Revolusi kimia
Revolusi kimia, disebut pula sebagai revolusi kimia pertama, merupakan perumusan ulang awal kimia yang berpuncak pada hukum kekekalan massa dan teori pembakaran oksigen. Selama abad ke-19 dan abad ke-20, transformasi ini dipengaruhi oleh karya kimiawan Prancis Antoine Lavoisier ("Bapak Kimia Modern"). Namun, karya terbarunya mengenai sejarah kimia modern awal menganggap bahwa revolusi kimia terdiri dari perubahan teori dan praktik kimia secara bertahap yang tumbuh selama dua abad. Revolusi ilmiah berlangsung selama abad ke-16 dan abad ke-17 sementara revolusi kimia berlangsung selama abad ke-17 dan abad ke-18.
Faktor utama
Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi revolusi kimia pertama. Pertama, terdapat bentuk-bentuk analisis gravimetri yang muncul dari alkimia serta jenis instrumen baru yang dikembangkan dalam konteks medis dan industri. Dalam pengaturan ini, kimiawan semakin menantang hipotesis yang telah diajukan oleh tokoh-tokoh Yunani kuno. Sebagai contoh, ahli kimia mulai menegaskan bahwa semua struktur terdiri dari lebih dari empat elemen Yunani kuno atau delapan elemen alkimia Pertengahan. Alkimiawan Irlandia, Robert Boyle, meletakkan fondasi bagi revolusi kimia, melalui filosofi korpuskular mekanisnya, yang kemudian sangat bergantung pada teori korpuskular dan metode eksperimental yang merujuk pada era pseudo-Geber.
Faktor-faktor lainnya termasuk teknik eksperimen baru serta penemuan 'udara tetap' (karbon dioksida) oleh Joseph Black pada pertengahan abad ke-18. Penemuan ini cukup penting karena secara empiris membuktikan bahwa 'udara' tidak terdiri dari satu zat saja dan karena telah menjadikan 'gas' sebagai zat eksperimen yang penting. Mendekati akhir abad ke-18, percobaan oleh Henry Cavendish dan Joseph Priestley lebih jauh membuktikan bahwa udara bukanlah unsur tetapi tersusun dari beberapa gas yang berbeda. Lavoisier juga menerjemahkan nama zat kimia ke dalam bahasa tata nama yang lebih menarik bagi ilmuwan pada abad ke-19. Perubahan tersebut berlangsung dalam suasana ketika revolusi industri menarik minat banyak masyarakat dalam mempelajari dan mempraktikkan kimia. Ketika menggambarkan tugas untuk menciptakan kembali tata nama kimia, Lavoisier berusaha untuk memanfaatkan sentralitas baru kimia dengan membuat klaim yang agak hiperbolis bahwa:
Referensi
Bacaan lebih lanjut
- William B. Jensen, "Logic, History, and the Chemistry Textbook: III. One Chemical Revolution or Three? ", Journal of Chemical Education, Vol. 75, No. 8, Agustus 1998
- Lihat pula ulasan buku oleh Seymour Mauskopf dalam HYLE--International Journal for Philosophy of Chemistry, Vol. 17, No.1 (2011), hlm. 41–46.
Pranala luar
- Chemistry:: The chemical revolution–Encyclopædia Britannica
- Bibliografi revolusi kimia –Universitas Valencia
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28484600 (2025-11-14T08:53:36Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.