Sejarah teknik kimia
Teknik kimia adalah suatu disiplin ilmu yang berkembang dari praktik "kimia industri" pada akhir abad ke-19. Sebelum Revolusi Industri (abad ke-18), bahan kimia industri dan berbagai produk konsumsi lainnya, seperti sabun, umumnya diproduksi melalui proses tumpak. Proses tumpak merupakan proses yang membutuhkan banyak tenaga kerja, di mana sejumlah bahan baku yang telah ditentukan dicampurkan ke dalam suatu wadah, kemudian dipanaskan, didinginkan, atau diberi tekanan selama jangka waktu tertentu. Setelah itu, produk dipisahkan, dimurnikan, dan diuji hingga memenuhi standar untuk dipasarkan. Proses tumpak masih digunakan hingga saat ini, terutama untuk produk-produk bernilai tinggi, seperti bahan antara, farmasi, produk khusus, produk formulasi seperti parfum dan cat, serta dalam industri pangan, misalnya produksi sirop mapel murni. Pada produk-produk tersebut, keuntungan masih dapat diperoleh meskipun metode tumpak lebih lambat dan kurang efisien dalam penggunaan tenaga kerja maupun peralatan. Seiring dengan penerapan teknik-teknik Teknik Kimia dalam pengembangan proses manufaktur, bahan kimia dalam jumlah besar kini diproduksi menggunakan proses kimia kontinu yang menyerupai sistem "lini perakitan". Revolusi Industri menandai dimulainya peralihan dari proses tumpak menuju proses yang lebih berkesinambungan. Saat ini, bahan kimia komoditas dan petrokimia sebagian besar diproduksi dengan proses manufaktur kontinu, sedangkan bahan kimia khusus, bahan kimia murni, dan produk farmasi umumnya masih diproduksi menggunakan proses tumpak.
Asal-usul
Revolusi Industri menyebabkan peningkatan permintaan yang sangat besar, baik dari segi jumlah maupun kualitas, terhadap bahan kimia massal seperti abu soda.[1] Hal ini membawa dua konsekuensi utama. Pertama, skala produksi dan efisiensi operasi harus ditingkatkan. Kedua, perlu dipertimbangkan alternatif yang lebih baik daripada proses tumpak, yaitu proses operasi yang berlangsung secara kontinu.
Rekayasawan kimia pertama
Kimia industri telah dipraktikkan sejak tahun 1800-an, dan mulai dipelajari di universitas-universitas Inggris setelah diterbitkannya buku penting Chemical Technology pada tahun 1848 yang ditulis oleh Friedrich L. Knapp, Edmund Ronalds, dan Thomas Richardson.[2] Pada tahun 1880-an, unsur-unsur rekayasa yang diperlukan untuk mengendalikan proses kimia mulai diakui sebagai suatu bidang profesi yang berbeda. Teknik kimia pertama kali diakui sebagai profesi di Britania Raya setelah mata kuliah pertama teknik kimia diberikan di Universitas Manchester pada tahun 1887 oleh George E. Davis dalam bentuk dua belas kuliah yang membahas berbagai aspek praktik kimia industri.[3] Oleh karena itu, George E. Davis dianggap sebagai rekayasawan kimia pertama di dunia. Saat ini, rekayasawan kimia merupakan profesi yang sangat dihormati. Di Amerika Serikat, rekayasawan kimia yang telah berpengalaman dapat memperoleh lisensi sebagai Professional Engineer (PE) dengan dukungan National Society of Professional Engineers. Di Britania Raya, mereka dapat memperoleh status Chartered Chemical Engineer melalui Institution of Chemical Engineers (IChemE).
Asosiasi profesi
Pada tahun 1880 dilakukan upaya pertama untuk membentuk Society of Chemical Engineers di London. Upaya tersebut kemudian menghasilkan berdirinya Society of Chemical Industry pada tahun 1881. Selanjutnya, American Institute of Chemical Engineers (AIChE) didirikan pada tahun 1908, sedangkan IChemE di Inggris didirikan pada tahun 1922.[4] Kedua organisasi tersebut kini memiliki anggota internasional dalam jumlah besar. Beberapa negara lain juga memiliki organisasi atau divisi teknik kimia di bawah organisasi kimia maupun teknik. Namun, AIChE, IChemE, dan Indian Institute of Chemical Engineers (IiChE) tetap menjadi organisasi utama berdasarkan jumlah anggota dan jangkauan internasionalnya. Organisasi-organisasi tersebut terbuka bagi para profesional maupun mahasiswa teknik kimia yang memenuhi persyaratan dari berbagai negara.
Definisi
Pada cabang-cabang teknik yang telah lebih dahulu berkembang, masyarakat telah memiliki gambaran yang jelas mengenai bidang masing-masing. Teknik Mesin identik dengan mesin,[5] Teknik Listrik identik dengan rangkaian listrik,[6] sedangkan Teknik Sipil berkaitan dengan struktur bangunan.[7] Adapun Teknik Kimia kemudian dikenal sebagai bidang yang berhubungan dengan produksi bahan kimia.[8]
Satuan operasi
Arthur D. Little dikenal sebagai tokoh yang memperkenalkan pendekatan yang hingga kini digunakan dalam teknik kimia, yaitu pendekatan yang berorientasi pada proses, bukan pada produk. Konsep satuan operasi dikembangkan untuk menunjukkan adanya kesamaan prinsip pada berbagai proses produksi kimia yang tampaknya berbeda. Sebagai contoh, prinsip pemisahan alkohol dari air dalam fermentor sama dengan prinsip pemisahan bensin dari solar di kilang minyak, selama dasar pemisahannya adalah pembentukan uap yang memiliki komposisi berbeda dari cairannya. Oleh karena itu, berbagai proses pemisahan tersebut dapat dipelajari sebagai satu jenis satuan operasi yang disebut distilasi.
Satuan proses
Pada awal abad ke-20, berkembang konsep lain yang disebut satuan proses untuk mengelompokkan proses-proses yang melibatkan reaksi kimia. Misalnya, oksidasi, reduksi, alkilasi, dan reaksi lainnya masing-masing dipelajari sebagai satuan proses yang terpisah. Pendekatan ini dianggap wajar karena pada masa awal perkembangannya, teknik kimia memiliki hubungan yang sangat erat dengan kimia industri. Namun, seiring berjalannya waktu, bidang teknik reaksi kimia secara bertahap menggantikan konsep satuan proses. Bidang ini memandang seluruh reaksi kimia sebagai suatu sistem yang memiliki karakteristik tersendiri, terlepas dari jenis senyawa atau ikatan kimia yang terlibat. Walaupun jenis spesies kimia dan ikatan kimia tetap memberikan pengaruh terhadap karakteristik tersebut, dalam merancang dan mengoperasikan reaktor kimia, pemahaman mengenai faktor-faktor seperti laju reaksi, termodinamika, sifat satu fase atau multifase, dan karakteristik proses lainnya jauh lebih penting. Munculnya teknik reaksi kimia sebagai disiplin ilmu tersendiri menandai terputusnya hubungan yang sangat erat antara teknik kimia dan kimia industri, sekaligus menegaskan identitas unik teknik kimia sebagai cabang ilmu rekayasa yang berdiri sendiri.
Lihat pula
- Bahan kimia khusus
- Bahan kimia komoditas
- Bahan kimia murni
- George E. Davis
- Industri kimia
- Institution of Chemical Engineers
- Northeast of England Process Industry Cluster
- Pabrik kimia
Bacaan lebih lanjut
- William Furter (ed) (1982) A Century of Chemical Engineering, Plenum Press (New York)
- Colin Divall & Sean F. Johnston (2000) Scaling Up; The Institution of Chemical Engineers and the Rise of a New Profession, Kluwer Academic (Dordrecht, Belanda)
Pranala luar
- "History of ChEn: Struggle for Survival"
- "About AIChE" (dari www.stevens-tech.edu)
Referensi
- ↑ Dennis Kostick. The origin of the U.S. natural and synthetic soda ash industries. Wyoming State Geological Survey Public Information Circular. 1998. Vol. 39.
- ↑ B.F. Ronalds. Bringing Together Academic and Industrial Chemistry: Edmund Ronalds' Contribution. Substantia. 2019. Vol. 3 (1). hlm. 139–152.
- ↑ Delgass. Seventy-Five Years of Chemical Engineering. Purdue University.
- ↑ W. F. Furter (1980) A Century of Chemical Engineering, Plenum Press (NY & London)
- ↑ What is mechanical engineering?. Institution of Mechanical Engineers.
- ↑ What is Electrical Engineering?. Michigan Technological University.
- ↑ What is civil engineering?. Institution of Civil Engineers (ICE). 6 November 2026.
- ↑ What is Chemical Engineering? Chemical Engineering. Stanford Chemical Engineering.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29508674 (2026-07-31T06:13:31Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.