Lompat ke isi

Peningkatan keasaman air laut

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 28 Agustus 2026 03.18 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29342954; atribusi sumber disertakan.)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Peningkatan keasaman air laut adalah peristiwa berkurangnya pH lautan yang berada di bumi, yang disebabkan oleh penyerapan karbon dioksida dari atmosfer (pH berkurang = keasaman meningkat). Diperkirakan 30-40% karbon dioksida yang dilepaskan oleh manusia ke atmosfer larut ke perairan. Untuk mempertahankan kesetimbangan kimia, sebagian akan bereaksi dengan air membentuk asam karbonat. Sebagian dari molekul asam karbonat akan beraksi dengan molekul air membentuk ion bikarbonat dan ion hidronium, sehingga meningkatkan keasaman laut. Antara tahun 1751 hingga 1994, pH permukaan laut diperkirakan menurun dari 8.25 menjadi 8.14, yang merupakan peningkatan konsentrasi ion hidronium sebanyak 30% di lautan.

Peningkatan keasaman air aut diperkirakan memiliki beragam konsekuensi, seperti penurunan laju metabolisme cumi-cumi jumbo (Dosidicus gigas), penurunan sistem imunitas kerang biru, dan pemutihan koral.

Reaksi kimia

(g) + H2O (l) (aq) + H2O (l) H2CO3 (aq) HCO3 (aq) + H+ (aq) CO32− (aq) + 2 H+ (aq)

Reaksi kimia lain juga terjadi sehingga kadar ion karbonat di lautan yang tersedia akan berkurang. Hal ini akan menyulitkan bagi hewan laut yang membutuhkan ion karbonat bagi pertumbuhan hidupnya seperti koral untuk proses kalsifikasi tubuhnya, dan beberapa jenis plankton. Struktur yang mengandung ion karbonat pun akan cepat rapuh karena larut oleh asam. Peningkatan keasaman lautan akan memicu gangguan pada rantai makanan yang ada pada dan terhubung dengan lautan. Sebanyak 105 akademi ilmu pengetahuan telah mengeluarkan rekomendasi untuk mengurangi emisi karbon dioksida global sebanyak setidaknya 50% dari tingkat emisi tahun 1990.

Peningkatan keasaman air laut telah terjadi sebelumnya dalam sejarah bumi, seperti peristiwa Paleocene-Eocene Thermal Maximum (PETM), yang terjadi setidaknya 56 juta tahun yang lalu dan menyebabkan pelarutan struktur karbonat hewan laut hingga membentuk sedimen di basin lautan di seluruh dunia.

Lihat pula

Referensi

Bahan bacaan terkait

Pranala luar


Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29342954 (2026-06-13T22:31:36Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.