Lompat ke isi

Maurice Merleau-Ponty

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 26 Agustus 2026 23.04 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Maurice Merleau-Ponty

Maurice Merleau-Ponty adalah seorang filsuf Prancis beraliran fenomenologi abad 20.[1] Aliran filsafatnya mula-mula dipengaruhi oleh pemikiran Edmund Husserl dan Martin Heidegger serta Jean Paul Sartre, ketiga filsuf yang mengembangkan fenomenologi sebagai pendekatan ilmu pengetahuan. Akan tetapi, lambat laun Merleau-Ponty memisahkan diri dan memasukkan teori linguistik dari Ferdinand de Saussure dalam buku Levi Strauss.[2] Kalimat terkenal yang ia ucapkan adalah manusia adalah makhluk pencari makna.

Argumen yang gigih untuk signifikansi dasar persepsi dalam pengalaman manusia tentang alam semesta terletak di pusat pemikiran filosofis Merleau-Ponty. Persepsi, menurut Merleau-Ponty, adalah percakapan konstan antara tubuh yang hidup dan dunia yang dilihatnya, di mana para subjek secara pasif dan aktif berusaha mengartikulasikan dunia yang dialami dengan berkolaborasi dengan orang lain. Dia adalah satu-satunya fenomenolog penting yang aktif dalam ilmu pengetahuan selama paruh pertama abad kedua puluh. Tulisan-tulisannya menjadi berpengaruh dalam proyek naturalisasi fenomenologi, di mana para fenomenolog menggunakan temuan-temuan psikologi dan ilmu kognitif.[3]

Merleau-Ponty menekankan tubuh sebagai situs utama untuk mengetahui dunia, membalikkan tradisi filosofis lama yang menempatkan kesadaran sebagai sumber pengetahuan, dan berargumen bahwa tubuh yang merasakan dan dunia yang dialaminya tidak dapat dipisahkan.[4] Artikulasi keunggulan perwujudan (corporéité) membawanya menjauh dari fenomenologi dan menuju apa yang kemudian disebutnya sebagai "ontologi tidak langsung" atau ontologi "daging dunia" (la chair du monde), seperti yang terlihat pada karya terakhirnya yang belum selesai, "The Visible and Invisible", dan esai terakhirnya yang diterbitkan, "Eye and Mind".

Sepanjang kariernya, Merleau-Ponty terlibat dengan Marxisme. Humanism and Terror, bukunya yang terbit pada 1947, secara umum dipandang sebagai dukungan terhadap uji coba fiksi Soviet.[5] Menurut Slavoj Zizek, buku ini menghindari dukungan definitif terhadap posisi Uni Soviet, alih-alih menggunakan teori sejarah Marxis sebagai kritik terhadap liberalisme, untuk mengungkapkan antinomi yang belum terselesaikan dalam politik modern, antara humanisme dan teror: jika nilai-nilai kemanusiaan hanya dapat dicapai melalui kekerasan, dan jika ide-ide liberal menyembunyikan realitas yang tidak liberal, bagaimana tindakan politik yang adil dapat diputuskan? Hingga akhir hayatnya, Merleau-Ponty tetap terlibat tetapi kritis dengan kaum kiri Marxis, terutama selama masa jabatannya sebagai editor politik jurnal Les Temps modernes.

Biografi dan Karier

Merleau-Ponty lahir pada tahun 1908, dan ayahnya meninggal pada Perang Dunia I.[6] Ia Menempuh pendidikan di Lycees Janson-de-Sailly dan Louis-le-Grande, dan pada tahun 1930 mendapat agregasi dalam bidang filsafat di École Normale Supérieure.[7] Dia bersahabat dengan Sartre kurang labih 7 tahun (1945-1952), tetapi setelah itu dia menjadi penentangnya.[8] Sartre yang gigih dengan eksistensialisme, memisahkah "subjek-objek", kemudian menjadi Marxisme garis keras ditolak oleh Merleau-Ponty.[9] Baginya, melalui pengalaman-pengalaman yang ditemui manusia, maka diperoleh faktor lain untuk mencari "esensi" yang tidak mutlak sama pada setiap orang dari pengalamannya, yaitu ciri bahasa, persepsi dan tubuh.[10] Dengan begitu manusia tidak selalu menjadi subjek yang berpikir menentukan semuanya, tetapi dari fenomena yang terjadi, maka realitas sebagai objek dapat berbicara kepada manusia yang juga adalah objek.[11]

Karier Merleau-Ponty berfokus pada masalah persepsi dan kebertubuhan, meneliti hubungan antara pikiran dan tubuh, dunia objektif dan dunia yang dialami, bahasa dan seni, sejarah, politik, dan alam. Dia menggunakan fenomenologi sebagai kerangka berpikir, tetapi juga memanfaatkan penelitian empiris dalam psikologi, antropologi, psikoanalisis, linguistik, dan seni. Referensi historisnya meliputi Rene Descartes, Immanuel Kant, George Wilhelm Friedrich Hegel, dan Karl Marx. Pendekatan Merleau-Ponty bertujuan untuk mengidentifikasi alternatif bagi intelektualisme dan empirisme dengan mengkritik anggapan mereka tentang dunia yang sudah jadi melalui pelibatan karakter pengalaman yang historis dan menubuh.[12]

Lihat pula

Catatan

Pranala luar

Referensi

  1. Johnson Lechte., 50 Fisluf Kontemporer, Yogyakarta: Kanisius, 2001
  2. Johnson Lechte., 50 Fisluf Kontemporer, Yogyakarta: Kanisius, 2001
  3. Maurice Merleau-Ponty. Phenomenology of Perception. Routledge. 2013-04-15. ISBN 978-1-135-71860-2.
  4. Maurice Merleau-Ponty. Phenomenology of Perception. Routledge. 2013-04-15. ISBN 978-1-135-71860-2.
  5. Maurice Merleau-Ponty. Humanism and Terror: The Communist Problem. Routledge. 2017-07-05. ISBN 978-1-351-51426-2.
  6. Johnson Lechte., 50 Fisluf Kontemporer, Yogyakarta: Kanisius, 2001
  7. Johnson Lechte., 50 Fisluf Kontemporer, Yogyakarta: Kanisius, 2001
  8. Johnson Lechte., 50 Fisluf Kontemporer, Yogyakarta: Kanisius, 2001
  9. Johnson Lechte., 50 Fisluf Kontemporer, Yogyakarta: Kanisius, 2001
  10. Johnson Lechte., 50 Fisluf Kontemporer, Yogyakarta: Kanisius, 2001
  11. Johnson Lechte., 50 Fisluf Kontemporer, Yogyakarta: Kanisius, 2001
  12. Maurice Merleau-Ponty. Phenomenology of Perception. Routledge. 2013-04-15. ISBN 978-1-135-71860-2.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28481173 (2025-11-14T07:24:20Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.