Keberuntungan
Keberuntungan adalah fenomena dan kepercayaan yang mendefinisikan pengalaman akan peristiwa-peristiwa yang mustahil, terutama yang kemungkinan positif atau negatifnya sangat besar. Interpretasi naturalistik menyatakan bahwa peristiwa positif dan negatif dapat terjadi kapan saja, baik karena proses alami maupun buatan yang acak maupun tidak acak, dan bahwa bahkan peristiwa yang mustahil pun dapat terjadi secara kebetulan. Dalam pandangan ini, julukan "beruntung" atau "tidak beruntung" merupakan label deskriptif yang merujuk pada hal positif, negatif, atau ketidakmungkinan suatu peristiwa.
Penafsiran supranatural tentang keberuntungan menganggapnya sebagai atribut seseorang atau benda, atau hasil dari pandangan positif atau negatif terhadap dewa tertentu. Penafsiran ini sering kali menjelaskan bagaimana keberuntungan atau kesialan dapat diperoleh, misalnya dengan membawa jimat keberuntungan atau mempersembahkan kurban atau doa kepada dewa. Mengatakan seseorang "terlahir beruntung" dapat memiliki arti yang berbeda, tergantung pada penafsirannya: bisa saja berarti bahwa mereka dilahirkan dalam keluarga atau lingkungan yang baik; atau bahwa mereka secara rutin mengalami peristiwa positif yang tak terduga, karena suatu sifat bawaan, atau karena kebaikan hati dewa atau dewi seumur hidup dalam agama monoteistik atau politeistik.
Pandangan ilmiah
Berbagai pemikir seperti Thomas Kuhn telah membahas peran peluang dalam penemuan-penemuan ilmiah. Richard Wiseman melakukan studi ilmiah selama sepuluh tahun tentang hakikat keberuntungan yang mengungkapkan bahwa, pada umumnya, manusia menciptakan nasib baik dan buruk mereka sendiri. Penelitiannya mengungkapkan bahwa "Orang yang beruntung menghasilkan nasib baik mereka sendiri melalui empat prinsip dasar. Mereka terampil dalam menciptakan dan memperhatikan peluang, membuat keputusan yang menguntungkan dengan mendengarkan intuisi mereka, menciptakan ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya melalui ekspektasi positif, dan mengadopsi sikap tangguh yang mengubah nasib buruk menjadi baik." Para peneliti juga mengungkapkan bahwa keberuntungan dan suasana hati yang baik sering terjadi bersamaan (Duong & Ohtsuka, 2000) dan bahwa orang-orang yang percaya bahwa mereka beruntung sering kali lebih bahagia dan optimis, sedangkan orang-orang yang percaya bahwa mereka tidak beruntung mungkin merasa selalu cemas dan tertekan (Day & Maltby, 2003; Wiseman, 2003). Keberuntungan juga dapat berkorelasi dengan perilaku takhayul yang meningkatkan peluang terjadinya keberuntungan seperti menghindari berjalan di bawah tangga atau meniup ke kiri dan ke kanan supaya perjalanan aman sebelum menyeberangi rel kereta api, yang secara tidak sengaja meningkatkan peluang untuk melihat kereta yang datang.
Bibliografi
- Gunther, Max. "The Luck Factor" Harriman House Ltd 1977.
- Hartman, Robert (ed.), Routledge Handbook of the Philosophy and Psychology (London: Routledge, 2019).
- Mlodinow, Leonard. "The Drunkard's Walk: How Randomness Rules Our Lives" Penguin Group, 2008.
- Mauboussin, Michael. "The Success Equation: Untangling Skill and Luck in Business, Sports, and Investing." Harvard Business Review Press, 2012
- Rosenthal, Jeff, Knock on Wood: Luck, Chance, and the Meaning of Everything, HarperCollins, 2018
- Rescher, Nicholas. "Luck", Farrar Straus Giroux 1995. Reissued University of Pittsburgh Press, 2001
- Sauder, M. (2020). A Sociology of Luck. Sociological Theory.
- Taleb, Nassim N. "Fooled by Randomness: The Hidden Role of Chance in Life and in the Markets" Random House 2001
Referensi
Pranala luar
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28694941 (2025-12-13T12:25:06Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.