Lompat ke isi

Timah(II) oksida

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 28 Agustus 2026 18.02 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
PbO structure

Timah(II) oksida adalah suatu senyawa dengan rumus kimia SnO. Senyawa ini terdiri dari timah dan oksigen dan dalam senyawa ini timah memiliki bilangan oksidasi +2. Terdapat dua bentuk timah(II) oksida, yaitu bentuk yang berwarna biru-hitam dan stsabil, dan bentuk yang berwarna merah dan metastabil.

Persiapan dan reaksi

SnO biru-hitam dapat dihasilkan dengan memanaskan hidrat timah(II) oksida, SnO·xH2O (x<1) yang mengalami pengendapan ketika garam timah(II) direaksikan dengan alkali hidroksida seperti NaOH.[1]
SnO merah yang metastabil dapat disiapkan dengan memanaskan endapan yang dihasilkan dari efek amonia cair pada garam timah(II).[2]
SnO dapat disiapkan sebagai substansi murni di laboratorium dengan memanaskan timah(II) oksalat tanpa adanya udara atau di atmosfer CO2. Metode ini juga diaplikasikan untuk memproduksi besi oksida dan mangan oksida.[3][4]

SnC2O4·2H2O → SnO + CO2 + CO + 2 H2O

Timah(II) oksida terbakar di udara dengan api hijau yang redup dan membentuk SnO2.[5]

2 SnO + O2 → 2 SnO2

Saat dipanaskan di atmosfer yang lembam, awalnya disproporsionasi terjadi dan menghasilkan logam Sn dan Sn3O4 yang kemudian bereaksi menjadi SnO2 dan logam Sn.[6]

4SnO → Sn3O4 + Sn
Sn3O4 → 2SnO2 + Sn

SnO bersifat amfoterik: senyawa ini larut di asam kuat dan menghasilkan garam timah(II), sementara di dalam basa kuat dapat menghasilkan stanit yang mengandung Sn(OH)3−.[7] Senyawa ini dapat dilarutkan di dalam asam kuat untuk menghasilkan kompleks ion Sn(OH2)32+ dan Sn(OH)(OH2)2+, dan di dalam larutan yang kurang asam untuk menghasilkan Sn3(OH)42+.[8] Perlu diingat bahwa stanit anhidrat (seperti K2Sn2O3, K2SnO2) juga diketahui keberadaannya.[9][10][11]

Referensi

  1. ↑ Egon Wiberg, Arnold Frederick Holleman (2001) Inorganic Chemistry, Elsevier
  2. ↑ Egon Wiberg, Arnold Frederick Holleman (2001) Inorganic Chemistry, Elsevier
  3. ↑ Satya Prakash (2000),Advanced Inorganic Chemistry: V. 1, S. Chand,
  4. ↑ Arthur Sutcliffe (1930) Practical Chemistry for Advanced Students (1949 Ed.), John Murray - London.
  5. ↑ Egon Wiberg, Arnold Frederick Holleman (2001) Inorganic Chemistry, Elsevier
  6. ↑ Egon Wiberg, Arnold Frederick Holleman (2001) Inorganic Chemistry, Elsevier
  7. ↑ Egon Wiberg, Arnold Frederick Holleman (2001) Inorganic Chemistry, Elsevier
  8. ↑ Egon Wiberg, Arnold Frederick Holleman (2001) Inorganic Chemistry, Elsevier
  9. ↑ The First Oxostannate(II): K 2 Sn 2 O 3 , M Braun, R. Hoppe, Angewandte Chemie International Edition in English, 17, 6, 449 - 450,
  10. ↑ Über Oxostannate(II). III. K 2 Sn 2 O 3 , Rb 2 Sn 2 O 3 und Cs 2 Sn 2 O 3 - ein Vergleich, R. M. Braun, R. Hoppe, Zeitschrift für anorganische und allgemeine Chemie, 485, 1, 15 - 22,
  11. ↑ R M Braun R Hoppe Z. Naturforsch. (1982), 37B, 688-694

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 24974993 (2023-12-09T22:20:26Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.