Lompat ke isi

Kalium iodida

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 30 Agustus 2026 03.58 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Potassium iodide

Kalium iodida adalah suatu senyawa kimia, obat-obatan, dan suplemen makanan.[1][2] Sebagai obat-obatan hal ini digunakan pada penyakit hipertiroidisme, dalam radiasi darurat, dan untuk melindungi kelenjar tiroid ketika beberapa jenis radiofarmaka digunakan.[3] Pada dunia berkembang saat ini, hal ini juga digunakan untuk mengobati sporotrikosis dan fikomikosis pada kulit.[4][5] Sebagai suplemen, hal ini digunakan pada seseorang yang memiliki asupan iodin yang rendah dalam makanan,[6] yang diberikan melalui mulut.[7]

Efek samping yang umum terjadi seperti muntah, diare, sakit perut, ruam, dan pembengkakan kelenjar ludah.[8] Efek samping lainnya seperti reaksi alergi, sakit kepala, gondok, dan depresi.[9] Ketika digunakan selama kehamilan dapat membahayakan bayi. Penggunaan ini masih direkomendasikan dalam radiasi saat keadaan darurat.[10]Kalium iodida memiliki rumus kimia KI.[11]

Sejarah

Kalium iodida telah digunakan secara medis setidaknya sejak tahun 1820.[12] Kalium iodida tersedia sebagai obat generik. Di Amerika Serikat kursus pengobatan tersebut berbiaya kurang dari 25 USD.[13] Kalium iodida juga digunakan untuk iodisasi garam.[14]

Kimia

Kalium iodida bersifat ionik, K+I. Senyawa ini mengkristal dalam struktur natrium klorida. Ia diproduksi secara industri dengan mereaksikan KOH dengan iodin.[15]

Senyawa ini merupakan suatu garam putih, yang merupakan senyawa iodida yang paling signifikan secara komersial, dengan sekitar 37,000 ton yang diproduksi pada tahun 1985. Senyawa ini kurang mudah untuk menyerap air daripada natrium iodida, sehingga lebih mudah untuk bekerja dengannya.

Sampel yang lanjut usia dan tidak murni berwarna kuning karena oksidasi lambat garam membentuk kalium karbonat dan iodin elemental.[16][17]

4 KI + 2 CO2 + O2 → 2 K2CO3 + 2 I2

Kimia anorganik

Karena ion iodida adalah suatu agen pereduksi yang tidak terlalu kuat, dengan mudah teroksidasi membentuk oleh suatu agen pengoksidasi yang kuat seperti klorin:

Reaksi ini digunakan dalam isolasi iodin dari sumber alami. Udara akan mengoksidasi iodida, dibuktikan dari teramatinya ekstrak ungu ketika sampel KI dibilas dengan diklorometana. Ketika terbentuk pada kondisi asam, asam iodida (HI) adalah suatu agen pereduksi yang kuat.[18][19][20]

Seperti garam iodida lainnya, membentuk ketika bergabung dengan iodin elemental.

Tidak seperti , garam sangat larut dalam air. Melalui reaksi ini, iodin digunakan dalam titrasi redoks. Larutan berair, "larutan Lugol", digunakan sebagai desinfektan dan sebagai etsa untuk permukaan emas.

Kalium iodida dan perak nitrat digunakan untuk membuat perak(I) iodida,yang digunakan pada film fotografi berkecepatan tinggi serta untuk penyemaian awan:

Kimia organik

KI bertindak sebagai sumber iodida dalam sintesis organik. Aplikasi penggunaan senyawa ini adalah dalam preparasi aril iodida dari garam benzenadiazonium.[21][22]

KI, selain sebagai sumber iodida, dapat pula bertindak sebagai katalis nukleofilik pada alkilasi alkil klorida, bromida, atau mesilat.

Pranala luar

Referensi

  1. National Research Council. Distribution and Administration of Potassium Iodide in the Event of a Nuclear Incident. National Academies Press. 2004. hlm. 10. ISBN 9780309090988.
  2. Albert Stwertka. A Guide to the Elements. Oxford University Press, USA. 2002. hlm. 137. ISBN 9780195150261.
  3. Potassium Iodide. The American Society of Health-System Pharmacists.
  4. Potassium Iodide. The American Society of Health-System Pharmacists.
  5. WHO Model Formulary 2008. World Health Organization. 2009. hlm. 390. ISBN 9789241547659.
  6. Albert Stwertka. A Guide to the Elements. Oxford University Press, USA. 2002. hlm. 137. ISBN 9780195150261.
  7. Potassium Iodide. The American Society of Health-System Pharmacists.
  8. Potassium Iodide. The American Society of Health-System Pharmacists.
  9. WHO Model Formulary 2008. World Health Organization. 2009. hlm. 390. ISBN 9789241547659.
  10. Potassium Iodide. The American Society of Health-System Pharmacists.
  11. Marion Eugene Ensminger. Foods & Nutrition Encyclopedia, Two Volume Set. CRC Press. 1993. hlm. 16. ISBN 9780849389801.
  12. J. David Oriel. The Scars of Venus: A History of Venereology. Springer Science & Business Media. 2012. hlm. 87. ISBN 9781447120681.
  13. Richart Hamilton. Tarascon Pocket Pharmacopoeia 2015 Deluxe Lab-Coat Edition. Jones & Bartlett Learning. 2015. hlm. 224. ISBN 9781284057560.
  14. Albert Stwertka. A Guide to the Elements. Oxford University Press, USA. 2002. hlm. 137. ISBN 9780195150261.
  15. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  16. Tatsuo Kaiho. Iodine Chemistry and Applications. John Wiley & Sons. 2014. hlm. 57. ISBN 9781118878651.
  17. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  18. N. N. Greenwood, A. Earnshaw, Chemistry of the Elements, Pergamon Press, Oxford, UK, 1984
  19. Handbook of Chemistry and Physics, 71st edition, CRC Press, Ann Arbor, Michigan, 1990
  20. The Merck Index, 7th edition, Merck & Co., Rahway, New Jersey, 1960
  21. L. G. Wade, Organic Chemistry, 5th ed., pp. 871-2, Prentice Hall, Upper Saddle RIver, New Jersey, 2003.
  22. J. March, Advanced Organic Chemistry, 4th ed., pp. 670-1, Wiley, New York, 1992.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29236807 (2026-05-16T15:51:39Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.