Lompat ke isi

Emetin

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 29 Agustus 2026 17.37 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 27408508; atribusi sumber disertakan.)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Emetin adalah obat yang digunakan sebagai agen antiprotozoa dan untuk menginduksi muntah. Obat ini diproduksi dari akar ipeka. Namanya diambil dari sifat antimuntahnya.

Preparasi awal

Penggunaan awal emetin adalah dalam bentuk pemberian ekstrak akar ipeka atau ipecacuanha secara oral. Ekstrak ini awalnya dianggap hanya mengandung satu alkaloid yakni emetin, tetapi ternyata mengandung beberapa alkaloid termasuk sefaelin, psikotrin, dan lainnya. Meskipun terapi ini dilaporkan berhasil, ekstrak tersebut menyebabkan muntah pada banyak pasien, yang mengurangi kegunaannya. Dalam beberapa kasus, obat ini diberikan bersama opioid untuk mengurangi mual. Pendekatan lain untuk mengurangi mual melibatkan tablet berlapis, yang memungkinkan obat dilepaskan setelah dicerna di lambung.

Dehidroemetin

Dehidroemetin merupakan agen antiprotozoa yang diproduksi secara sintetis, mirip dengan emetin dalam sifat dan struktur anti-amuba (perbedaannya hanya pada ikatan ganda di dekat gugus etil), tetapi menghasilkan lebih sedikit efek samping.

Sefaelin

Sefaelin adalah analog desmetil dari emetin yang juga ditemukan di akar ipeka.

Kegunaan dalam menghambat sintesis protein

Emetin dihidrokloro hidrat digunakan di laboratorium untuk memblokir sintesis protein dalam sel eukariotik. Zat ini bekerja dengan mengikat subunit 40S ribosom. Zat ini dapat digunakan dalam studi degradasi protein dalam sel. Mutan yang resistan terhadap emetin diubah dalam subunit ribosom 40S (protein S14), dan mereka menunjukkan resistensi silang terhadap kriptopleurin, tilokrebrin, sefaelin, dan tubulosin, tetapi tidak terhadap penghambat sintesis protein lainnya. Senyawa yang menyebabkan resistensi silang mutan ini telah terbukti memiliki determinan struktural yang sama dengan emetin yang bertanggung jawab atas aktivitas biologisnya.

Biosintesis

Biosintesis sefaelin dan emetin berasal dari dua jalur biosintesis utama: biosintesis dopamin dari L-tirosina dan biosintesis sekologanin dari geranil difosfat. Biosintesis dimulai dari reaksi antara dopamin dan sekologanin yang membentuk N-deasetilisoipekosida (bentuk S) dan N-deasetilipekosida (bentuk R). Bentuk S kemudian mengalami reaksi tipe Pictet-Spengler yang diikuti oleh serangkaian O-metilasi dan penghilangan glukosa, dengan O-metiltransferase dan glikosidase, untuk membentuk proemetin. Proemetin kemudian bereaksi dengan molekul dopamin lain untuk membentuk 7'-O-demetilsefaelin. Produk akhir kemudian diproduksi dengan 7'-O-metilasi untuk membuat sefaelin dan 6'-O-metilasi berturut-turut untuk membuat emetin.

Efek samping

Penggunaan emetin yang berlebihan dapat menimbulkan risiko timbulnya miopati proksimal dan/atau kardiomiopati.

Penelitian

Sebuah studi tahun 2018 di Universitas Princeton dan Universitas Thomas Jefferson telah menunjukkan bahwa emetin menghambat penyebaran virus rabies di dalam sel saraf, tetapi mekanisme pastinya masih dalam penyelidikan. Emetin tidak memiliki efek pada pengangkutan endosom yang tidak mengandung virus rabies. (Rabies berada di endosom saraf). Namun, endosom yang membawa virus tersebut tidak dapat bergerak sama sekali, atau hanya dapat bergerak dalam jarak pendek dengan kecepatan yang lebih lambat dari biasanya.

Pada tahun 2016, sebuah studi menemukan bahwa dosis rendah emetin menghambat replikasi Cytomegalovirus dan bersinergi dengan gansiklovir.

Referensi

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 27408508 (2025-06-15T05:09:30Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.