Lompat ke isi

Akal sehat

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 26 Agustus 2026 23.03 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Aristotle Altemps Inv8575

Akal sehat, akal budi, nalar wajar, atau nalar umum adalah penilaian yang masuk akal dan praktis mengenai masalah sehari-hari atau kemampuan dasar untuk melihat, memahami, dan menilai dengan cara yang umumnya dimiliki oleh hampir semua orang.[1]

Pemahaman sehari-hari mengenai akal sehat berasal dari perbincangan filsafat sejarah yang melibatkan beberapa bahasa Eropa. Istilah terkait dalam bahasa lain termasuk Latin ', Yunani ('), dan Prancis '.[2] "Akal sehat" juga mempunyai setidaknya dua makna filosofis secara khusus. Salah satunya adalah kemampuan jiwa hewan (, ) yang diusulkan oleh Aristoteles, yang memungkinkan indra individu yang berbeda untuk secara bersama melihat ciri-ciri benda fisik seperti gerakan dan ukuran, yang semua benda fisik miliki ada dalam kombinasi yang berbeda, memungkinkan orang dan hewan lain membedakan dan mengenali benda fisik. Akal sehat ini berbeda dari persepsi indrawi dasar dan dari pemikiran rasional manusia, tetapi bekerja sama dengan kedua-duanya. Penggunaan khusus kedua istilah ini dipengaruhi oleh Romawi dan digunakan untuk kepekaan alami manusia terhadap manusia lain dan komunitas.[3] Sama seperti makna sehari-hari, kedua-duanya mengacu pada jenis kesadaran dasar dan kemampuan untuk menilai bahwa kebanyakan orang diharapkan untuk berbagi secara alami, bahkan jika mereka tidak dapat menjelaskan alasannya. Semua makna "akal sehat", termasuk makna sehari-hari, saling berhubungan dalam sejarah yang kompleks dan telah berkembang selama debat politik dan filsafat yang penting dalam peradaban Barat, terutama yang berkaitan dengan sains, politik, dan ekonomi.[4]

Sejak Abad Pencerahan, istilah "akal sehat" telah digunakan untuk efek retoris, baik secara setuju sebagai standar untuk selera yang baik dan sumber aksioma ilmiah dan logis, maupun secara tidak setuju setara dengan prasangka kasar dan takhayul.[5] Pada awal abad ke-18, istilah filsafat ini pertama kali memperoleh makna modern: "Kebenaran-kebenaran yang jelas dan terbukti dengan sendirinya atau kearifan lazim yang tidak memerlukan kecanggihan untuk dipahami dan tidak ada bukti untuk diterima dengan tepat karena sangat cocok dengan kemampuan intelektual dasar (akal sehat) dan pengalaman seluruh tubuh sosial."[6] Ini dimulai dengan kritik Descartes terhadapnya, dan yang kemudian dikenal sebagai perselisihan antara "rasionalisme" dan "empirisme". Dalam baris pembuka salah satu bukunya yang paling terkenal, Wacana Tentang Metode, Descartes menetapkan makna modern yang paling umum dan kontroversinya ketika ia menyatakan bahwa setiap orang mempunyai akal sehat () yang sama dan memadai, tetapi jarang digunakan dengan baik. Oleh sebab itu, metode logis skeptis yang diterangkan oleh Descartes perlu diikuti dan akal sehat tidak boleh terlalu diandalkan.[7] Pada Zaman Pencerahan abad ke-18 yang berikutnya, akal sehat mulai dilihat secara lebih positif sebagai dasar pemikiran modern. Ini berkontras dengan metafisika yang dikaitkan dengan seperti Kartesianisme. Pamflet polemik Common Sense (1776) Thomas Paine telah digambarkan sebagai pamflet politik paling berpengaruh pada abad ke-18 yang memengaruhi revolusi Amerika dan Prancis.[8] Pada saat ini, konsep akal sehat dan cara terbaik untuk menggunakannya tetap dihubungkan dengan banyak topik yang paling abadi dalam epistemologi dan etika dengan fokus khusus yang sering diarahkan pada filsafat ilmu sosial modern.

Kritik terhadap penggunaan istilah

Johann Gottlieb Fichte dan Friedrich Wilhelm Joseph Schelling, tapi yang terutama Georg Wilhelm Friedrich Hegel menyatakan penolakan yang sangat tegas: akal sehat hanya menyajikan kebenaran-kebenaran sepele..[9] Hegel mengidentifikasi istilah‑istilah seperti “inspirasI, wahyu hati, … akal sehat" dan melihatnya sebagai ungkapan kebencian akal terhadap dirinya sendiri (Misologi).[10]

Rene Descartes, seorang sarjana serba bisa, mencatat bahwa akal sehat adalah "hal yang paling merata di dunia, karena setiap orang merasa memilikinya." Namun ia menambahkan bahwa yang disebut akal sehat itu kekurangan hal-hal yang membuat akal benar‑benar matang: keraguan yang kritis, kemampuan menganalisis, penalaran induktif, dan pengujian. [11]

Referensi

  1. "common sense." Merriam-Webster Online Dictionary: "sound and prudent judgment based on a simple perception of the situation or facts." "common sense." Cambridge Dictionary: "the basic level of practical knowledge and judgment that we all need to help us live in a reasonable and safe way." : "common sense consists of knowledge, judgement, and taste which is more or less universal and which is held more or less without reflection or argument." C.S. wrote that what common sense "often means" is "the elementary mental outfit of the normal man."
  2. Misalnya, Thomas Reid membandingkan akal sehat dengan pikiran sehat sampai batas tertentu. Lihat .
  3. The Shorter Oxford English Dictionary of 1973 gives four meanings of "common sense": An archaic meaning is "An internal sense which was regarded as the common bond or centre of the five senses"; "Ordinary, normal, or average understanding" without which a man would be "foolish or insane", "the general sense of mankind, or of a community" (two sub-meanings of this are good sound practical sense and general sagacity); A philosophical meaning, the "faculty of primary truths."
  4. Lihat isi artikel ini tentang (misalnya) Descartes, Hobbes, Adam Smith, dan sebagainya. Pamflet Thomas Paine bernama "Common Sense" merupakan keberhasilan penerbitan yang berpengaruh selama kurun waktu menjelang revolusi Amerika.
  5. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  6. Sophia Rosenfeld. Common Sense: A Political History. Harvard Univ Press. 2014. hlm. 23. ISBN 9780674284166.
  7. Bagian I Wacana Tentang Metode. Catatan: istilah dalam bahasa Prancis adalah "" kadang kala diterjemahkan sebagai "pikiran sehat". Baris pembuka dalam terjemahan bahasa Indonesia:
  8. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  9. Georg Wilhelm Friedrich Hegel: Phänomenologie des Geistes. Werke hg. Glockner 3, 64.
  10. Georg Wilhelm Friedrich Hegel: Enzyklopädie der philosophischen Wissenschaften. § 63. 1830.
  11. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 27975122 (2025-10-15T15:37:57Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.