Valasiklovir
Valasiklovir adalah obat antivirus yang digunakan untuk mengobati wabah herpes simpleks atau herpes zoster. Obat ini juga digunakan untuk mencegah Cytomegalovirus setelah transplantasi ginjal pada kasus berisiko tinggi. Obat ini digunakan secara oral.
Efek samping yang umum termasuk sakit kepala dan muntah. Efek samping yang parah mungkin termasuk masalah ginjal. Penggunaan pada kehamilan tampaknya aman. Ini merupakan bakal obat, yang bekerja setelah diubah menjadi asiklovir di dalam tubuh.
Valasiklovir dipatenkan pada tahun 1987 dan mulai digunakan secara medis pada tahun 1995. Obat ini ada dalam Daftar Obat Esensial Organisasi Kesehatan Dunia. Obat ini tersedia sebagai obat generik.
Sejarah
Valasiklovir dipatenkan pada tahun 1987 dan mulai digunakan secara medis pada tahun 1995. Obat ini tersedia sebagai obat generik.
Kegunaan dalam medis
Valasiklovir digunakan untuk pengobatan infeksi HSV dan VZV, termasuk:
- Herpes simpleks mulut dan genital (pengobatan dan pencegahan)
- Pengurangan penularan HSV dari orang yang mengalami infeksi berulang ke orang yang tidak terinfeksi
- Herpes zoster: dosis umum untuk pengobatan herpes zoster adalah 1.000 mg secara oral tiga kali sehari selama tujuh hari berturut-turut.
- Pencegahan Cytomegalovirus setelah transplantasi organ
- Pencegahan virus herpes pada orang dengan sistem kekebalan yang lemah (seperti mereka yang menjalani kemoterapi kanker)
- Cacar air pada anak-anak (usia 2–18 tahun)
Obat ini menjanjikan sebagai pengobatan demam kelenjar dan diberikan secara preventif pada kasus yang diduga terpapar virus herpes B.
Penderita Bell's palsy tampaknya tidak memperoleh manfaat dari penggunaan valasiklovir sebagai satu-satunya pengobatan. i
Efek samping
Reaksi obat merugikan yang umum (≥1% orang) terkait dengan valasiklovir sama dengan asiklovir, selaku metabolit aktifnya, diantaranya: mual, muntah, diare dan sakit kepala. Efek samping yang jarang terjadi (0,1-1% pasien) meliputi: agitasi, vertigo, konfusi, pusing, edema, arthralgia, sakit tenggorokan, sembelit, sakit perut, ruam, kelemahan dan/atau gangguan ginjal. Efek samping yang jarang terjadi (<0,1% pasien) meliputi: koma, sawan, neutropenia, leukopenia, tremor, ataksia, ensefalopati, gejala psikotik, kristaluria, anoreksia, kelelahan, hepatitis, sindrom Stevens-Johnson, nekrolisis epidermal toksik dan/atau anafilaksis.
Farmakologi
Valasiklovir adalah bakal obat, yakni versi asiklovir teresterifikasi yang memiliki bioavailabilitas oral lebih besar (sekitar 55%) dibandingkan asiklovir. Ini diubah oleh esterase menjadi obat aktif, asiklovir, dan asam amino valina melalui metabolisme lintas pertama di hati. Asiklovir secara selektif diubah menjadi bentuk monofosfat oleh virus timidin kinase, yang lebih efektif (3000 kali) dalam fosforilasi asiklovir dibandingkan timidin kinase seluler. Selanjutnya, bentuk monofosfat selanjutnya difosforilasi menjadi disfosfat oleh guanilat kinase seluler dan kemudian menjadi bentuk trifosfat aktif, asiklo-GTP, oleh kinase seluler.
Mekanisme kerja
Asiklo-GTP, metabolit trifosfat aktif dari asiklovir, merupakan penghambat replikasi DNA virus yang sangat ampuh. Asiklo-GTP secara kompetitif menghambat dan menonaktifkan DNA polimerase virus. Bentuk monofosfatnya juga menyatu dengan DNA virus, mengakibatkan pemutusan rantai. Juga telah terbukti bahwa enzim virus tidak dapat menghilangkan asiklo-GMP dari rantai, yang mengakibatkan penghambatan aktivitas DNA polimerase lebih lanjut. Aciclo-GTP dimetabolisme cukup cepat di dalam sel, kemungkinan oleh fosfatase seluler.
Asiklovir aktif melawan sebagian besar spesies dalam keluarga virus herpes. Dalam urutan aktivitas:
- Virus herpes simpleks tipe I (HSV-1)
- Virus herpes simpleks tipe II (HSV-2)
- Virus Varicella Zoster (VZV)
- Virus Epstein-Barr (EBV)
- Cytomegalovirus (CMV)
Obat ini sebagian besar aktif melawan HSV dan, pada tingkat lebih rendah, VZV. Kemanjurannya hanya terbatas terhadap EBV dan CMV. Namun, valasiklovir telah terbukti menurunkan atau menghilangkan keberadaan virus Epstein-Barr pada subjek yang menderita mononukleosis akut, sehingga menyebabkan penurunan keparahan gejala secara signifikan. Valasiklovir dan asiklovir bekerja dengan menghambat replikasi DNA virus, tetapi pada tahun 2016 hanya ada sedikit bukti bahwa obat-obatan tersebut efektif melawan virus Epstein-Barr. Terapi asiklovir memang mencegah latensi virus, tetapi belum terbukti efektif dalam memberantas virus laten di ganglia saraf.
Pada tahun 2005, resistensi terhadap valasiklovir belum signifikan. Mekanisme resistensi pada HSV meliputi defisiensi virus timidin kinase dan mutasi terhadap virus timidin kinase dan/atau DNA polimerase yang mengubah sensitivitas substrat.
Obat ini juga digunakan untuk profilaksis pasca paparan virus herpes B.
Kimia
Rincian sintesis valasiklovir pertama kali diterbitkan oleh para ilmuwan dari Wellcome Trust.
Asiklovir diesterifikasi karboksibenzil yang dilindungi valina, menggunakan disikloheksilkarbodiimida sebagai zat dehidrasi. Pada langkah terakhir, gugus pelindung dihilangkan dengan hidrogenasi menggunakan katalis paladium pada alumina.
Dalam budaya masyarakat
Merek
Obat ini dipasarkan oleh GlaxoSmithKline dengan nama merek Valtrex dan Zelitrex.
Referensi
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28612273 (2025-11-23T12:04:20Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.