Lompat ke isi

Jukung tambangan

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 30 Agustus 2026 03.31 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28468494; atribusi sumber disertakan.)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Jukung tambangan adalah sebuah perahu tradisional buatan suku Banjar dari Kalimantan Selatan. Perahu tersebut biasanya dipakai untuk transportasi sungai. Perahu tersebut telah ada sejak setidaknya pertengahan abad ke-18. Perahu tersebut tak lagi terlihat di Banjarmasin sejak sekitar 1950-an dan sekitar 1970-an di Sungai Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Etimologi

Kata jukung digunakan sebagai istilah umum untuk mendeskripsikan semua jenis perahu, terutama untuk perahu lesung. Karenanya, pada kata bahasa Dayak dan Banjar jukung secara khusus dikaitkan dengan jenis-jenis perahu itu. Ini mungkin berasal dari kata Austronesia d’u(n)kung.

Deskripsi

Jukung tambangan terbuat dari kayu ulin (kayu besi Kalimantan). Ada ukiran daun jaruju melayap (Acanthus ilicifolius) di dekat garis air. Jukung tambangan bukanlah perahu kayu (dugout canoe), karena ia membutuhkan lunas dalam konstruksinya. Ia sengaja tidak dibangun menggunakan paku besi, tetapi menggunakan teknik pasak. Susunan papan menggunakan carvel built (susun rata). Pada pertengahan abad ke-19, atap sirap dari kayu ulin digunakan dan diperdagangkan. Atap itu diproduksi di Dusun Hulu dan dijual atau dibarter ke Banjarmasin. Atap sirap itu hanya dapat dipasang dengan sejenis paku besi, bukan dengan pasak kayu. Salah satu contoh jukung tambangan memiliki panjang 12,40 meter, lebar 1,34 meter, dan kedalaman 59 cm.

Peran

Fungsi jukung tambangan adalah untuk transportasi, sebelumnya hanya digunakan oleh pedagang, bangsawan, dan orang kaya. Namun, sejak awal abad ke-20 (atau setidaknya akhir abad ke-19), mereka telah secara luas digunakan oleh orang biasa untuk transportasi penumpang, reuni keluarga, acara pemakaman, pernikahan, dan banyak lagi. Mereka juga mengambil bagian dalam pasar terapung setempat. Pasar terapung orang Banjar sudah ada sejak setidaknya tahun 1600-an.

Selama Perang Banjar (1859–1906), jukung tambangan digunakan oleh para pejuang Banjar, antara lain, ketika mereka menyerang Belanda di Margasari pada malam 16 Desember 1861, dan digunakan untuk melarikan diri ke sungai Jaya, anak sungai Nagara.

Galeri

Lihat juga

Referensi

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28468494 (2025-11-14T01:12:47Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.