Teori geosinklin

Teori geosinklin ialah teori yang dikemukakan oleh James Hall pada tahun 1811-1898.[1] Teori ini menyatakan bahwa suatu daerah sempit pada kerak bumi mengalami depresi selama beberapa waktu sehingga terendapkan secara ekstrem sedimen yang tebal. Proses pengendapan ini menyebabkan Subdisence (penurunan) pada dasar cekungan. Endapan sedimen yang tebal dianggap berasal dari sedimen akibat proses orogenesa yang membentuk pegunungan lipatan (orogenesa) dan selama proses ini endapan sedimen yang telah terbentuk akan mengalami metamorfosis.
Batuan yang terdeformasi di dalamnya diduga sebagai akibat menyempitnya cekungan karena terus menurunnya sehingga berbatuan terlipat dan tersesarkan.
Pergerakan yang terjadi diduga merupakan pergerakan vertikal akibat gaya isostasi.
Teori ini mempunyai kelemahan yaitu tidak mampu menjelaskan asal-usul aktivitas vulkanik dengan baik dan logis. Keteraturan aktivitas vulkanik sangatlah tidak bisa dijelaskan secara eksplisit dengan teori geosinklin.
Pada intinya, para ilmuwan menganggap bahwa gaya yang bekerja pada kerak Bumi merupakan hasil gaya vertikal. Artinya, semua deformasi yang terjadi diakibatkan oleh gaya utama yang berarah tegak lurus dengan bidang yang terdeformasi.
Referensi
- ↑ Indonesia Dokumen. Teori Geosinklin dan Teori Tektonik Lempeng. 19 Februari 2018.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28712947 (2025-12-18T02:40:24Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.