Lompat ke isi

Gajah jawa

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 6 September 2026 03.35 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28945246; atribusi sumber disertakan.)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Gajah jawa (Elephas maximus sondaicus) diusulkan oleh Paules Edward Pieris Deraniyagala pada tahun 1953, berdasarkan ilustrasi ukiran pada monumen Buddha candi Borobudur di Jawa. Dia mengira gajah Asia (Elephas maximus) memang pernah ada di pulau itu dan telah punah. Mungkin dianggap identik dengan gajah sumatera (E. maximus sumatranus).

Fosil gajah Asia telah ditemukan pada endapan Pleistosen di Jawa. Pertanyaan tentang kapan gajah punah di Jawa tidak terjawab. Kronik Cina sezaman dengan masa pengaruh Hindu-Buddha di Jawa mencatat bahwa raja-raja Jawa menunggangi gajah, dan bahwa Jawa mengekspor gading ke Cina. Karena gajah, setidaknya kadang-kadang diangkut dengan kapal, ada kemungkinan bahwa gajah di Jawa pada masa pengaruh Hindu-Buddha didatangkan dari India.[3]

Lihat pula

Catatan kaki

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28945246 (2026-02-09T07:48:22Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.