Lompat ke isi

Revolusi kimia

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 28 Agustus 2026 09.13 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Revolusi kimia, disebut pula sebagai revolusi kimia pertama, merupakan perumusan ulang awal kimia yang berpuncak pada hukum kekekalan massa dan teori pembakaran oksigen. Selama abad ke-19 dan abad ke-20, transformasi ini dipengaruhi oleh karya kimiawan Prancis Antoine Lavoisier ("Bapak Kimia Modern").[1] Namun, karya terbarunya mengenai sejarah kimia modern awal menganggap bahwa revolusi kimia terdiri dari perubahan teori dan praktik kimia secara bertahap yang tumbuh selama dua abad.[2] Revolusi ilmiah berlangsung selama abad ke-16 dan abad ke-17 sementara revolusi kimia berlangsung selama abad ke-17 dan abad ke-18.[3]

Faktor utama

Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi revolusi kimia pertama. Pertama, terdapat bentuk-bentuk analisis gravimetri yang muncul dari alkimia serta jenis instrumen baru yang dikembangkan dalam konteks medis dan industri. Dalam pengaturan ini, kimiawan semakin menantang hipotesis yang telah diajukan oleh tokoh-tokoh Yunani kuno. Sebagai contoh, ahli kimia mulai menegaskan bahwa semua struktur terdiri dari lebih dari empat elemen Yunani kuno atau delapan elemen alkimia Pertengahan. Alkimiawan Irlandia, Robert Boyle, meletakkan fondasi bagi revolusi kimia, melalui filosofi korpuskular mekanisnya, yang kemudian sangat bergantung pada teori korpuskular dan metode eksperimental yang merujuk pada era pseudo-Geber.[4]

Faktor-faktor lainnya termasuk teknik eksperimen baru serta penemuan 'udara tetap' (karbon dioksida) oleh Joseph Black pada pertengahan abad ke-18. Penemuan ini cukup penting karena secara empiris membuktikan bahwa 'udara' tidak terdiri dari satu zat saja dan karena telah menjadikan 'gas' sebagai zat eksperimen yang penting. Mendekati akhir abad ke-18, percobaan oleh Henry Cavendish dan Joseph Priestley lebih jauh membuktikan bahwa udara bukanlah unsur tetapi tersusun dari beberapa gas yang berbeda. Lavoisier juga menerjemahkan nama zat kimia ke dalam bahasa tata nama yang lebih menarik bagi ilmuwan pada abad ke-19. Perubahan tersebut berlangsung dalam suasana ketika revolusi industri menarik minat banyak masyarakat dalam mempelajari dan mempraktikkan kimia. Ketika menggambarkan tugas untuk menciptakan kembali tata nama kimia, Lavoisier berusaha untuk memanfaatkan sentralitas baru kimia dengan membuat klaim yang agak hiperbolis bahwa:[5]

Bacaan lebih lanjut

Pranala luar

Referensi

  1. The First Chemical Revolution –the Instrument Project, The College of Wooster
  2. Matthew Daniel Eddy. An Introduction to Chemical Knowledge in the Early Modern World. Osiris. 2014. Vol. 29. hlm. 1–15. doi:10.1086/678110.
  3. Matthew Daniel Eddy, Seymour Mauskopf and William R. Newman (Eds.). Chemical Knowledge in the Early Modern World. University of Chicago Press. 2014.
  4. Ursula Klein. Styles of Experimentation and Alchemical Matter Theory in the Scientific Revolution. Metascience. Springer. Juli 2007. Vol. 16 (2). hlm. 247–256 [247]. doi:10.1007/s11016-007-9095-8.
  5. B. Jaffe. Crucibles: The Story of Chemistry from Alchemy to Nuclear Fission. Dover Publications. 1976. ISBN 978-0-486-23342-0.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28484600 (2025-11-14T08:53:36Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.