Lompat ke isi

Fitoestrogen

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 29 Agustus 2026 04.01 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Struktur kimia fitoestrogen paling umum yang ditemukan pada tumbuhan (atas dan tengah) dibandingkan dengan estrogen (bawah) yang ditemukan pada hewan

Fitoestrogen adalah xenoestrogen yang berasal dari tumbuhan (sejenis estrogen yang diproduksi oleh organisme selain manusia) yang tidak dihasilkan dalam sistem endokrin, tetapi dikonsumsi dengan memakan tumbuhan atau makanan olahan. Disebut juga dengan "estrogen makanan", fitoestrogen adalah kelompok senyawa tumbuhan nonsteroid alami yang beragam, yang karena kemiripan strukturnya dengan estradiol (17-β-estradiol), memiliki kemampuan untuk menyebabkan efek estrogenik atau antiestrogenik.[1][2]

Fitoestrogen bukanlah nutrien esensial karena ketiadaannya dalam makanan tidak menyebabkan penyakit, dan juga tidak diketahui berperan dalam fungsi biologis normal apa pun.[3][4] Makanan umum yang mengandung fitoestrogen adalah kedelai dan konsentrat protein kedelai, miso, tempe, dan tahu. Beberapa susu formula bayi berbahan dasar kedelai yang diproduksi dengan protein kedelai mengandung isoflavona.[5]

Namanya berasal dari bahasa Yunani phyto ("tumbuhan") dan estrogen (hormon yang memberikan kesuburan pada manusia dan mamalia betina).[6] Kata estrus (Yunani: οίστρος) berarti "hasrat seksual", dan gene (Yunani: γόνο) berarti "menghasilkan". Telah dihipotesiskan bahwa tumbuhan menggunakan fitoestrogen sebagai bagian dari pertahanan alami mereka terhadap kelebihan populasi hewan herbivora dengan mengendalikan kesuburan betina.[7][8]

Kesamaan, pada tingkat molekuler, antara estrogen dan fitoestrogen memungkinkan keduanya untuk sedikit meniru dan terkadang bertindak sebagai antagonis estrogen.[9] Fitoestrogen pertama kali diamati pada tahun 1926,[10][11] namun belum diketahui apakah fitoestrogen dapat berpengaruh pada metabolisme manusia atau hewan. Pada tahun 1940-an dan awal 1950-an, diketahui bahwa beberapa hima Trifolium bawah tanah dan Trifolium pratense (tumbuhan kaya fitoestrogen) memiliki efek buruk pada fekunditas domba yang merumput.[12][13][14][15]

Struktur

Fitoestrogen terutama termasuk dalam kelompok besar senyawa fenolik alami tersubstitusi: kumestan, prenilflavonoid, dan isoflavona adalah tiga senyawa yang paling aktif dalam efek estrogenik dalam kelas ini.[16] Senyawa yang paling banyak diteliti adalah isoflavona, yang umumnya ditemukan dalam kedelai dan Trifolium pratense. Lignan juga telah diidentifikasi sebagai fitoestrogen, meskipun bukan flavonoid.[17] Mikoestrogen memiliki struktur dan efek yang serupa, tetapi bukan komponen tumbuhan; ini merupakan metabolit jamur Fusarium, terutama umum pada bijian sereal,[18][19][20] tetapi juga terdapat di tempat lain, misalnya pada berbagai hijauan.[21] Meskipun mikoestrogen jarang diperhitungkan dalam diskusi tentang fitoestrogen, senyawa inilah yang awalnya membangkitkan minat pada topik ini.[22]

Mekanisme kerja

Fitoestrogen memberikan efeknya terutama melalui pengikatan pada reseptor estrogen (ER). Terdapat dua varian reseptor estrogen, yakni alfa (ER-α) dan beta (ER-β) dan banyak fitoestrogen menunjukkan afinitas yang agak lebih tinggi terhadap ER-β dibandingkan dengan ER-α.[23]

Unsur-unsur struktural kunci yang memungkinkan fitoestrogen untuk berikatan dengan afinitas tinggi pada reseptor estrogen dan menunjukkan efek seperti estradiol adalah:[24]

  • Cincin fenolik yang sangat penting untuk berikatan dengan reseptor estrogen
  • Cincin isoflavona yang meniru cincin estrogen pada situs pengikatan reseptor
  • Berat molekul rendah yang mirip dengan estrogen (MW=272)
  • Jarak antara dua gugus hidroksil pada inti isoflavona mirip dengan yang terjadi pada estradiol
  • Pola hidroksilasi optimal

Selain berinteraksi dengan ER, fitoestrogen juga dapat memodulasi konsentrasi estrogen endogen dengan mengikat atau menonaktifkan beberapa enzim, dan dapat memengaruhi bioavailabilitas hormon seks dengan menekan atau merangsang sintesis globulin pengikat hormon seks (SHBG).[25]

Bukti yang muncul menunjukkan bahwa beberapa fitoestrogen berikatan dengan dan mentransaktivasi reseptor pengaktif proliferator peroksisom (PPAR).[26][27] Studi in vitro menunjukkan aktivasi PPAR pada konsentrasi di atas 1 μM, yang lebih tinggi daripada tingkat aktivasi ER.[28][29] Pada konsentrasi di bawah 1 μM, aktivasi ER mungkin memainkan peran dominan. Pada konsentrasi yang lebih tinggi (>1 μM), baik ER maupun PPAR diaktifkan. Studi telah menunjukkan bahwa baik ER maupun PPAR saling memengaruhi dan karenanya menimbulkan efek diferensial secara tergantung dosis. Efek biologis akhir genistein ditentukan oleh keseimbangan di antara aksi pleiotropik ini.[30][31][32]

Ekologi

Fitoestrogen terlibat dalam sintesis benzofuran dan fitoaleksin antijamur seperti medikarpin (umum terdapat pada kacang-kacangan), dan seskuiterpena seperti kapsidiol pada tembakau.[33] Kedelai secara alami menghasilkan isoflavona, dan oleh karena itu merupakan sumber isoflavona dalam makanan.[34]

Fitoestrogen adalah zat alami kuno, dan sebagai fitokimia makanan, fitoestrogen dianggap telah berevolusi bersama manusia dan mamalia. Dalam makanan manusia, fitoestrogen bukanlah satu-satunya sumber estrogen eksogen. Xenoestrogen (baru, buatan manusia) ditemukan sebagai bahan tambahan makanan[35] dan bahan-bahan, serta dalam kosmetik, plastik, dan insektisida. Secara lingkungan, keduanya memiliki efek yang mirip dengan fitoestrogen, sehingga sulit untuk memisahkan secara jelas aksi kedua jenis agen ini dalam penelitian.[36]

Studi pada burung

Konsumsi tumbuhan dengan kandungan fitoestrogen yang tidak biasa, dalam kondisi kekeringan, telah terbukti menurunkan kesuburan pada burung puyuh.[37] Makanan burung bayan yang tersedia di alam hanya menunjukkan aktivitas estrogenik yang lemah. Studi telah dilakukan pada metode penyaringan estrogen lingkungan yang terdapat dalam makanan tambahan yang diproduksi, dengan tujuan membantu reproduksi spesies yang terancam punah.[38]

Sumber makanan

Produk makanan berbahan dasar kedelai seperti kedelai, miso, tempe, tahu, burger kedelai tanpa daging, dan makanan bayi protein kedelai mengandung isoflavona dalam jumlah tertinggi.[39]

Menurut sebuah studi tahun 2006 tentang sembilan fitoestrogen umum dalam makanan Kanada, kandungan fitoestrogen relatif tertinggi terdapat pada buah geluk dan biji-bijian minyak, diikuti oleh produk kedelai, sereal dan roti, kacang-kacangan, produk daging, dan makanan olahan lainnya yang mungkin mengandung kedelai, sayuran, buah-buahan, minuman beralkohol, dan minuman non-alkohol. Konsentrasi isoflavona tertinggi ditemukan pada kedelai dan produk kedelai diikuti oleh kacang-kacangan, sedangkan lignan merupakan sumber utama fitoestrogen yang ditemukan pada buah geluk dan biji-bijian minyak (misalnya rami) dan juga ditemukan pada sereal, kacang-kacangan, buah-buahan, dan sayuran. Kandungan fitoestrogen bervariasi dalam berbagai makanan, dan dapat bervariasi secara signifikan dalam kelompok makanan yang sama (misalnya minuman kedelai, tahu) tergantung pada mekanisme pengolahan dan jenis kedelai yang digunakan. Kacang-kacangan (khususnya kedelai), sereal bijian utuh, dan beberapa biji-bijian memiliki kandungan fitoestrogen yang tinggi.[40]

Kandungan fitoestrogen dalam makanan sangat bervariasi, dan oleh karena itu perkiraan asupan yang akurat sulit dilakukan dan bergantung pada pangkalan data yang digunakan.[41] Data dari European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition menemukan asupan antara 1 mg/hari di negara-negara Mediterania dan lebih dari 20 mg/hari di Britania Raya.[42]

Pengaruh pada manusia

Pada manusia, fitoestrogen dicerna di usus halus, diserap dengan buruk ke dalam sistem peredaran darah, bersirkulasi dalam plasma, dan diekskresikan melalui urin. Pengaruh metabolisme berbeda dari hewan pemakan rumput karena perbedaan antara sistem pencernaan ruminan dan monogastrik.[43]

Hingga tahun 2020, belum ada cukup bukti klinis untuk menentukan bahwa fitoestrogen memiliki efek pada manusia.[44]

Pada wanita

Belum jelas apakah fitoestrogen memiliki efek pada penyebab atau pencegahan kanker pada wanita. Beberapa studi epidemiologi menunjukkan efek perlindungan terhadap kanker payudara.[45][46][47] Selain itu, studi epidemiologi lainnya menemukan bahwa konsumsi estrogen kedelai aman bagi pasien kanker payudara, dan dapat menurunkan angka kematian dan kekambuhan.[48][49][50] Masih belum jelas apakah fitoestrogen dapat meminimalkan beberapa efek merugikan dari kadar estrogen rendah (hipoestrogenisme) yang diakibatkan oleh ooforektomi, menopause, atau penyebab lainnya.[51] Tinjauan Cochrane tentang penggunaan fitoestrogen untuk meredakan gejala vasomotor menopause (hot flash) menyatakan bahwa tidak ada bukti konklusif yang menunjukkan manfaat apa pun dari penggunaannya, meskipun efek genistein harus diteliti lebih lanjut.[52]

Pada pria

Masih dalam penelitian apakah fitoestrogen memiliki efek pada fisiologi reproduksi pria.[53] Beberapa penelitian menunjukkan bahwa suplementasi isoflavona memiliki efek positif pada konsentrasi, jumlah, atau motilitas sperma, dan meningkatkan volume ejakulasi.[54][55][56] Asupan isoflavona dalam makanan pada tingkat yang lebih tinggi daripada dalam diet khas Asia tidak memengaruhi jumlah estrogen, testosteron, sperma, atau air mani.[57]

Tinjauan studi yang tersedia tidak menemukan hubungan antara fitoestrogen dengan kesuburan pria,[58][59] dan malah menunjukkan bahwa diet seperti diet mediterania mungkin memiliki efek positif pada kesuburan pria.[60] Baik isoflavona maupun kedelai belum terbukti memengaruhi hormon reproduksi pria pada individu yang sehat.[61][62][63]

Susu formula bayi

Susu formula bayi yang dibuat dengan fitoestrogen protein kedelai dianggap sebagai alternatif yang aman untuk susu formula yang mengandung bahan susu, yang mungkin tidak boleh diberikan kepada bayi dengan galaktosemia dan intoleransi laktosa herediter.[64]

Beberapa tinjauan menyatakan pendapat bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menjawab pertanyaan tentang efek fitoestrogen pada bayi,[65][66] tetapi penulisnya tidak menemukan efek samping yang merugikan. Studi menyimpulkan bahwa tidak ada efek buruk pada pertumbuhan, perkembangan, atau reproduksi manusia akibat konsumsi susu formula bayi berbahan dasar kedelai dibandingkan dengan susu formula sapi konvensional.[67][68][69][70] American Academy of Pediatrics menyatakan: "meskipun formula berbasis protein kedelai terisolasi dapat digunakan untuk menyediakan nutrisi untuk pertumbuhan dan perkembangan normal, hanya ada sedikit indikasi untuk penggunaannya sebagai pengganti susu formula sapi. Indikasi ini termasuk (a) untuk bayi dengan galaktosemia dan defisiensi laktase herediter (jarang) dan (b) dalam situasi di mana diet vegetarian lebih disukai."[71]

Etnofarmakologi

Di beberapa negara, tumbuhan fitoestrogenik telah digunakan secara historis dengan keyakinan bahwa tumbuhan tersebut dapat mengobati efek menstruasi, menopause, dan kesuburan.[72] Tumbuhan yang mengandung fitoestrogen termasuk Pueraria mirifica[73] dan kudzu.[74]

Lihat juga

Referensi

  1. Isoflavones. Micronutrient Information Center, Linus Pauling Institute, Oregon State University, Corvallis. October 2016.
  2. Fatih Yildiz. Phytoestrogens in Functional Foods. Taylor & Francis Ltd. 2005. hlm. 3–5, 210–211. ISBN 978-1-57444-508-4.
  3. Isoflavones. Micronutrient Information Center, Linus Pauling Institute, Oregon State University, Corvallis. October 2016.
  4. Fatih Yildiz. Phytoestrogens in Functional Foods. Taylor & Francis Ltd. 2005. hlm. 3–5, 210–211. ISBN 978-1-57444-508-4.
  5. Isoflavones. Micronutrient Information Center, Linus Pauling Institute, Oregon State University, Corvallis. October 2016.
  6. Isoflavones. Micronutrient Information Center, Linus Pauling Institute, Oregon State University, Corvallis. October 2016.
  7. Phytochemical mimicry of reproductive hormones and modulation of herbivore fertility by phytoestrogens. Environmental Health Perspectives. Jun 1988. Vol. 78. hlm. 171–4. doi:10.1289/ehp.8878171.
  8. Gillian R. Bentley. Infertility in the modern world: present and future prospects. Cambridge University Press. 2000. hlm. 99–100. ISBN 978-0-521-64387-0.
  9. Isoflavones. Micronutrient Information Center, Linus Pauling Institute, Oregon State University, Corvallis. October 2016.
  10. Fatih Yildiz. Phytoestrogens in Functional Foods. Taylor & Francis Ltd. 2005. hlm. 3–5, 210–211. ISBN 978-1-57444-508-4.
  11. JE Varner. Plant Biochemistry. Academic Press. 1966. ISBN 978-0-12-114856-0.
  12. Fatih Yildiz. Phytoestrogens in Functional Foods. Taylor & Francis Ltd. 2005. hlm. 3–5, 210–211. ISBN 978-1-57444-508-4.
  13. A specific breeding problem of sheep on subterranean clover pastures in Western Australia. Australian Veterinary Journal. 1946. Vol. 22 (1). hlm. 2–12. doi:10.1111/j.1751-0813.1946.tb15473.x.
  14. Oestrogens in New Zealand pasture plants. N. Z. Vet. J. 1954. Vol. 2 (4). hlm. 128–134. doi:10.1080/00480169.1954.33166.
  15. I Johnston. Phytochem Functional Foods. CRC Press Inc. 2003. hlm. 66–68. ISBN 978-0-8493-1754-5.
  16. Isoflavones. Micronutrient Information Center, Linus Pauling Institute, Oregon State University, Corvallis. October 2016.
  17. Fatih Yildiz. Phytoestrogens in Functional Foods. Taylor & Francis Ltd. 2005. hlm. 3–5, 210–211. ISBN 978-1-57444-508-4.
  18. Zearalenone in cereal grains. J. Amer. Oil. Chemists Soc. 1979. Vol. 56 (9). hlm. 812–819. doi:10.1007/bf02909525.
  19. Risk assessment of the mycotoxin zearalenone. Regul. Toxicol. Pharmacol. 1987. Vol. 7 (3). hlm. 253–306. doi:10.1016/0273-2300(87)90037-7.
  20. Review on the toxicity, occurrence, metabolism, detoxification, regulations and intake of zearalenone: an oestrogenic mycotoxin. Food Chem. Toxicol. 2007. Vol. 45 (1). hlm. 1–18. doi:10.1016/j.fct.2006.07.030.
  21. Review on Mycotoxin Issues in Ruminants: Occurrence in Forages, Effects of Mycotoxin Ingestion on Health Status and Animal Performance and Practical Strategies to Counteract Their Negative Effects. Toxins (Basel). 2015. Vol. 7 (8). hlm. 3057–111. doi:10.3390/toxins7083057.
  22. Rajesh K. Naz. Endocrine Disruptors: Effects on Male and Female Reproductive Systems. CRC Press Inc. 1999. hlm. 90. ISBN 978-0-8493-3164-0.
  23. Molecular aspects of phytoestrogen selective binding at estrogen receptors. Journal of Pharmaceutical Sciences. Aug 2007. Vol. 96 (8). hlm. 1879–85. doi:10.1002/jps.20987.
  24. Fatih Yildiz. Phytoestrogens in Functional Foods. Taylor & Francis Ltd. 2005. hlm. 3–5, 210–211. ISBN 978-1-57444-508-4.
  25. I Johnston. Phytochem Functional Foods. CRC Press Inc. 2003. hlm. 66–68. ISBN 978-0-8493-1754-5.
  26. Dose-dependent effects of phytoestrogens on bone. Trends in Endocrinology and Metabolism. Jul 2005. Vol. 16 (5). hlm. 207–13. doi:10.1016/j.tem.2005.05.001.
  27. Dose-dependent effects of soy phyto-oestrogen genistein on adipocytes: mechanisms of action. Obesity Reviews. May 2009. Vol. 10 (3). hlm. 342–9. doi:10.1111/j.1467-789X.2008.00554.x.
  28. Peroxisome proliferator-activated receptor gamma (PPARgamma ) as a molecular target for the soy phytoestrogen genistein. The Journal of Biological Chemistry. Jan 2003. Vol. 278 (2). hlm. 962–7. doi:10.1074/jbc.M209483200.
  29. The balance between concurrent activation of ERs and PPARs determines daidzein-induced osteogenesis and adipogenesis. Journal of Bone and Mineral Research. May 2004. Vol. 19 (5). hlm. 853–61. doi:10.1359/jbmr.040120.
  30. Dose-dependent effects of phytoestrogens on bone. Trends in Endocrinology and Metabolism. Jul 2005. Vol. 16 (5). hlm. 207–13. doi:10.1016/j.tem.2005.05.001.
  31. Dose-dependent effects of soy phyto-oestrogen genistein on adipocytes: mechanisms of action. Obesity Reviews. May 2009. Vol. 10 (3). hlm. 342–9. doi:10.1111/j.1467-789X.2008.00554.x.
  32. Peroxisome proliferator-activated receptor gamma (PPARgamma ) as a molecular target for the soy phytoestrogen genistein. The Journal of Biological Chemistry. Jan 2003. Vol. 278 (2). hlm. 962–7. doi:10.1074/jbc.M209483200.
  33. Richard C. Leegood. Plant Biochemistry and Molecular Biology. John Wiley & Sons. 1998. hlm. 204,211–213. ISBN 978-0-471-97683-7.
  34. Isoflavones. Micronutrient Information Center, Linus Pauling Institute, Oregon State University, Corvallis. October 2016.
  35. Identification of xenoestrogens in food additives by an integrated in silico and in vitro approach. Chem. Res. Toxicol. 2009. Vol. 22 (1). hlm. 52–63. doi:10.1021/tx800048m.
  36. Kenneth S. Korach. Reproductive and Developmental Toxicology. Marcel Dekker Ltd. 1998. hlm. 278–279. ISBN 978-0-8247-9857-4.
  37. Phytoestrogens: adverse effects on reproduction in California quail. Science. January 1976. Vol. 191 (4222). hlm. 98–100. doi:10.1126/science.1246602.
  38. Screening the foods of an endangered parrot, the kakapo (Strigops habroptilus), for oestrogenic activity using a recombinant yeast bioassay. Reproduction, Fertility, and Development. 2000. Vol. 12 (3–4). hlm. 191–9. doi:10.1071/RD00041.
  39. Isoflavones. Micronutrient Information Center, Linus Pauling Institute, Oregon State University, Corvallis. October 2016.
  40. Phytoestrogen content of foods consumed in Canada, including isoflavones, lignans, and coumestan. Nutrition and Cancer. 2006. Vol. 54 (2). hlm. 184–201. doi:10.1207/s15327914nc5402_5.
  41. Gunter GC Kuhnle. Variability of phytoestrogen content in foods from different sources. Food Chemistry. 2008. Vol. 113 (4). hlm. 1184–1187. doi:10.1016/j.foodchem.2008.08.004.
  42. R Zamora-Ros. Dietary intakes and food sources of phytoestrogens in the European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition (EPIC) 24-hour dietary recall cohort. European Journal of Clinical Nutrition. 2012. Vol. 66 (8). hlm. 932–941. doi:10.1038/ejcn.2012.36.
  43. Kenneth S. Korach. Reproductive and Developmental Toxicology. Marcel Dekker Ltd. 1998. hlm. 278–279. ISBN 978-0-8247-9857-4.
  44. Inés Domínguez-López. Effects of Dietary Phytoestrogens on Hormones throughout a Human Lifespan: A Review. Nutrients. August 2020. Vol. 12 (8). hlm. 2456. doi:10.3390/nu12082456.
  45. Isoflavones. Micronutrient Information Center, Linus Pauling Institute, Oregon State University, Corvallis. October 2016.
  46. Phytoestrogens and prevention of breast cancer: The contentious debate. World Journal of Clinical Oncology. 2014. Vol. 5 (4). hlm. 705–12. doi:10.5306/wjco.v5.i4.705.
  47. Case-control study of phyto-oestrogens and breast cancer. Lancet. Oct 1997. Vol. 350 (9083). hlm. 990–4. doi:10.1016/S0140-6736(97)01339-1.
  48. Isoflavones. Micronutrient Information Center, Linus Pauling Institute, Oregon State University, Corvallis. October 2016.
  49. Soy food intake and breast cancer survival. JAMA. Dec 2009. Vol. 302 (22). hlm. 2437–43. doi:10.1001/jama.2009.1783.
  50. Soy, red clover, and isoflavones and breast cancer: a systematic review. PLOS ONE. 2013. Vol. 8 (11). doi:10.1371/journal.pone.0081968.
  51. Phytoestrogens and prevention of breast cancer: The contentious debate. World Journal of Clinical Oncology. 2014. Vol. 5 (4). hlm. 705–12. doi:10.5306/wjco.v5.i4.705.
  52. Phytoestrogens for menopausal vasomotor symptoms. The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2013. Vol. 2013 (12). doi:10.1002/14651858.CD001395.pub4.
  53. Isoflavones. Micronutrient Information Center, Linus Pauling Institute, Oregon State University, Corvallis. October 2016.
  54. Waldemar M. Dabrowski. Toxins in Food. CRC Press Inc. 2004. hlm. 95. ISBN 978-0-8493-1904-4.
  55. Effect of a phytoestrogen food supplement on reproductive health in normal males. Clinical Science. Jun 2001. Vol. 100 (6). hlm. 613–8. doi:10.1042/CS20000212.
  56. The pros and cons of phytoestrogens. Frontiers in Neuroendocrinology. 2010. Vol. 31 (4). hlm. 400–19. doi:10.1016/j.yfrne.2010.03.003.
  57. Isoflavones. Micronutrient Information Center, Linus Pauling Institute, Oregon State University, Corvallis. October 2016.
  58. Mark Messina. Neither soyfoods nor isoflavones warrant classification as endocrine disruptors: a technical review of the observational and clinical data. Critical Reviews in Food Science and Nutrition. 2021-03-27. Vol. 62 (21). hlm. 5824–5885. doi:10.1080/10408398.2021.1895054.
  59. Feiby L. Nassan. Diet and men's fertility: does diet affect sperm quality?. Fertility and Sterility. 2018-09-01. Vol. 110 (4). hlm. 570–577. doi:10.1016/j.fertnstert.2018.05.025.
  60. Feiby L. Nassan. Diet and men's fertility: does diet affect sperm quality?. Fertility and Sterility. 2018-09-01. Vol. 110 (4). hlm. 570–577. doi:10.1016/j.fertnstert.2018.05.025.
  61. Isoflavones. Micronutrient Information Center, Linus Pauling Institute, Oregon State University, Corvallis. October 2016.
  62. Mark Messina. Neither soyfoods nor isoflavones warrant classification as endocrine disruptors: a technical review of the observational and clinical data. Critical Reviews in Food Science and Nutrition. 2021-03-27. Vol. 62 (21). hlm. 5824–5885. doi:10.1080/10408398.2021.1895054.
  63. Neither soy nor isoflavone intake affects male reproductive hormones: An expanded and updated meta-analysis of clinical studies. Reproductive Toxicology. 2020. Vol. 100. hlm. 60–67. doi:10.1016/j.reprotox.2020.12.019.
  64. Isoflavones. Micronutrient Information Center, Linus Pauling Institute, Oregon State University, Corvallis. October 2016.
  65. Soy-based formulas and phyto-oestrogens: a safety profile. Acta Paediatrica. Sep 2003. Vol. 91 (441). hlm. 93–100. doi:10.1111/j.1651-2227.2003.tb00655.x.
  66. Isoflavones in soy infant formula: a review of evidence for endocrine and other activity in infants. Annual Review of Nutrition. 2004. Vol. 24 (1). hlm. 33–54. doi:10.1146/annurev.nutr.24.101603.064950.
  67. Isoflavones. Micronutrient Information Center, Linus Pauling Institute, Oregon State University, Corvallis. October 2016.
  68. Exposure to soy-based formula in infancy and endocrinological and reproductive outcomes in young adulthood. JAMA. Aug 2001. Vol. 286 (7). hlm. 807–14. doi:10.1001/jama.286.7.807.
  69. Soy protein formulas in children: no hormonal effects in long-term feeding. Journal of Pediatric Endocrinology & Metabolism. Feb 2004. Vol. 17 (2). hlm. 191–6. doi:10.1515/JPEM.2004.17.2.191.
  70. Safety of soy-based infant formulas containing isoflavones: the clinical evidence. The Journal of Nutrition. May 2004. Vol. 134 (5). hlm. 1220S–1224S. doi:10.1093/jn/134.5.1220S.
  71. Use of soy protein-based formulas in infant feeding. Pediatrics. May 2008. Vol. 121 (5). hlm. 1062–8. doi:10.1542/peds.2008-0564.
  72. Dietland Muller-Schwarze. Chemical Ecology of Vertebrates. Cambridge University Press. 2006. hlm. 287. ISBN 978-0-521-36377-8.
  73. Requirement of metabolic activation for estrogenic activity of Pueraria mirifica'. Journal of Veterinary Science. Dec 2002. Vol. 3 (4). hlm. 273–277. doi:10.4142/jvs.2002.3.4.273.
  74. Analysis of isoflavones in foods and dietary supplements. Journal of AOAC International. 2006. Vol. 89 (4). hlm. 1138–1146. doi:10.1093/jaoac/89.4.1138.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29465189 (2026-07-16T10:13:39Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.