Apriori dan aposteriori
Apriori ('berprasangka sebelum mengetahui’) dan aposteriori ('setelah diketahui') adalah istilah yang digunakan dalam filsafat dan linguistik untuk membedakan jenis pengetahuan, pembenaran, atau argumen berdasarkan ketergantungannya pada pengalaman. Kata apriori dan aposteriori sendiri berasal dari ungkapan bahasa Latin. Secara garis besar, sebuah proposisi dikategorikan sebagai apriori jika proposisi tersebut diketahui atau dianggap sebagai kebenaran dengan bersifat independen tanpa perlu adanya pengalaman. Sebaliknya, proposisi dianggap sebagai aposteriori jika pengetahuan dan/atau pembenarannya bergantung pada bukti empiris. Sebagai contoh, proposisi ‘Hari ini cerah di London’ dapat dianggap sebagai aposteriori, sedangkan proposisi ‘Hari ini cerah atau tidak cerah di London’ dapat dianggap apriori.
Bidang pengetahuan di mana pembenaran apriori lebih dominan antara lain matematika dan logika formal; sebaliknya, sebagian besar ilmu pengetahuan umumnya melibatkan pembenaran aposteriori.
Dalam sejarah filsafat, pembedaan apriori dan aposteriori pertama kali muncul dalam tulisan ahli logika abad ke-14 Albert dari Sachsen, di mana ungkapan tersebut digunakan untuk membedakan antara argumen ‘dari sebab ke akibat’ (apriori) dan ‘dari akibat ke sebab’ (aposteriori). Sebagai pembedaan epistemologis, hal ini menjadi menonjol melalui karya Immanuel Kant Critique of Pure Reason, di mana hubungannya dengan pembedaan analitik–sintetik dibahas.
Referensi
Bacaan lebih lanjut
- .
Pranala luar
- A priori / a posteriori – in the Philosophical Dictionary online.
- "Rationalism vs. Empiricism" – an article by Peter Markie in the Stanford Encyclopedia of Philosophy.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29454370 (2026-07-13T19:30:48Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.