Lompat ke isi

Aturan prioritas Cahn–Ingold–Prelog

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 29 Agustus 2026 03.57 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28683365; atribusi sumber disertakan.)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Dalam bidang kimia organik, aturan prioritas Cahn–Ingold–Prelog (CIP) berfungsi sebagai pedoman standar yang memastikan setiap stereoisomer dapat dinamai dengan cara yang konsisten dan tidak ambigu. Aturan ini—yang berasal dari karya Cahn, Ingold, dan Prelog—menetapkan sistem prioritas yang memungkinkan penamaan struktur stereokimia secara tepat dalam tata nama senyawa kimia. Sistem CIP dirancang untuk memberikan label R atau S pada setiap pusat kiral dan E atau Z pada setiap ikatan rangkap, sehingga seluruh konfigurasi stereokimia suatu molekul dapat dinyatakan secara tepat melalui nama sistematisnya. Setiap pusat kiral maupun ikatan rangkap biasanya berkontribusi pada dua kemungkinan bentuk isomer. Karena itu, molekul dengan pusat kiral umumnya akan memiliki jenis stereoisomer, yang tersusun atas pasang diastereomer dan masing-masing pasang tersebut memiliki dua enantiomer. Aturan CIP memungkinkan penamaan stereoisomer secara akurat pada semua molekul organik yang pusat atomnya memiliki tingkat koordinasi di bawah 4, serta berlaku pula untuk pusat dengan koordinasi 6. Di sini, tingkat koordinasi berarti jumlah atom yang langsung terikat pada pusat tersebut.

Makalah fundamental mengenai aturan urutan CIP pertama kali terbit pada 1966, kemudian mengalami beberapa penyempurnaan, hingga akhirnya diadopsi secara resmi oleh IUPAC pada 1974 sebagai bagian dari standar penamaan senyawa organik. Sejak itu, aturan ini telah direvisi beberapa kali, dengan revisi terbaru dimuat dalam edisi 2013 buku Nomenclature of Organic Chemistry. Versi IUPAC menjadi acuan formal yang menegaskan bahwa metode CIP mencakup senyawa dengan ligansi hingga 4, diperluas hingga ligansi 6, dan berlaku untuk seluruh jenis konfigurasi maupun konformasi. Meski demikian, IUPAC menekankan bahwa untuk kasus-kasus kompleks, pengguna tetap dianjurkan mempelajari makalah asli—khususnya publikasi tahun 1966—karena pengantar dalam dokumentasi resmi hanya cukup untuk kasus yang relatif sederhana.

Artikel terbaru mengajukan revisi terhadap sebagian aturan CIP—khususnya aturan urutan 1b dan 2—karena ditemukan jenis molekul yang deskriptor stereokimianya sulit ditentukan dengan jelas. Kendati demikian, ada persoalan lain yang belum terselesaikan: dalam beberapa kasus langka, dua stereoisomer suatu molekul ternyata memperoleh deskriptor CIP yang identik. Akibatnya, sistem CIP tidak selalu mampu memberikan nama stereokimia yang benar-benar tidak ambigu, sehingga metode penamaan lain terkadang lebih tepat digunakan.

Tahap penamaan

Prosedur penamaan berdasarkan aturan CIP biasanya melibatkan tiga tahap utama, mengikuti pedoman resmi IUPAC mengenai penamaan stereokimia.

  1. Menentukan adanya pusat kiral serta posisi ikatan rangkap dalam struktur molekul;
  2. Memberikan urutan prioritas pada setiap substituen sesuai aturan penentuan prioritas CIP; dan
  3. Menetapkan konfigurasi stereokimia menggunakan deskriptor R atau S, serta E atau Z, untuk menghasilkan penamaan yang tidak ambigu.

Penjelasan lebih teknis dapat ditemukan dalam literatur stereokimia modern, seperti yang dibahas oleh Hanson et.al. dalam analisis algoritmik aturan CIP.

Contoh

Contoh-contoh berikut menunjukkan bagaimana aturan penamaan itu digunakan dalam praktik.

Lihat pula

Referensi

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28683365 (2025-12-10T08:30:36Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.