Lompat ke isi

Ledakan populasi alga

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 28 Agustus 2026 23.03 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
AfterFireworksPlanktonicCyanobacteriaInflorescenceLille2012 06

Ledakan populasi alga adalah suatu kondisi di mana populasi alga (umumnya alga mikroskopis) di dalam ekosistem perairan mengalami peningkatan populasi dikarenakan perubahan kondisi lingkungan. Umumnya spesies yang terlibat hanya sedikit. Ledakan populasi alga dapat menyebabkan perubahan warna pada ekosistem perairan dengan warna sesuai dengan jenis alga. Misal warna hijau muda dapat disebabkan oleh cyanobacteria dan warna merah disebabkan oleh dinoflagellata.

Tidak ada batasan populasi untuk mendefinisikan kasus ledakan populasi alga, tetapi konsentrasi ribuan sel per mililiter air sudah terlihat perbedaannya dengan ekosistem perairan normal. Pada kondisi yang parah, konsentrasi dapat mencapai jutaan sel per mililiter.

Ledakan populasi alga dapat memberian dampak negatif bagi organisme lainnya dengan memproduksi toksin atau akibat dekomposisi alga. Ledakan populasi alga sering kali terkait dengan kematian organisme skala besar (misal kebinasaan ikan) dan keracunan kerang.[1]

Alga

Alga, hewan mikroskopik yang menyerupai tumbuhan merupakan organisme yang umum terdapat di perairan yang disinari cahaya matahari. Organisme ini disebut fitoplankton dan merupakan dasar dari rantai makanan di perairan. Lebih dari 5000 spesies fitoplankton terdapat di seluruh dunia, dengan 2% di antaranya merupakan fitoplankton berbahaya atau beracun.[2] Ledakan populasi alga dari spesies yang membahayakan dapat memiliki berbagai dampak bagi ekosistem lautan, tergantung pada jenis spesiesnya, lingkungan, dan mekanisme biokimia alga dalam memengaruhi lingkungan.

Ledakan populasi alga dapat memiliki dampak yang membahayakan bagi berbagai jenis hewan laut. Kematian massal lumba-lumba hidung botol yang terjadi di Florida pada musim semi tahun 2004 dikarenakan konsumsi ikan dari genus Brevoortia dan Ethmidium yang mengakumulasi brevetoksin dari plankton dinoflagellata Karenia brevis.[3] Kematian massal manatee juga diakibatkan oleh brevetoksin, tetapi vektornya bukan ikan melainkan lamun Thalassia testudinium.[4] Mamalia laut lainnya, yaitu paus Eubalaena glacialis telah terpapar neurotoksin karena memakan zooplankton berbahaya.[5] Berbagai jenis dinoflagellata toksik seperti Alexandrium fundyense diketahui memiliki siklus ledakan populasi. Zooplankton copepod memakan plankton toksik dan toksik ini akan diteruskan dan diakumulasikan ke tingkatan trofik rantai makanan di atasnya. Toksik ini mengganggu kemampuan bernafas, perilaku memakan, dan kondisi reproduksi.[6]

Brevetoksin juga telah meracuni spesies terancam penyu Caretta caretta. Brevetoksin melemahkan otot penyu sehingga akan mudah hanyut terbawa arus hingga ke pantai.[7] Boga bahari yang terkontaminasi toksin dari alga juga telah menyebabkan kematian bagi manusia.[8] Karena dampaknya bagi kesehatan dan sektor ekonomi, ledakan alga kini semakin sering dipantau.[9][10] Di Afrika Selatan, Alexandrium catanella menjadi makanan bagi kerang laut sehingga toksin terakumulasi dan tidak aman dikonsumsi oleh manusia.[11]

Dinoflagellata Alexandrium fundyense diketahui memproduksi neurotoksin saksitoksin. Karenia brevis memproduksi brevetoksin. Diatom Pseudo-nitzschia memproduksi neurotoksin asam domoat.

Penyebab

Penyebab ledakan populasi alga sering kali tidak bisa diniai apakah disebabkan oleh manusia atau merupakan kejadian alami.[12] Beberapa tampak jelas merupakan hasil aktivitas manusia.[13] Ledakan populasi alga dapat disebabkan oleh spesies yang berbeda dengan kebutuhan kondisi lingkungan yang berbeda pula. Ledakan populasi alga dapat dikaitkan dengan tingkat penggunaan pupuk yang digunakan oleh manusia di aktivitas pertanian, sedangkan pada kondisi lainnya ledakan alga dapat diprediksi melalui perubahan musim dan pergerakan arus air laut di kawasan pantai.[14] Pertumbuhan fitoplankton di lautan umumnya dibatasi oleh keberadaan jumlah nitrat dan fosfat serta jenisnya (amonia, urea, atau dalam bentuk ion), yang keduanya dapat berada di muara dekat pantai yang merupakan hasil limpasan dari lahan pertanian. Nutrisi lainnya yang dapat memengaruhi yaitu keberadaan zat besi, silika, dan karbon juga berperan dalam ledakan populasi alga. Perubahan iklim meningkatkan temperatur dan keasaman air laut yang diperkirakan juga berperan bagi peningkatan populasi alga secara mendadak.[15]

Beberapa faktor alami yang diperkirakan berperan dalam ledakan ppulasi alga yaitu debu yang kaya zat besi yang tertiup dari Sahara ke samudera Atlantik;[16] El Niño, dan abu dari erupsi gunung Eyjafjallajökull.[17] Ledakan alga di Teluk meksiko telah terlihat sejak zaman penjelajahan oleh Cabeza de Vaca,[18] tetapi belum diketahui apakah merupakan peran manusia atau terjadi secara alami karena pertanian sudah dilakukan oleh penduduk asli setempat. Dan masih belum terlalu jelas keterkaitan antara peningkatan ledakan populasi alga di berbagai tempat di dunia dengan aktivitas manusia atau karena teknologi observasi dan identifikasi semakin lebih baik.[19][20]

Lihat pula

Bahan bacaan terkait

Pranala luar

Referensi

  1. Harmful Algal Blooms: Red Tide: Home. www.cdc.gov.
  2. J. H. Landsberg. The effects of harmful algal blooms on aquatic organisms. Reviews in Fisheries Science. 2002. Vol. 10 (2). hlm. 113–390. doi:10.1080/20026491051695.
  3. L. J. Flewelling. Red tides and marine mammal mortalities. Nature. 2005. Vol. 435 (7043). hlm. 755–756. doi:10.1038/nature435755a.
  4. L. J. Flewelling. Red tides and marine mammal mortalities. Nature. 2005. Vol. 435 (7043). hlm. 755–756. doi:10.1038/nature435755a.
  5. Durbin E et al (2002) North Atlantic right whale, Eubalaena glacialis, exposed to paralytic shellfish poisoning (PSP) toxins via a zooplankton vector, Calanus finmarchicus. Harmful Algae I,: 243-251 (2002)
  6. Durbin E et al (2002) North Atlantic right whale, Eubalaena glacialis, exposed to paralytic shellfish poisoning (PSP) toxins via a zooplankton vector, Calanus finmarchicus. Harmful Algae I,: 243-251 (2002)
  7. C. J. Walsh. Effects of brevetoxin exposure on the immune system of loggerhead sea turtles. Aquatic Toxicology. 2010. Vol. 97 (4). hlm. 293–303. doi:10.1016/j.aquatox.2009.12.014.
  8. Red Tide FAQ - Is it safe to eat oysters during a red tide?. www.tpwd.state.tx.us.
  9. Florida Fish and Wildlife Research Institute. Red Tide Current Status Statewide Information. research.myfwc.com.
  10. Red Tide Index. www.tpwd.state.tx.us.
  11. Red Tide Fact Sheet - Red Tide (Paralytic Shellfish Poisoning). www.mass.gov.
  12. N. G. Adams. Environmental conditions associated with domoic acid in razor clams on the Washington coast. J Shellfish Res. 2000. Vol. 19. hlm. 1007–1015.
  13. C. W. Y. Lam. Red tides. biology, environmental science and toxicology. Elsevier. 1989. hlm. 49–52. ISBN 0-444-01343-1.
  14. V. L. Trainer. Domoic acid production near California coastal upwelling zones, June 1998. Limnol Oceanogr. 2000. Vol. 45 (8). hlm. 1818–1833.
  15. S. Moore. Impacts of climate variability and future climate change on harmful algal blooms and human health. Proceedings of the Centers for Oceans and Human Health Investigators Meeting. 2011. doi:10.1186/1476-069X-7-S2-S4.
  16. Walsh. Red tides in the Gulf of Mexico: Where, when, and why?. Journal of Geophysical Research. 2006. Vol. 111. hlm. C11003. doi:10.1029/2004JC002813.
  17. Iceland volcano ash cloud triggers plankton bloom. BBC News. 10 April 2013.
  18. Cabeza de Vaca, Álvar Núnez. La Relación (1542). Translated by Martin A. dunsworth and José B. Fernández. Arte Público Press, Houston, Texas (1993)
  19. K.G. Sellner. Harmful Algal blooms: causes, impacts and detection. Journal of Industrial Microbiology and Biotechnology. 2003. Vol. 30 (7). hlm. 383–406. doi:10.1007/s10295-003-0074-9.
  20. F.M. Van Dolah. Marine Algal Toxins: Origins, Health Effects, and Their Increased Occurrence. Environmental Health Perspectives. Brogan &. 2000. Vol. 108 (suppl.1). hlm. 133–141. doi:10.2307/3454638.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29015764 (2026-03-07T04:48:26Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.