Lompat ke isi

Aturan Ostwald

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 27 Agustus 2026 08.34 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29490873; atribusi sumber disertakan.)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Dalam teknik material, aturan Ostwald atau aturan tahapan Ostwald, yang dikemukakan oleh Wilhelm Ostwald, menjelaskan proses pembentukan polimorf. Aturan ini menyatakan bahwa polimorf yang kurang stabil umumnya akan mengkristal terlebih dahulu. Polimorf tersebut juga sering kali merupakan fase yang paling mudah larut. Aturan Ostwald bukanlah hukum yang berlaku secara universal, melainkan kecenderungan umum yang sering diamati di alam.

Fenomena ini dapat dijelaskan berdasarkan termodinamika ireversibel, hubungan struktural antarfase, atau melalui gabungan termodinamika statistika dan perubahan struktur akibat pengaruh suhu. Polimorf yang kurang stabil umumnya memiliki struktur yang lebih menyerupai keadaan zat di dalam larutan, sehingga pembentukannya lebih diuntungkan secara kinetik.

Sebagai contoh, pada proses kristalisasi benzamida dari air panas, mula-mula terbentuk kristal metastabil berbentuk serat. Seiring waktu, kristal tersebut secara spontan berubah menjadi polimorf rombus yang lebih stabil. Contoh lain yang lebih mencolok adalah fosforus. Ketika mengalami sublimasi, fosforus pertama kali membentuk fosforus putih, yang kurang stabil. Selanjutnya, fosforus putih secara perlahan mengalami polimerisasi menjadi alotrop merah yang lebih stabil. Fenomena serupa juga terjadi pada polimorf anatase dari titanium dioksida. Karena memiliki energi permukaan yang lebih rendah, anatase umumnya menjadi fase pertama yang terbentuk melalui kristalisasi dari prekursor amorf maupun dari larutan, meskipun bersifat metastabil. Sebaliknya, rutil merupakan fase kesetimbangan yang stabil pada semua suhu dan tekanan.

Pada pengendapan kalsium karbonat () dari larutan berair, mula-mula terbentuk koloid sol atau gel yang tidak stabil sebagai suspensi berair. Pada suhu kamar, fase tersebut berkembang menjadi vaterit (heksagonal), yaitu polimorf yang paling kurang stabil dan paling mudah larut. Selanjutnya, bergantung pada suhu larutan, vaterit akan berubah menjadi kalsit (heksagonal, atau aragonit (ortorombik, .

Lihat pula

Referensi

Bacaan lebih lanjut


Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29490873 (2026-07-24T09:44:48Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.