Imunologi sintetik
Imunologi sintetik adalah cabang ilmu yang mempelajari perancangan dan pembuatan sistem buatan yang mampu meniru atau menjalankan fungsi kompleks dari sistem imun. Fungsi tersebut mencakup kemampuan menargetkan dan menghancurkan sel tertentu menggunakan penanda sel spesifik, serta memodifikasi atau mengatur respons imun. Bidang ini merupakan cabang interdisipliner yang menggunakan pendekatan dari biologi sistem dan biologi sintetis untuk memprogram ulang dan meningkatkan fungsi sel imun, sehingga kemampuan keseluruhan sistem imun juga dapat dimodifikasi. Rekayasa sel imun sintetik bertujuan menyederhanakan kompleksitas sistem imun dengan membangunnya kembali dalam kondisi yang terkontrol. Saat ini beberapa modulator sistem imun (imunomodulator) yang disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) antara lain obat antiinflamasi, obat imunosupresi, vaksin, antibodi terapeutik, dan Toll-like receptor (TLR).
Sejarah
Bidang ini mulai berkembang setelah tahun 2010, seiring dengan kemajuan teknologi pengeditan genom seperti Transcription activator-like effector nuclease (TALENs) dan CRISPR. Pada tahun 2015, sebuah penelitian berhasil menciptakan sel T yang hanya aktif ketika diberikan obat tertentu. Dengan cara ini, aktivitas sel T dapat dikendalikan secara langsung di dalam tubuh, sehingga risiko efek samping akibat aktivasi yang tidak diinginkan dapat diminimalkan. Contoh lain dari penerapan imunologi sintetik adalah sel T yang dirancang untuk mengenali dua penanda (antigen) berbeda pada permukaan sel target, yang membuatnya lebih spesifik dalam menyerang sel penyakit, misalnya sel kanker, tanpa merusak sel sehat. Pada tahun 2016, John Lin dari Pfizer menyatakan bahwa sistem imun merupakan kendaraan yang ideal untuk menerapkan rekayasa sel manusia, karena sel imun memiliki kemampuan alami untuk bergerak ke berbagai bagian tubuh, mendeteksi ancaman, dan melakukan fungsi biologis kompleks seperti membunuh sel terinfeksi atau sel kanker.
Jenis
Organisme yang Memodulasi Imunitas
Jenis ini melibatkan penggunaan organisme rekayasa, seperti bakteri atau bakteriofag, untuk melakukan modulasi imun secara spesifik. Contohnya adalah bakteri Salmonella typhimurium rekayasa yang memproduksi sitokin seperti GM‑CSF atau IL‑7 untuk merekrut sel dendritik dan sel T ke tumor, sehingga meningkatkan efektivitas imun anti-tumor.
Molekul Kecil Perekrut Antibodi
Molekul kecil ini dirancang untuk mengarahkan antibodi endogen atau terapeutik ke target spesifik, seperti sel kanker atau patogen, sehingga memperkuat respons imun. Kelebihan molekul kecil dibanding antibodi terapeutik tradisional meliputi biaya produksi yang lebih rendah, potensi pemberian oral, serta risiko imunogenisitas yang lebih rendah. Pendekatan ini termasuk dalam pengembangan imunoterapi berbasis molekul sintetik.
Sel Transdiferensiasi
Transdiferensiasi sel adalah teknik yang memungkinkan sel dewasa diubah menjadi tipe sel lain dengan fungsi imun atau terapeutik tertentu. Misalnya, sel T dewasa dapat dikonversi menjadi sel saraf melalui induksi faktor transkripsi tertentu. Pendekatan ini menjanjikan terapi regeneratif, pengurangan risiko autoimunitas, dan pengembangan sel imun yang dimodifikasi untuk transplantasi atau terapi kanker.
Vaksin Terapeutik dan Biologi Kimia Vaksin
Vaksin terapeutik bertujuan untuk mengobati atau memodulasi penyakit pada pasien yang sudah terinfeksi, berbeda dengan vaksin preventif. Contohnya termasuk terapi transfer sel seperti Provenge untuk kanker prostat. Selain itu, kemajuan biologi kimia memungkinkan pengembangan antigen sintetik, adjuvan sintetik, dan molekul yang dapat memodulasi sel B untuk meningkatkan respons imun secara spesifik dan homogen.
Lihat juga
Referensi
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28566143 (2025-11-20T09:54:29Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.