Lompat ke isi

Wabah kolera Semarang

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 29 Agustus 2026 22.32 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29371448; atribusi sumber disertakan.)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Wabah kolera di Semarang merupakan epidemi penyakit kolera yang melanda Kota Semarang, Jawa Tengah, pada masa pemerintahan Hindia Belanda di awal abad ke-20, yaitu periode 1901–1902 dan periode 1910–1913. Periode kedua merupakan yang paling parah, dengan total 5.007 kasus tercatat dan sedikitnya 3.500 kematian akibat penyakit tersebut. Wabah ini terjadi seiring pesatnya urbanisasi Semarang sebagai kota pelabuhan dan pusat perdagangan di pesisir utara Jawa, yang tidak diimbangi dengan perbaikan sanitasi dan penyediaan air bersih yang memadai.

Latar belakang

Pada awal abad ke-20, Semarang mengalami perkembangan pesat sebagai pusat perdagangan dan pemerintahan di Hindia Belanda, didukung oleh pembangunan infrastruktur seperti jalan raya, jalur kereta api, pelabuhan, dan pasar. Pertumbuhan ekonomi ini menjadikan Semarang tujuan utama urbanisasi, sehingga populasi kota meningkat pesat dalam waktu relatif singkat dan dihuni oleh berbagai kelompok etnis, antara lain Jawa, Tionghoa, Arab, India, Melayu, dan Eropa, dengan etnis Jawa sebagai kelompok mayoritas.

Pertumbuhan penduduk yang pesat tidak diimbangi dengan penataan kota yang memadai. Permukiman padat dan tidak teratur banyak ditemukan di kawasan pinggiran yang dihuni penduduk berpenghasilan rendah, umumnya tanpa fasilitas sanitasi yang layak. Sistem pembuangan limbah yang terbatas membuat warga membuang kotoran ke lahan kosong maupun saluran air di tengah kota, sehingga banyak sumber air, termasuk sumur dan sungai yang menjadi sumber air minum sehari-hari, tercemar oleh limbah rumah tangga.

Pembagian permukiman berdasarkan golongan turut memperburuk ketimpangan kondisi sanitasi: kawasan permukiman Eropa pada umumnya memiliki fasilitas yang lebih baik dan sesuai standar, sementara kawasan permukiman bumiputera dan Tionghoa, seperti kampung Pecinan, Kampung Melayu, dan kampung-kampung di Randusari, Petudungan, Pandean, dan Mranggen, cenderung padat, kumuh, dan minim fasilitas dasar. Kawasan Pecinan yang terletak di bantaran Kali Semarang juga kerap dilanda banjir akibat luapan sungai pada musim hujan. Seorang dokter Belanda, De Vogel, sempat mengingatkan Dewan Kota bahwa kondisi permukiman semacam itu berisiko mempercepat penyebaran penyakit, termasuk kolera dan pes.

Periode pertama (1901–1902)

Epidemi kolera pertama kali tercatat melanda Semarang pada 1901, dengan 2.480 kasus, sebelum menurun menjadi 1.020 kasus pada 1902. Secara umum, periode ini tidak sebesar dan tidak sefatal periode kedua yang terjadi kurang dari satu dekade kemudian.

Periode kedua (1910–1913)

Pada 1910, kasus kolera di Semarang kembali melonjak menjadi 3.163 kasus, sebelum berangsur menurun menjadi 1.169 kasus pada 1911, 583 kasus pada 1912, dan 92 kasus pada 1913. Secara keseluruhan, periode 1910–1913 mencatat 5.007 kasus kolera dengan sedikitnya 3.500 kematian, menjadikannya episode yang jauh lebih mematikan dibandingkan periode 1901–1902.

Lonjakan ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya kasus kolera secara luas di berbagai kota besar di Jawa pada tahun yang sama, sehingga periode 1910–1911 kerap disebut sebagai "tahun kolera" dalam catatan kolonial. Semarang, bersama Batavia, Surabaya, dan Pasuruan, menjadi salah satu pusat wabah utama di Jawa pada masa itu.

Program vaksinasi

Sejak akhir 1910, pemerintah Hindia Belanda mulai mendistribusikan vaksin kolera yang dikembangkan oleh Institut Pasteur di bawah pimpinan ahli epidemiologi A.H. Nijland. Di Semarang, dari sekitar 93.488 penduduk bumiputera, baru sekitar 8.340 orang (8,9%) yang menerima vaksinasi pada periode awal layanan, sementara dari sekitar 5.126 penduduk Eropa, sekitar 2.450 orang (47,79%) telah divaksinasi, menunjukkan kesenjangan akses layanan kesehatan antar-golongan penduduk pada masa itu. Tercatat pula bahwa dari 38 orang Eropa berstatus telah divaksinasi yang kemudian tetap terinfeksi kolera, 14 di antaranya meninggal dunia.

Dampak

Selain berdampak pada aspek kesehatan, wabah kolera 1910–1913 turut memengaruhi stabilitas sosial-ekonomi Kota Semarang. Episode ini juga mendorong perubahan pendekatan pemerintah kolonial terhadap kesehatan publik dan perencanaan kota, dengan penanganan epidemi yang semakin diintegrasikan dengan perbaikan infrastruktur perkotaan. Program kampongverbetering dinilai cukup berhasil memperbaiki kondisi lingkungan permukiman di beberapa kawasan yang menjadi target program, sejalan dengan menurunnya jumlah kasus kolera hingga 1913.

Referensi


Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29371448 (2026-06-21T11:06:34Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.