Regulasi makroprudensial
Regulasi makroprudensial merupakan pendekatan regulasi keuangan yang bertujuan untuk memitigasi risiko terhadap sistem keuangan secara menyeluruh (atau "risiko sistemik"). Pasca krisis keuangan 2007–2008, terdapat kesepakatan yang berkembang di kalangan pembuat kebijakan dan ekonom mengenai perlunya mengarahkan kembali kerangka regulasi menuju perspektif makroprudensial.
Sejarah
Menurut dokumentasi Clement (2010), istilah “makroprudensial” pertama kali digunakan pada akhir dekade 1970-an dalam dokumen milik Komite Cooke (pendahulu Komite Basel untuk Pengawasan Perbankan ) dan Bank of England. Baru pada awal tahun 2000an—setelah dua dekade krisis keuangan berulang di negara-negara industri dan negara-negara pasar berkembang —pendekatan makroprudensial terhadap kerangka regulasi dan pengawasan mulai semakin dipromosikan, khususnya oleh otoritas Bank for International Settlements. Kesepakatan yang lebih luas mengenai relevansinya telah dicapai sebagai hasil krisis keuangan 2007–2008.
Tujuan dan Justifikasi
Tujuan utama regulasi makroprudensial adalah untuk mengurangi risiko dan biaya makroekonomi dari instabilitas keuangan. Regulasi ini dipandang sebagai bagian penting dalam upaya menjembatani kesenjangan antara kebijakan makroekonomi dan regulasi mikroprudensial tradisional di institusi keuangan.
Dasar Teori
Secara teoretis, telah dinyatakan bahwa reformasi regulasi prudensial harus mengintegrasikan tiga paradigma yang berbeda, yakni: paradigma agensi, paradigma eksternalitas, dan paradigma perubahan suasana hati. Peran regulasi makroprudensial secara khusus ditekankan oleh dua hal terakhir.
Paradigma agensi menyoroti pentingnya masalah prinsipal–agen. Risiko prinsipal-agen muncul akibat pemisahan kepemilikan dan kontrol atas suatu institusi, yang dapat mendorong perilaku agen yang memegang kendali, yang tidak sejalan dengan kepentingan terbaik para prinsipal (pemilik). Argumen utama dari paradigma ini adalah bahwa dalam perannya sebagai pemberi pinjaman terakhir dan penyedia asuransi simpanan, pemerintah mengubah insentif bank untuk menanggung risiko. Hal ini merupakan manifestasi dari masalah prinsipal-agen yang dikenal sebagai bahaya moral. Secara lebih konkret, ko-eksistensi asuransi simpanan dan portofolio perbankan yang tidak diatur secara memadai mendorong lembaga keuangan mengambil risiko yang berlebihan. Namun, paradigma ini berasumsi bahwa risiko muncul dari kelalaian individu, sehingga bertentangan dengan pendekatan makroprudensial yang kental dengan penekanan sistemiknya.
Pada paradigma eksternalitas, konsep kuncinya disebut eksternalitas uang. Hal ini didefinisikan sebagai eksternalitas yang muncul ketika tindakan satu agen ekonomi memengaruhi kesejahteraan agen lain melalui dampaknya pada harga. Seperti yang dikemukakan oleh Greenwald dan Stiglitz (1986), ketika terjadi distorsi dalam perekonomian, intervensi kebijakan dapat menguntungkan semua orang dalam pengertian efisiensi Pareto. Sejumlah penulis telah menunjukan bahwa ketika agen menghadapi kendala pinjaman atau berbagai jenis gesekan keuangan lainnya, eksternalitas finansial dan berbagai distorsi muncul, seperti pinjaman berlebih, pengambilan risiko berlebihan, dan tingkat utang jangka pendek yang berlebihan. Dalam lingkungan ini intervensi makroprudensial dapat meningkatkan efisiensi sosial. Sebuah studi kebijakan dari Dana Moneter Internasional menyatakan bahwa risiko eksternalitas antara lembaga keuangan terhadap perekonomian riil merupakan kegagalan pasar yang membenarkan regulasi makroprudensial.
Dalam paradigma perubahan suasana hati, pandangan Keynes secara kritis memengaruhi perilaku pengelola institusi keuangan, menyebabkan optimisme berlebihan pada saat-saat stabil dan penyesuaian risiko mendadak pada saat buruk. Akibatnya, sinyal harga di pasar keuangan mungkin tidak efisien dan meningkatkan kemungkinan timbulnya masalah sistemik. Oleh karena itu, pengawas makroprudensial yang berorientasi jangka panjang memiliki peran penting untuk memoderasi ketidakpastian dan tetap waspada terhadap risiko inovasi keuangan.
Referensi
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29437271 (2026-07-09T20:38:34Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.