Abamektin
Abamektin (juga disebut avermektin B1) adalah insektisida dan antelmintik yang banyak digunakan. Abamektin adalah anggota keluarga avermektin dan merupakan produk fermentasi alami dari Actinomycetales tanah Streptomyces avermitilis. Abamektin berbeda dari ivermektin, anggota keluarga avermektin yang populer, dengan ikatan rangkap antara karbon 22 dan 23. Fermentasi Streptomyces avermitilis menghasilkan delapan homolog avermektin yang berkerabat dekat, dengan bentuk B1a dan B1b yang meliputi sebagian besar fermentasi. Nama non-eksklusif (abamektin) merujuk pada campuran B1a (~80%) dan B1b (~20%). Dari semua avermektin, abamektin adalah satu-satunya yang digunakan baik dalam pertanian maupun farmasi.
Sejarah
Avermektin ditemukan pada tahun 1967 dalam kaldu fermentasi kultur aktinomiset yang diterima dari Institut Kitasato di Jepang, setelah pencarian intensif yang dirancang untuk menemukan produk alami dengan aktivitas antelmintik. Baru pada tahun 1985 ivermektin pertama kali digunakan untuk mengobati infeksi dengan Onchocerca volvulus (onchocerciasis atau river blindness) pada manusia oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Penemu avermektin, William C. Campbell dan Satoshi Ōmura, berbagi Penghargaan Nobel Fisiologi atau Kedokteran 2015.
Cara kerja
Avermektin mengikat saluran klorida berpagar glutamat yang ditemukan di sel saraf dan otot manusia dan invertebrata. Mereka menyebabkan hiperpolarisasi sel-sel ini yang mengakibatkan kelumpuhan dan kematian. Manusia dan mamalia hanya memiliki saluran klorida berpagar glutamat di otak dan sumsum tulang belakang, dan karena avermektin memiliki afinitas rendah untuk saluran berpagar ligan manusia dan mamalia lain dan biasanya tidak melewati sawar darah otak, mereka sangat aman bagi manusia dan mamalia.
Aktivitas
Abamektin adalah insektisida sekaligus akarisida (mitisida) dan nematisida. Ia juga digunakan untuk mengendalikan semut api. Abamektin diberikan secara oral kepada kuda untuk membasmi cacing.
Kegunaan
Avermektin telah digunakan untuk mengobati berbagai penyakit yang disebabkan oleh parasit pada manusia dan hewan. Avermektin termasuk abamektin dipelajari untuk digunakan sebagai terapi anti alkohol. Baru-baru ini, ivermektin sedang dipelajari untuk digunakan sebagai agen antiinflamasi.
Nasib abamektin di lingkungan
Abamektin terdegradasi dengan cepat saat terkena cahaya (fotodegradasi) pada permukaan tanaman, di tanah, kotoran dan air. Waktu paruh Avermectin (termasuk abamektin) bervariasi antara 0,5 dan 23 hari tergantung pada tingkat dan substrat (air, tanah, feses atau tanaman). Avermectin B1a yang diaplikasikan pada 0,02–0,03 lb ai/acre (50% lebih tinggi dari tingkat yang direkomendasikan) menghasilkan residu yang sangat rendah.
Toksisitas
Abamektin sangat beracun bagi lebah baik jika mereka mengonsumsinya atau bersentuhan langsung. Namun, bagian tanaman yang terkena penyemprotan abamektin tidak menyebabkan toksisitas pada lebah 24 jam setelah pengobatan. Alasan rendahnya toksisitas pada dedaunan adalah karena waktu paruh <24 jam di permukaan tanaman.
Referensi
Bacaan lebih lanjut
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29122294 (2026-04-12T04:36:09Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.