Lompat ke isi

Muhammad Jalaluddin Syah III

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 28 Agustus 2026 15.00 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Dewa Masmawa Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III atau Mas Madina Moehammad Djalaloeddin (bin Datu Raja Muda Daeng Maskuncir bin Sultan Amaroe'llah) adalah Sultan Sumbawa ke-16 (1883-1931).[1][2][3][4][5][6][7][8][9][10][11][12] Datu Raja Muda Daeng Maskuncir atau Maskuncir Datu Lolo Daeng Manassa yang telah dikukuhkan untuk mengganti sang ayah Sultan Amrullah akhirnya batal. Peritiwa kebakaran hebat Istana Gunung Setia menjadi penyebab terjadinya depresi mental dimana beliau lebih memilih kehidupan spiritual daripada menjadi seorang sultan. Sehingga hal ini tidak memungkinkan untuk tetap dipertahankan guna dimahkotai sebagai sultan sumbawa. Sehingga pada saat Sultan Amrullah mangkat pada tanggal 20 Agustus 1883, hasil mufakat pangantong limaolas (Majelis 15 orang) memutuskan untuk memilih putra tertua dari Datu Raja Muda Daeng Maskuncir yakni Mas Madina Daeng Raja Dewa untuk dinobatkan sebagai Sultan Sumbawa. Mas Madina Daeng Raja Dewa saat dinobatkan bergelar Dewa Masmawa Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III. Akta yang dibuat menunjukkan beliau disumpah pada tanggal 18 Oktober 1885 (9 Muharam 1303 Hijriyah). Pada masa Pemerintahan Beliau, didirikan Istana Dalam Loka yang hingga kini masih dapat kita saksikan hingga dewasa ini dan menjadi kebanggaan masyarakat Sumbawa. Penataan bidang pemerintahan mendapat perhatian khusus dari Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III. Beberapa kali sistem pemerintahan mengalami perubahan. Pada Tahun 1920 terjadi perubahan besar dalam sistem perintahan Kesultanan Sumbawa dimana penghapusan district menjadi onderdistrct dan kemudian beralih nama menjadi Kademungan. Dengan perubahan struktur ini maka Kedatuan dalam Kamutar Telu, Seran, Taliwang dan Jereweh dihapus pula dan berubah status menjadi Kademungan. Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III inilah meletus beberapa peperangan melawan Belanda antara lain Perang Sapugara yang dipimpin oleh La Unru Sinrang Dea Mas Manurung (1906 – 1908) dan Perang Baham dipimpin oleh Baham ( 1906 dan 1921 )[13][14][15][16][17][18][19][20][21][22]

Kontrak politik dengan Hindia Belanda tanggal 5 April 1886 pada masa Gubernur Jenderal Ludolph Anne Jan Wilt Sloet van de Beele.[23][24]

Pada 14 Mei 1905, di Sumbawa diadakan perjanjian antara Bestuurder dari Sumbawa, Mohammad Djalaloedin III, dan Controler Oscar Maurits Goedhard yang mewakili Gubernur Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz.[25]

Keluarga

Sultan Muhammad Djalaluddin III memerintah 1883-1931. Beliau memiliki Istri:
1. Siti Aminah Daeng Tenripada melahirkan anak:

  1. ♂ Daeng Marowa (Putra Mahkota). Beliau wafat saat masih kecil.

2. Daeng Ico Dai, Melahirkan anak:

  1. ♀ Daeng Baoe Datu Masugi
  2. ♀ Daeng Uyan Datu Intan Burung

3. Siti Maryam Daeng Risompa Datu Rotimu (saudara dari Daeng Ico Dai istri ke-2), melahirkan anak:

  1. ♂ Datu Raja Muda Daeng Rilangi (Putra Mahkota). Beliau wafat sebelum sang ayah wafat. Putra Mahkota diganti oleh adik beliau Daeng Manurung, Daeng Manurung yang sedang di Yogyakarta kala itu dipanggil pulang untuk menjadi Putra Mahkota). Daeng Rilangi sendiri menikah dengan Lala Danra melahirkan Lalu Prabuanom Dea Radan Ambu.
  2. ♀ Daeng Uyan (Perempuan)
  3. ♂ Daeng Manurung (Putra Mahkota), dan dinobatkan menjadi Sultan Muhammad Kaharuddin III pada tahun 1931.
  4. ♀ Daeng Taniasanga (Perempuan)
  5. ♂ Daeng Marowa Datu Medan

4. Amatollah Dea Manurung, melahirkan anak:

  1. ♀ Lala Maskencana
  2. ♂ L.M. Resyad Dea Bawa
  3. ♂ Lalu Cela
  4. ♀ Lala Masuki

5. Lala Sri Majena, melahirkan anak:

  1. Daeng Tamemang Datu Balasari
  2. Daeng Matasa
  3. Daeng Ompa Ibo

6. Syarifah Dea Masmirah, melahirkan anak:

  1. ♂ Lalu Manaungi Kohe
  2. ♀ Lala Pancaitana

7. Lala Sagiri Datu Loka (Tidak meniliki anak), saudara dari Lala Sri Majena - isteri ke-5.

Silsilah kekerabatan dengan Raja Bicara (Mangkubumi) Bima

Tahun pemerintahan Sultan Bima.[26][27][28][29][30]

https://pl.wikipedia.org/wiki/W%C5%82adcy_Sumbawy#Su%C5%82tani_Bimy

http://web.raex.com/~obsidian/seasiaisl.html#Bima

Mula-mula di pulau Lombok dikenal legenda Datu Telu Besanakan yang merefleksikan kekerabatan 3 kerajaan, keturunan dari Deneq Mas Pangeran Luih yaitu Betare Mas Indra Sakti (di Gelgel, Bali), Mas Kerta Jala (di Gowa) dan Mas Tunggul Nala (di Lombok).[31]

Hikayat Sang Bima memperluas konsep ini bahwa bukan hanya 3 kerajaan tapi ada 5 kerajaan saling berkerabat sesuai Pandawa lima. Menurut Hikayat Sang Bima, Maharaja Pandu Dewata leluhur dari wangsa yang menurunkan 5 kerajaan di Nusantara yaitu wangsa yang menurunkan raja-raja Banjar (Sang Dewa), wangsa yang menurunkan raja-raja Bima (Sang Bima), raja-raja Bali (Sang Kuala), raja-raja Dompu (Darmawangsa), raja-raja Gowa (Sang Rajuna) yang merupakan lima bersaudara putera-putera dari Maharaja Pandu Dewata.[32][33]

Piagam Kedatuan Gangga (Lombok Utara) memuat silsilah yang mirip, dimana raja Ambiyah menempatkan anak-anaknya yaitu Deneq Mas Sang Katong di bumi Banjar, Deneq Mas Raja di bumi Bugis, Deneq Mas Sangkabun di bumi Banten (Jawa), Deneq Mas Bun di bumi Bali, Deneq Mas Patra di bumi Sumbawa (Mbojo), Deneq Mas Sadewa di bumi Sasak (Selaparang) dan Deneq Bini Masni (Ratu Ambiyah) memerintah sepulau Lombok menggantikan ayahnya.

Templat:Family tree

}}

}}

Kekerabatan dengan Kesultanan Banjar

Dewa Masmawa Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III dan Raja-raja di Sumbawa menurut naskah Hikayat Raja-raja Banjar dan Kotawaringin dan Majelis Adat - Lembaga Adat Tanah Samawa (LATS) serta Bidang Kebudayaan - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa, memiliki leluhur seorang bangsawan dari Kesultanan Banjar yang bernama Raden Subangsa bergelar Pangeran Taliwang yang memiliki seorang putra di Taliwang bernama Raden Mataram alias Amas Mattaram yang menjadi Datu Taliwang dan seorang putera lainnya di Sumbawa Besar bernama Raden Bantan (Dewa Mas Bantan) yang menjadi Sultan Sumbawa ke-3.[34][35][36][37][38][39][40][41][42][43][44][45][46][47][48][49]

Lihat pula

Pranala luar

Referensi

  1. Overeenkomsten met inlandsche vorsten in den Oost-Indischen Archipel. Landsdrukkerij. 1857. Vol. 31. hlm. 17.
  2. Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie voor 1891. Ter Lands-Drukkerij. 1891. hlm. 1417.
  3. Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie voor 1898. Ter Lands-Drukkerij. 1898. hlm. 440.
  4. Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie voor 1910. Ter Lands-Drukkerij. 1910. hlm. 319.
  5. Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie voor 1914. Ter Lands-Drukkerij. 1914. hlm. 265.
  6. Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie voor 1917. Ter Lands-Drukkerij. 1917. hlm. 270.
  7. Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie voor 1931. Ter Lands-Drukkerij. 1931. hlm. 867.
  8. Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Sultan-sultan Sumbawa. Universitas Teknologi Sumbawa.
  9. Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Sultan-sultan Sumbawa. Universitas Teknologi Sumbawa.
  10. Lalu Mantja. Sumbawa pada masa dulu: suatu tinjauan sejarah. Rinta. 1984. hlm. 154.
  11. Sejarah daerah Nusa Tenggara Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1988. hlm. 146.
  12. C. E. van Kesteren, R. A. van Sandick, J. E. de Meyier. De Indische gids. J. H. de Bussy. 1891. Vol. 13. hlm. 1417.
  13. Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 1. Universitas Teknologi Sumbawa.
  14. Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 2. Universitas Teknologi Sumbawa.
  15. Ben Cahoon. Indonesian Traditional States II. WORLD STATESMEN.org.
  16. Rulers in Asia (1683 – 1811): attachment to the Database of Diplomatic letters. Arsip Nasional Republik Indonesia.
  17. Sejarah Kesultanan Sumbawa. Website Resmi Pemerintah Kabupaten Sumbawa.
  18. Sambangi Taliwang, Raja Gowa Tallo Sebut Silsilah Taliwang-Gowa Tallo Punya Hubungan Erat. kabarntb.com.
  19. Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1978. hlm. 54.
  20. Annabel Teh Gallop. Malay Seal Inscriptions: A Study in Islamic Epigraphy from Southeast Asia. University of London. 2002. Vol. 3. hlm. 542.
  21. Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Nusa Tenggara Barat. Peninggalan sejarah dan kepurbakalaan Nusa Tenggara Barat. Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm. 126.
  22. Berita penelitian arkeologi, Masalah 11-14. Proyek Pelita Pengembangan Media Kebudayaan, Departemen Pendidikan & Kebudayaan. 1977. hlm. 10.
  23. Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie voor 1905. Ter Lands-Drukkerij. 1905. hlm. 291.
  24. Volksalmanak Melajoe. 1921. Vol. 13. hlm. 35.
  25. I Ketut Ardhana. Penataan Nusa Tenggara pada masa kolonial, 1915-1950. 2005. hlm. 110.
  26. Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 1. Universitas Teknologi Sumbawa.
  27. Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 2. Universitas Teknologi Sumbawa.
  28. Henri Chambert-Loir, Wisamarta, Lukman (Khatib.). Kerajaan Bima dalam sastra dan sejarah. (KPG) Kepustakaan Populer Gramedia. Juli 2004. hlm. 121. ISBN 9799100119. ISBN 978-979-9100-11-5
  29. Susanto Zuhdi, Triana Wulandari. Kerajaan Tradisional di Indonesia : BIMA. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1 Januari 1997. hlm. 55.
  30. Anthony Marinus Hendrik Johan Stokvis. Manuel d'histoire, de généalogie et de chronologie de tous les états du globe, depuis les temps les plus reculés jusqu'à nos jours. Brill. 1888. Vol. 1. hlm. 390.
  31. Ahmad Ubb. Senjata Pusaka Bugis. Gramedia Pustaka Utama. 22 Agu 2013. hlm. 192. ISBN 9792277293. ISBN 9789792277296
  32. Henri. Kerajaan Bima dalam sastra dan sejarah. Kepustakaan Populer Gramedia. 2004. hlm. 121. ISBN 9799100119. ISBN 978-979-9100-11-5
  33. H. Abdullah Tajib. Sejarah Bima Dana Mbojo. Harapan Masa PGRI. 1995.
  34. Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 1. Universitas Teknologi Sumbawa.
  35. Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 2. Universitas Teknologi Sumbawa.
  36. https://www.scribd.com/doc/190123982/Hikayat-Banjar
  37. Johannes Jacobus Ras. Hikajat Bandjar: A study in Malay historiography. Bibliotheca Indonesica, Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (Netherlands), Martinus Nijhoff. 1968.
  38. Johannes Jacobus Ras. Hikayat Banjar. Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka. 1990. ISBN 9789836212405. ISBN 983-62-1240-X
  39. Rosyadi, Sri Mintosih, Soeloso, Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Indonesia). Hikayat Banjar dan Kotaringin. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara. 1993. hlm. 139.
  40. Anton A. Cense. De kroniek van Bandjarmasin. C.A. Mees. 1928. hlm. 54.
  41. Johannes Jacobus Ras. Hikajat Bandjar: A Study in Malay Historiography. Martinus Nijhoff. 1968.
  42. Johannes Jacobus Ras. Bibliotheca Indonesica. Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde. 1968. Vol. 1.
  43. Rogayah A. Hamid, Etty Zalita Zakaria. Inti sari karya klasik. Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia. Vol. 1. ISBN 9836295062. ISBN 9789836295064
  44. Ali Majod. Hikayat Banjar, Siri karya sastera klasik untuk remaja. Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia. 2004. ISBN 9836280146. ISBN 9789836280145
  45. Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (Geschiedkundige aanteekcningen omtrent zuidelijk Borneo). Ter Lands-drukkerij. 1861. Vol. 23. hlm. 199.
  46. Hikayat Banjar Volume 1 dari Seri penerbitan Museum Negeri Lambung Mangkurat. Museum Negeri Lambung Mangkurat. 1981.
  47. Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (Geschiedkundige aanteekcningen omtrent zuidelijk Borneo). Ter Lands-drukkerij. 1861. Vol. 51. hlm. 199.
  48. Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (Geschiedkundige aanteekcningen omtrent zuidelijk Borneo). Becht. 1861. Vol. 51. hlm. 199.
  49. Wolter Robert Hoëvel. Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. Ter Lands-drukkerij. 1861. Vol. 23. hlm. 199.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29488784 (2026-07-23T12:28:59Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.