Lompat ke isi

Stagnasi air

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 29 Agustus 2026 03.27 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28661302; atribusi sumber disertakan.)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Stagnasi air merupakan kondisi ketika air berada di satu tempat tanpa mengalami pergerakan dalam jangka waktu yang lama. Apabila air mengalir terus diperbarui melalui sirkulasi, maka air tergenang bersifat statis yang muncul akibat aliran yang terhambat. Kondisi ini dapat dijumpai pada pipa, tangki, genangan di permukaan tanah, pancuran air minum, serta badan air kecil seperti parit dan kolam. Dalam sistem perpipaan bangunan, stagnasi air terjadi di ruang yang tidak digunakan, atau ketika bagian jaringan perpipaan air tidak berfungsi dengan baik.

Penyebab

Penyebab stagnasi air mencakup faktor hidrologis dan lingkungan yang menghambat pergerakan air. Ketiadaan saluran pembuangan yang memadai dapat menyebabkan akumulasi air pada daerah rendah atau saluran drainase yang tersumbat, sehingga air tetap berada di tempat dalam waktu lama. Ketika pasokan air segar berkurang, pembaruan volume air menjadi terhambat dan mengganggu kelancaran sirkulasi air. Faktor hambatan fisik berupa sampah, vegetasi, atau sedimen dapat menghalangi aliran alami, menyebabkan terbentuknya genangan. Faktor lain yang turut memengaruhi terjadinya stagnasi air adalah kurangnya aerasi, karena ketiadaan sirkulasi dan pergerakan air membatasi proses pencampuran dengan udara sehingga air tetap dalam kondisi diam. Kombinasi dari faktor-faktor tersebut berperan dalam menciptakan kondisi stagnasi yang terdapat pada kawasan perkotaan maupun lingkungan alami.

Bahaya

Dalam jaringan pasokan air di wilayah perkotaan, aliran air tidak berhenti sepenuhnya akibat dari kebutuhan air yang terus berjalan. Hal ini berbeda dalam sistem bangunan, air dapat tidak terpakai dalam waktu lama akibat pola penggunaan air individu, sehingga memberikan waktu yang cukup lama bagi terjadinya proses biologis.

Air yang tidak mengalami pergerakan dan tidak mendapatkan aerasi yang cukup dapat mendukung pembentukan biofilm. Air tergenang dapat menjadi media bagi pertumbuhan mikroorganisme dan perkembangbiakan organisme patogen, termasuk Legionella, Escherichia coli (E. coli), mikobakteria non-tuberkulosis, serta Pseudomonas yang berasosiasi dengan infeksi saluran pernapasan seperti pneumonia. Malaria dan demam berdarah merupakan bahaya yang muncul akibat stagnansi air, genangan air berfungsi sebagai habitat perkembangbiakan nyamuk vektor, seperti Anopheles sebagai penular malaria dan Aedes aegypti sebagai penular demam berdarah.

Referensi

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28661302 (2025-12-04T15:09:04Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.