Lompat ke isi

Bediding

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 27 Agustus 2026 23.00 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Bediding (bahasa Jawa: ꦧꦼꦣꦶꦣꦶꦁ bedhidhing)[1] adalah istilah untuk menyebut perubahan suhu yang mencolok khususnya di awal musim kemarau. Suhu udara menjadi sangat dingin menjelang malam hingga pagi, sementara di siang hari suhu melonjak hingga panas menyengat. Perubahan suhu yang demikian terjadi selama tiga hingga empat bulan dan selalu pada pertengahan tahun antara bulan Juni sampai Agustus.[2] Bediding juga dikenal sebagai musim bediding yang merupakan musim peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.[3]Namun Arti Kata Bediding memiliki arti lain sebagai gemetar karena takut ketinggian.

Perubahan suhu

Daerah tropis memiliki suhu hangat yang biasanya mempunyai suhu di atas 22 °C. Namun, pada musim bediding, suhu udara di beberapa tempat di selatan Indonesia bisa turun drastis, terutama wilayah dataran tinggi. Misalnya suhu di Purwokerto pada 7 Juli tahun 1996 pukul 03.30 WIB, suhu menyentuh angka 14 °C, kemudian di Kota Malang pada tahun kemarau 2019 mencapai 14 °C di pagi hari.[4] Sementara di Kota Bandung, suhu menyentuh angka 15 °C pada Juli 2018,[5] suhu di Kota Yogyakarta juga turun menjadi sekitar 17 °C pada dini hari,[6] sedangkan di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah pada dini hari Juni 2010 suhunya tembus 15 °C.[7] Lebih dingin lagi, di Dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah serta Dataran tinggi Tengger, Probolinggo, Jawa Timur suhu udara pada musim bediding tahun 2018 mencapai -4 °C,[8][9] sehingga sesekali terdapat hamparan salju tipis saat pagi hari karena embun yang membeku.[10] Rekor terdingin pernah terjadi di sekitaran puncak Gunung Slamet bagian selatan yang notabene merupakan titik terdingin di Jawa suhunya dapat tembus -10 °C.[11] Selain itu, wilayah lain seperti Pulau Bali pun mengalami penurunan suhu ini seperti Kota Denpasar yang suhunya turun hingga 20 °C dan daerah lereng Gunung Agung yang mengalami cuaca dingin ekstrem.[12][13] Wilayah NTB pun juga mengalami fenomena bediding ini dengan penurunan suhu hingga menyentuh angka 16 °C yang tercatat oleh Stasiun Klimatologi Lombok Barat.[14] Di wilayah NTT pun terjadi hal yang sama dengan wilayah Kabupaten Manggarai mengalami penurunan suhu hingga menyentuh angka 9 °C dan Kota Kupang pun mengalami penurunan suhu hingga menyentuh angka 20 °C pada dini hari.[15][16] Oleh karena bediding terjadi pada musim kemarau, hampir dipastikan tidak ada hujan selama periode ini.

Waktu dan proses terjadi

Pergerakan semu matahari

Periode bediding terjadi sekitar bulan Juli hingga Agustus.[17] Musim Bediding terjadi karena pada bulan-bulan tersebut, posisi matahari berada pada posisi terjauh di sebelah utara garis khatulistiwa sehingga menyebabkan belahan bumi sebelah utara menjadi panas dan belahan bumi selatan menjadi dingin. Letak pulau Jawa, Bali, dan Kepulauan Nusa Tenggara yang berada di sebelah selatan garis khatulistiwa menyebabkan wilayah-wilayah menjadi lebih dingin daripada biasanya. Angin musim dingin dari Australia juga turut andil menjadikan pulau Jawa menjadi lebih dingin.

Praktisi Cuaca dan Kelautan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Maritim Tanjung Perak Surabaya, Eko Prasetyo, menjelaskan, saat posisi pergerakan semu matahari tepat di 23,5° Lintang Utara (LU), belahan bumi selatan khususnya Australia memasuki musim dingin. Angin yang bertiup dari Benua Australia atau angin dari Timur dan Tenggara juga memengaruhi suhu udara sebagian besar wilayah di Indonesia. Berdasarkan catatan database BMKG Maritim, suhu minimum yang pernah dicapai tujuh tahun terakhir (sebelum tahun 2007) adalah 19 °C pada tanggal 1 Juni 2004.[18]

Pelepasan kalor ke luar angkasa

Menurut Subekti, Kepala Stasiun Klimatologi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Karangploso, Malang, suhu udara dingin ini dipengaruhi siklus musim kemarau yang menyebabkan terjadinya pelepasan energi bumi langsung ke daerah yang lebih tinggi, sedangkan pada musim penghujan, panas bumi tertahan awan sehingga dipantulkan kembali ke bumi dan suhu udara menjadi lebih panas dibandingkan musim kemarau.[19] Puguh D., prakirawan BMKG Juanda, menjelaskan bahwa fenomena dingin yang dirasakan di sebagian wilayah Indonesia juga dipengaruhi jumlah awan di langit akibat musim kemarau. Karena hampir tidak ada awan saat malam hari, radiasi matahari yang diserap bumi saat siang hari akan kembali ke atas tanpa ada halangan awan sehingga suhu menjadi dingin.[20]

Dampak bediding terhadap pertanian dan peternakan

Pranata mangsa

Menurut pranata mangsa, suhu menurun dan terasa dingin (bediding) terjadi pada periode Mareng-Terang (antara 12 Mei hingga 21 Juni) yang panjangnya adalah 41 hari. Periode ini adalah saat yang tepat untuk menanam palawija; nila, kapas, serta menggarap tegalan untuk menanam jagung.[21]

Peternakan

Menurut peneliti perikanan Universitas Gajah Mada, Kamiso H.N., wabah penyakit pada perikanan sering muncul berhubungan dengan musim. Pada saat musim kemarau, sekitar Juli sampai September, sering muncul berbagai penyakit yang bersifat endemik dan oportunistik. Contohnya Aeromonas hydrophila (MAS), Pseudomonas sp. (BHS), Mycobacterium sp (Mycobacteriosis), dan Ichthyophthirius multifiliis (Ich). Hal tersebut disebabkan keterbatasan persediaan air sehingga kualitas air menurun, bersamaan dengan suhu air yang menjadi rendah. Di belahan bumi selatan Indonesia, musim kemarau bersamaan dengan musim “dingin” (bediding). Penurunan suhu udara akan menurunkan suhu air sehingga ikan menjadi stres, nafsu makan dan daya tahan tubuh menurun.[22]

Perubahan suhu kolam lele yang drastis antara siang dan malam hari selama periode bediding akan menyebabkan penyakit whitespot yang dapat mengakibatkan kematian pada lele. Selain itu, lele mudah terserang banyak penyakit ketika suhu kolam kurang dari 25 °C.[23]

Lihat pula

Pranala luar

Referensi

  1. Sutrisno Sastro Utomo. Kamus Indonesia - Jawa. Gramedia Pustaka Utama. 2015-04-06. ISBN 978-602-03-1470-9.
  2. Situs Virtual Komunitas Warga Jatipuro. Juli 2013. Musim Bediding Musim Bediding.
  3. musim bediding. KBBI Daring. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
  4. Fenomena Langka, Suhu Dingin di Malang hingga 14 Derajat Celcius. iNews.ID. 2019-06-24.
  5. Penjelasan BMKG Soal Suhu di Bandung Mencapai 15 Derajat Celcius
  6. ANTARA News. 25 Juli 2012. Suhu malam hari Yogyakarta 17 derajat celcius
  7. ANTARA News. 25 Juli 2012. Suhu malam hari Yogyakarta 17 derajat celcius
  8. Hari ke-2 Dieng Culture Festival Sampai Minus 4 Derajat Celsius
  9. Musim Dingin Bromo Membeku, Suhu Minus 4 Derajat Celsius
  10. KlikPintar. 15 Desember 2013 Daerah Tempat Turun Salju di Indonesia
  11. gramedia.com. 15 Desember 2022
  12. Suhu di Bali belakangan terasa lebih dingin
  13. Penurunan Suhu di Lereng Gunung Agung
  14. Penyebab Cuaca Dingin di NTB
  15. Monsun Dingin Australia Picu Penurunan Suhu Ekstrem di Manggarai
  16. Malam Hari Suhu di Kupang 20 Derajat
  17. Karma Iswasta Eka. Miskonsepsi dalam Pelajaran IPA di Sekolah Dasar:Tinjauan Kritis dari Sudut Ilmu Pengetahuan. Deepublish. 2015. ISBN 9786022807544.
  18. Ant. 12 Juni 2007. "Berita Sore", Indonesia Masuk Musim “Bediding”.
  19. Num dan Ted. 19 Juli 2013. Musim Bediding, Suhu di Malang Capai 17 Derajat Celicius
  20. Ant. 12 Juni 2007. "Berita Sore", Indonesia Masuk Musim “Bediding”.
  21. Munanto Haris, MP. 13 Februari 2013. Pranata Mangsa.
  22. Prof Kamiso HN. 25 Maret 2013. "Jogja Benih", Prof Kamiso HN: Manajeman Budidaya Ikan Berkelanjutan .
  23. Belilele. 29 Mei 2012. Bediding Datang! Hati-Hati dengan Lele Anda..

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29494170 (2026-07-25T16:29:46Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.