu Hiram Maxim secara independen mengusulkan bahwa kelelawar menggunakan suara di bawah jangkauan pendengaran manusia untuk menghindari rintangan. Pada tahun 1920, ahli fisiologi Inggris Hamilton Hartridge dengan tepat mengusulkan bahwa kelelawar menggunakan frekuensi di atas jangkauan pendengaran manusia.
Ekolokasi pada odontoceti (paus bergigi) tidak dijelaskan dengan tepat hingga dua dekade setelah karya Griffin dan Galambos, oleh Schevill dan McBride pada tahun 1956. Namun, pada tahun 1953, Jacques Yves Cousteau menyarankan dalam buku pertamanya yakni The Silent World, bahwa lumba-lumba memiliki sesuatu seperti sonar, dilihat dari kemampuan navigasinya.
Referensi
Bacaan lanjutan
- Provides a variety of findings on signal strength, directionality, discrimination, biology and more.
- Shows evidence for the sensory integration of shape information between echolocation and vision, and presents the hypothesis of the existence of the mental representation of an "echoic image".
Pranala luar
- The DSP Behind Bat Echolocation - analysis of several kinds of bat echolocation
- International Bioacoustics Council - links to many bioacoustics resources
- British Library Sound Archive: Listen to Nature - has bat and swiftlet sonar signals
- Bat Ecology & Bioacoustics Lab
- University of Maryland Bat Research Lab - website of Cynthia Moss
- Batlab at Brown University - JA Simmons Lab website
- Morcegoteca Program for Biodiversity Research (PPBio)
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29213275 (2026-05-11T03:54:37Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.