Lompat ke isi

Islam ala Prabowo (buku)

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 7 September 2026 03.54 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29719759; atribusi sumber disertakan.)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam adalah buku berbahasa Indonesia yang membahas kehidupan keagamaan, nilai-nilai Islam, karakter, dan kepemimpinan Presiden Indonesia Prabowo Subianto. Buku tersebut disusun oleh Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush'ab Muqoddas serta diterbitkan pada 2025.

Buku ini bukan karya yang ditulis oleh Prabowo sendiri. Isinya menghimpun pembahasan dan pandangan mengenai Prabowo dari perspektif keagamaan, sosial, politik, kepemimpinan, hingga hubungan internasional. Sejumlah tokoh agama, akademisi, pejabat, mantan pejabat, dan diplomat dicantumkan dalam buku tersebut sebagai pemberi pandangan atau kontributor.

Penulisan Islam ala Prabowo diinisiasi oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR) Ahmad Muzani dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Iskandar. Buku tersebut kemudian diluncurkan dalam pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) 2025 di Jakarta pada 26 Agustus 2025.

Secara umum, buku ini berusaha menggambarkan nilai-nilai Islam yang oleh para penyusun dan kontributornya dianggap tercermin dalam kehidupan pribadi, perjalanan militer, pandangan kebangsaan, diplomasi, serta gaya kepemimpinan Prabowo. Pada September 2026, buku tersebut kembali menjadi perhatian publik setelah sampul dan bagian daftar isinya beredar luas di media sosial. Perhatian itu kemudian berkembang menjadi perdebatan mengenai judul buku dan atribusi beberapa tulisan kepada tokoh yang namanya tercantum di dalamnya.


Latar belakang

Prabowo Subianto selama bertahun-tahun banyak dibahas melalui perjalanan militernya, kiprah politik, pendirian dan kepemimpinan Partai Gerakan Indonesia Raya, serta keterlibatannya dalam beberapa pemilihan presiden. Islam ala Prabowo disusun untuk membahas sisi lain dari Prabowo, khususnya hubungan antara kehidupan, tindakan, dan kepemimpinannya dengan nilai-nilai Islam.

Deskripsi buku menyatakan bahwa penyusun berupaya menelusuri perjalanan hidup dan kiprah Prabowo serta membaca pengaruh moral Islam yang mereka anggap terlihat dalam perilaku politik dan kepemimpinannya.

Penggunaan istilah "Islam ala Prabowo" dalam judul tidak merujuk pada mazhab atau aliran Islam baru. Subjudul Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam menjelaskan bahwa fokus buku adalah pembacaan terhadap bagaimana nilai-nilai Islam dipandang hadir dalam sikap dan kepemimpinan Prabowo.

Menurut Media Indonesia, buku tersebut disusun menggunakan pendekatan multidisiplin dan membahas Prabowo dari masa kehidupan pribadi, karier militernya, hingga kedudukannya sebagai kepala negara.


Penyusunan

Proses penyusunan buku berlangsung setidaknya sejak awal 2025. Mantan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel mengatakan bahwa pada Januari 2025 ia dihubungi dan diminta menjadi salah seorang kontributor buku mengenai Presiden Prabowo yang kemudian diberi judul Islam ala Prabowo.

Agus mengatakan bahwa dirinya diminta membahas aspek diplomasi internasional. Ia kemudian menulis bagian mengenai diplomasi Prabowo dan persoalan Palestina yang diberi judul Prabowo dan Fast Track Diplomacy.

Dalam penuturannya mengenai proses penyusunan, Agus menyebut sejumlah tokoh lain yang terlibat atau terdapat dalam proyek buku tersebut, antara lain Yusril Ihza Mahendra, A. M. Hendropriyono, Asep Saifuddin Chalim, As'ad Said Ali, Said Aqil Siradj, Noor Achmad, Ahmad Muzani, Muhadjir Effendy, Abdul Mu'ti, dan diplomat Palestina Zuhair Al-Shun.

Ahmad Muzani berperan sebagai salah satu penggagas penulisan. Sementara itu, Asep Saifuddin Chalim mengonfirmasi bahwa dirinya ikut menulis buku tersebut dan menyusun bagian epilog.


Penerbitan

Buku ini pertama kali terbit pada April 2025. Edisi cetaknya memiliki ketebalan xxii + 346 halaman, ukuran sekitar 15 × 23 sentimeter, dan ISBN 978-623-89676-5-0.

Media Indonesia dan SindoNews mencantumkan Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush'ab Muqoddas sebagai penyusun atau penulis buku dan Atmosphere Publishing House sebagai penerbit.

Buku memiliki bentuk yang menyerupai bunga rampai karena selain materi yang disusun oleh tim utama, terdapat pandangan dan tulisan yang dikaitkan dengan sejumlah tokoh dari latar belakang agama, akademik, pemerintahan, politik, dan diplomasi.


Isi

Pembahasan dalam Islam ala Prabowo mencakup sejumlah tema, antara lain kehidupan keagamaan Prabowo, nasionalisme, kepemimpinan, kesejahteraan rakyat, pendidikan, politik, hubungan dengan organisasi Islam, diplomasi, dan dukungan Indonesia terhadap Palestina.

Buku tidak terutama membahas tata cara ritual keagamaan Prabowo. Fokusnya lebih banyak berada pada interpretasi para penyusun dan kontributor terhadap nilai-nilai Islam yang mereka hubungkan dengan perilaku, kebijakan, pandangan politik, dan kepemimpinan Prabowo.


Islam dan kepemimpinan

Salah satu gagasan utama buku adalah pandangan bahwa keberislaman seorang pemimpin tidak hanya diukur melalui simbol-simbol keagamaan, tetapi juga melalui tindakan, tanggung jawab sosial, keadilan, kepedulian kepada masyarakat, dan kebijakan publik.

Pandangan Said Aqil Siradj yang ditampilkan dalam materi mengenai buku mengaitkan nasionalisme Prabowo dengan nilai Islam rahmatan lil alamin. Sementara itu, pandangan Abdul Mu'ti yang dicantumkan dalam buku menekankan aspek substantif dari keberagamaan dibandingkan ekspresi keagamaan yang semata-mata bersifat simbolik.

Ketua Umum MUI Anwar Iskandar juga menggunakan kerangka serupa ketika menjelaskan buku pada saat peluncurannya. Ia menyatakan bahwa pesan yang hendak disampaikan buku tersebut adalah bahwa nilai Islam dapat diwujudkan melalui kebijakan yang berorientasi kepada masyarakat.


Nasionalisme dan Islam

Buku berusaha menempatkan identitas keagamaan dan nasionalisme sebagai dua unsur yang dapat berjalan bersamaan. Sejumlah pembahasan menghubungkan gagasan nasionalisme Prabowo dengan nilai keadilan, persatuan, kemanusiaan, dan kesejahteraan.

Dalam pendekatan tersebut, keislaman Prabowo tidak digambarkan sebagai upaya mengganti dasar negara atau mendirikan sistem politik keagamaan tertentu, tetapi lebih sebagai nilai moral yang oleh para penulis dianggap memengaruhi cara pandangnya terhadap negara dan masyarakat.


Kesejahteraan dan keadilan sosial

Kesejahteraan rakyat menjadi salah satu tema yang menonjol dalam buku. Pembahasannya menghubungkan gagasan mengenai keadilan dalam Islam dengan tanggung jawab pemimpin dalam memperhatikan kelompok masyarakat yang lemah, memperluas pendidikan, meningkatkan kesejahteraan, dan mengurangi ketimpangan.

Tema tersebut juga muncul dalam pandangan Asep Saifuddin Chalim. Dalam epilog yang ia tulis, Asep menggunakan pengalaman pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz sebagai salah satu rujukan dalam membicarakan kepemimpinan dan kesejahteraan masyarakat.


Diplomasi dan Palestina

Isu Palestina merupakan salah satu tema internasional yang dibahas dalam buku. Media Indonesia menyebut bahwa buku menyoroti sikap Prabowo terhadap Palestina, termasuk pernyataannya dalam forum internasional serta hubungan Indonesia dengan negara-negara dunia Islam.

Salah satu tulisan mengenai tema tersebut berasal dari Agus Maftuh Abegebriel, mantan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi dan mantan Wakil Tetap Indonesia untuk Organisasi Kerja Sama Islam.

Agus menulis mengenai diplomasi Prabowo dengan pendekatan yang ia sebut sebagai fast track diplomacy. Tulisan tersebut menghubungkan kepemimpinan Prabowo dengan harapan agar Indonesia memainkan peran yang lebih aktif dalam diplomasi internasional, khususnya terkait Palestina.

Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair Al-Shun juga termasuk tokoh yang pandangannya ditampilkan dalam materi mengenai buku.


Tokoh yang dicantumkan

Sejumlah tokoh yang disebut dalam pemberitaan mengenai penyusunan dan isi Islam ala Prabowo meliputi:

Status keterlibatan nama-nama tersebut tidak seluruhnya sama. Beberapa tokoh mengonfirmasi bahwa mereka memberikan tulisan, sedangkan pada 2026 muncul bantahan dari sejumlah tokoh yang namanya tercantum dalam buku.


Peluncuran

Islam ala Prabowo diluncurkan pada 26 Agustus 2025 dalam pembukaan Rapat Koordinasi Nasional BAZNAS 2025 di Jakarta.

BAZNAS sebelumnya telah mengumumkan bahwa peluncuran buku tersebut menjadi salah satu agenda pembukaan Rakornas yang diselenggarakan pada 26–29 Agustus 2025. Dalam pengumuman tersebut, BAZNAS menyebut Ahmad Muzani dan Anwar Iskandar sebagai penggagas buku.

Menurut SindoNews, peluncuran berlangsung di Ballroom Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara. Ketua Umum MUI Anwar Iskandar dan Ketua BAZNAS Noor Achmad terlibat dalam peluncuran tersebut.

Acara juga dihadiri oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar, Ahmad Muzani, dan Asep Saifuddin Chalim.

Dalam acara tersebut, Asep mengonfirmasi keterlibatannya dengan mengatakan bahwa dirinya menulis epilog buku. Ia mengaitkan tema tulisannya dengan cita-cita kemerdekaan, kesejahteraan masyarakat, pengelolaan zakat, dan kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz.


Tujuan penerbitan

Menurut keterangan yang dimuat Media Indonesia, penerbitan buku memiliki tiga tujuan yang dikemukakan oleh pihak penerbit. Pertama, memperkenalkan pembahasan mengenai dimensi keislaman Prabowo dari perspektif yang dinilai belum banyak dibicarakan. Kedua, memberikan gambaran mengenai integrasi nilai Islam dengan kepemimpinan. Ketiga, mendorong literasi keagamaan dan kebangsaan.

Ketua BAZNAS Noor Achmad menghubungkan peluncuran buku dengan program literasi keagamaan dan kebangsaan BAZNAS.

Peluncuran dalam Rakornas BAZNAS juga bertepatan dengan peluncuran sejumlah program pendidikan dan kelembagaan BAZNAS.


Penerimaan

Tanggapan saat peluncuran

Pada peluncuran buku, sejumlah tokoh yang hadir memberikan tanggapan positif terhadap isinya.

Anwar Iskandar menyatakan bahwa buku tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan nilai Islam sebagai substansi yang dapat diwujudkan dalam kebijakan publik.

Noor Achmad mengatakan bahwa penerbitan buku sejalan dengan upaya BAZNAS dalam memperkuat literasi keagamaan dan kebangsaan.

Asep Saifuddin Chalim, yang menulis epilog, mengaitkan buku dengan harapan mengenai pembangunan, pemberantasan korupsi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.


Perhatian publik pada 2026

Meskipun telah terbit pada 2025, buku Islam ala Prabowo kembali menjadi perhatian publik pada September 2026 setelah foto sampul dan daftar isinya beredar luas di media sosial.

Perbincangan antara lain berpusat pada penggunaan frasa "Islam ala Prabowo" dalam judul. Sebagian tanggapan mempertanyakan apakah frasa tersebut menyiratkan suatu bentuk atau varian Islam tertentu, sementara isi dan subjudul buku secara eksplisit menempatkan pembahasan pada cara para penyusun melihat pengamalan nilai Islam oleh Prabowo.

Asep Saifuddin Chalim kemudian mengatakan bahwa dirinya telah mengingatkan tim penyusun sejak proses penulisan bahwa judul tersebut berpotensi dianggap sensitif dan menyarankan perubahan judul. Meski demikian, ia menegaskan bahwa dirinya memang terlibat dalam buku dan menulis epilognya.


Polemik atribusi tulisan

Pada September 2026 muncul polemik mengenai atribusi beberapa tulisan kepada tokoh yang namanya tercantum dalam daftar isi buku.

Nama mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Zainul Majdi, yang dikenal sebagai Tuan Guru Bajang (TGB), dicantumkan sebagai penulis sebuah bagian mengenai visi keislaman Prabowo. Namun, TGB kemudian menyatakan melalui media sosial bahwa dirinya tidak pernah mengirim tulisan untuk buku tersebut.

Radar Solo juga melaporkan adanya bantahan dari keluarga Muhammad Abdurrahman Kautsar atau Gus Kautsar. Namanya tercantum pada bagian mengenai dukungan pesantren kepada Prabowo, tetapi istrinya, Jazilah Annahdliyah, menyatakan bahwa suaminya tidak menulis materi tersebut dan mempertanyakan pencantuman namanya.

Pemberitaan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai proses atribusi tulisan dalam buku, khususnya apakah seluruh bagian yang menggunakan nama tokoh merupakan naskah yang secara langsung dikirimkan oleh tokoh bersangkutan atau disusun melalui mekanisme lain.

Pada saat laporan Radar Solo diterbitkan pada 6 September 2026, media tersebut menyatakan belum memperoleh penjelasan resmi dari penerbit maupun penyusun mengenai bantahan TGB dan pihak Gus Kautsar.

Polemik tersebut berbeda dengan keterlibatan beberapa kontributor yang telah dikonfirmasi secara terbuka. Agus Maftuh Abegebriel menyatakan bahwa dirinya diminta menjadi kontributor sejak Januari 2025 dan menulis sendiri bagian mengenai diplomasi. Asep Saifuddin Chalim juga mengonfirmasi bahwa ia diminta menulis dan menjadi penulis epilog.


Data bibliografis

Lihat pula


Referensi

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29719759 (2026-09-07T03:45:23Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.