Kapur tohor
Kapur tohor, atau dikenal pula dengan nama kimia kalsium oksida (CaO), adalah hasil pembakaran kapur mentah (kalsium karbonat atau CaCO3) pada suhu kurang lebih 90 derajat Celcius.[1] Jika disiram dengan air, maka kapur tohor akan menghasilkan panas dan berubah menjadi kapur padam (kalsium hidroksida, CaOH)[2]
Saat kapur tohor disiram dengan air, terjadi reaksi sebagai berikut:
- CaO (s) + H2O (l) Ca(OH)2 (aq) (ΔHr = −63.7 kJ/mol of CaO)
Fungsi
Reaksi kapur tohor dengan air yang memberikan energi berupa panas, telah lama diketahui dan dimanfaatkan untuk memasak dengan biaya yang murah. Catatan mengenai hal ini sudah dibuat oleh Al Razi dari Persia, tetapi belum terpikirkan untuk kegunaannya dalam memasak. Barulah pada era Victoria potensinya mulai disadari sebagai pengganti bahan bakar yang umum. Dan kini dipertimbangkan untuk makanan kaleng yang bisa memanaskan dirinya sendiri.[3] Kapur tohor yang dipanaskan hingga suhu 2400 derajat Celcius menghasilkan cahaya terang. Sifat ini dimanfaatkan dalam pembuatan panggung teater sebelum adanya lampu listrik.[4]
Kapur tohor dengan sifat basanya juga dimanfaatkan dalam pembuatan telur bitan.
Industri semen
Kapur tohor adalah bahan penting dalam pembuatan semen. Komposisi dan jenis kapur yang digunakan akan memengaruhi hasil semen yang dihasilkan.[5]
Referensi
- ↑ Spesifikasi kapur untuk stabilisasi tanah, diakses dari situs Kementrian PU pada tanggal 2 Juli 2013.
- ↑ Products from calcium carbonate dari artikel Calcium Carbonate, diakses dari situs BBC pada tanggal 7 Juli 2013.
- ↑ Quicklime fireless cooking, slaking lime with water for heat without fire, diakses dari situs oldandinteresting.com pada tanggal 2 Juli 2013
- ↑ Theodore Gray. Limelight in the Limelight. Popular Science. 2007. hlm. 84.
- ↑ Industri Semen, diakses dari situs UPI.edu pada tanggal 2 Juli 2013
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29501263 (2026-07-28T08:45:52Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.