Lompat ke isi

Mappuka'

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 29 Agustus 2026 22.46 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29076134; atribusi sumber disertakan.)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Mappuka' adalah upacara tradisional nelayan di pesisir Sulawesi Selatan. Mappuka berasal dari kata puka atau pukat, yaitu alat tangkap ikan nelayan. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Luwu Utara, suku Bajo, dan suku Mandar. Di daerah Kajang Kabupaten Bulukumba, terdapat ritual adat serupa yang dikenal dengan nama Attahuru Bente. Perubahan kondisi sosial-ekonomi masyarakat setempat menjadikan upacara ini jarang dilangsungkan.

Pelaksanaan

Mappuka dilangsungkan di pantai selama tujuh hari tujuh malam sebagai peresmian atau doa keselamatan bagi pukat baru. Jauh sebelum waktu pelaksanaan upacara, pukat baru dipasang di laut dekat pantai.

Pada hari acara, raja beserta wakilnya dan para masyarakat hadir untuk menyaksikan upacara. Masyarakat menyiapkan konsumsi acara berupa nasi. Sementara itu, lauknya berupa ikan yang diambil oleh para pria. Sambil menunggu ikan ditangkap, diadakan pula kegiatan lain seperti sabung ayam dan pertunjukan kesenian rakyat seperti ammencak, pelanca, serta paraga assemba. Di Baruga, raja, anggota Hadat, Sanro, dan pemilik pukat berkumpul menyaksikan jalannya acara.

Dari hulu sungai, para pria memainkan gendang di atas perahu untuk menggiring ikan ke muara tempat pukat dipasang. Ketika air laut surut dan perahu tiba di muara, pengunjung turun ke laut dengan alat tangkap masing-masing, seperti jala, sero, tombak, atau panah. Ikan terbesar yang diperoleh dipersembahkan kepada raja, sedangkan ikan-ikan lainnya menjadi milik warga. Sementara itu, kaum perempuan bergotong royong menyiapkan kayu bakar dan memasak. Puncak upacara ditandai dengan makan bersama, didahului doa untuk keselamatan nelayan dan keberkahan pukat baru. Pembacaan doa berlangsung di Baruga dan dipimpin oleh sanro.

Dalam budaya Mandar

Bagi masyarakat Mandar, Mappuka’ merupakan kegiatan menangkap ikan dengan jaring insang yang oleh nelayan Mandar disebut puka atau pukat. Alat ini dipakai khusus oleh nelayan untuk menangkap ikan terbang menggunakan perahu jenis katitting. Nelayan berangkat menuju habitat ikan terbang, lalu menghadang dan menggiringnya masuk ke dalam pukat. Aktivitas ini biasanya dilakukan oleh dua hingga tiga orang nelayan pada waktu subuh dan berakhir sekitar tengah hari.

Referensi

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29076134 (2026-03-27T09:16:51Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.