Lompat ke isi

Kontroversi vaksin MMR

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 7 September 2026 08.18 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29344675; atribusi sumber disertakan.)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Klaim mengenai adanya hubungan antara vaksin gabungan campak, beguk, dan rubela (MMR) dan autisme telah diteliti secara luas dan ditemukan sebagai hal yang tidak benar. Hubungan ini pertama kali diajukan pada awal tahun 1990-an dan mendapat perhatian publik sebagian besar akibat penipuan studi MMR-autisme di Lancet pada tahun 1998, yang digambarkan sebagai "mungkin kebohongan medis paling merusak dalam 100 tahun terakhir". Artikel penelitian palsu tersebut, yang ditulis oleh Andrew Wakefield dan diterbitkan di The Lancet, secara tidak tepat menyatakan bahwa vaksin MMR berkaitan dengan kolitis dan gangguan spektrum autisme. Artikel ini ditarik dari peredaran pada tahun 2010 namun masih tetap dikutip oleh para aktivis antivaksin.

Klaim dalam artikel tersebut dilaporkan secara luas di media massa, sehingga menyebabkan penurunan tajam tingkat vaksinasi di Britania Raya dan Irlandia. Penyebaran klaim tersebut, yang tetap berlanjut dalam propaganda antivaksin meskipun sudah dibantah, telah menyebabkan peningkatan insidensi campak dan beguk, yang mengakibatkan kematian dan cedera permanen yang berat. Setelah klaim awal tahun 1998 tersebut, dilakukan berbagai penelitian epidemiologi berskala besar. Tinjauan bukti oleh Centers for Disease Control and Prevention, American Academy of Pediatrics, Institute of Medicine dari US National Academy of Sciences, National Health Service, dan Cochrane Library semuanya tidak menemukan adanya hubungan antara vaksin MMR dan autisme. Para dokter, pihak jurnal medis, dan penyunting jurnal menggambarkan tindakan Wakefield sebagai penipuan dan mengaitkannya dengan terjadinya epidemi dan kematian akibat campak.

Penyelidikan oleh jurnalis Brian Deer menemukan bahwa Andrew Wakefield, penulis artikel penelitian yang menghubungkan vaksin dengan autisme, memiliki berbagai konflik kepentingan yang tidak diungkapkan, telah memanipulasi bukti, serta melanggar sejumlah kode etik lainnya. Artikel di jurnal Lancet tersebut ditarik sebagian pada tahun 2004 dan ditarik sepenuhnya pada tahun 2010, ketika pemimpin redaksi Lancet, Richard Horton, menilai artikel tersebut "sepenuhnya palsu" dan menyatakan bahwa pihak jurnal telah ditipu. Wakefield dinyatakan bersalah oleh General Medical Council atas pelanggaran profesional berat pada Mei 2010 dan ia dicoret dari daftar registrasi medis, yang berarti ia tidak lagi dapat berpraktik sebagai dokter di Britania Raya. Pada Januari 2011, Deer menerbitkan serangkaian laporan di British Medical Journal, yang dalam bagian editorialnya, mencantumkan pernyataan tentang sang jurnalis: "Dibutuhkan skeptisisme yang teguh dari satu orang, yang berdiri di luar dunia kedokteran dan sains, untuk menunjukkan bahwa artikel tersebut pada kenyataannya merupakan sebuah penipuan. yang terorganisir" Konsensus ilmiah menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara vaksin MMR dengan autisme, dan manfaat vaksin tersebut jauh lebih besar dibandingkan potensi risikonya.


Latar belakang

Kampanye revaksinasi

Menyusul wabah campak di Inggris pada tahun 1992 serta berdasarkan analisis data seroepidemiologi yang dikombinasikan dengan model matematika, otoritas kesehatan Britania Raya memprediksi akan terjadi kebangkitan besar kasus campak pada anak-anak usia sekolah. Saat itu, mereka mempertimbangkan dua strategi: memvaksin semua anak tanpa riwayat vaksinasi campak atau mengimunisasi semua anak tanpa memandang riwayat vaksinasinya. Pada November 1994, opsi terakhir dipilih dan kampanye vaksinasi campak dan rubela nasional pun diluncurkan. Kampanye ini disebut-sebut sebagai "salah satu inisiatif vaksinasi paling ambisius yang pernah dilakukan di Britania". Dalam kurun satu bulan, 92% dari 7,1 juta anak sekolah di Inggris usia 5–16 tahun menerima vaksin campak dan rubela (MR).

Gugatan atas MMR

Pada April 1994, Richard Barr, seorang pengacara, berhasil mendapat bantuan hukum untuk mengajukan gugatan publik terhadap produsen vaksin MMR atas dasar Undang-Undang Perlindungan Konsumen Britania Raya tahun 1987. Gugatan ini ditujukan kepada Aventis Pasteur, GSK plc, dan Merck, masing-masing adalah produsen Immravax, Pluserix-MMR, dan MMR II. Gugatan ini didasarkan pada klaim bahwa MMR adalah produk cacat dan tidak sepantasnya digunakan. Ini merupakan gugatan publik besar pertama yang didanai oleh Legal Aid Board (kelak berganti nama menjadi Legal Services Commission dan selanjutnya digantikan oleh Legal Aid Agency) sejak pembentukannya pada tahun 1988. Setelah melihat dua artikel publikasi Andrew Wakefield yang membahas peran virus campak dalam penyakit Crohn dan penyakit radang usus, Barr menghubungi Wakefield untuk meminta pendapatnya sesuai keahliannya. Menurut para pendukung Wakefield, Barr dan Wakefield bertemu untuk pertama kali pada 6 Januari 1996. Legal Services Commission menghentikan proses hukum tersebut pada September 2003 atas dasar tingginya kemungkinan gugatan tidak dikabulkan berdasarkan bukti medis yang tersedia. Hal ini mengakhiri kasus pertama pendanaan penelitian oleh LSC.

Artikel The Lancet 1998

Pada 28 Februari 1998, artikel berjudul "Ileal-lymphoid-nodular hyperplasia, non-specific colitis, and pervasive developmental disorder in children" yang ditulis oleh sekelompok peneliti yang dipimpin Andrew Wakefield terbit di The Lancet. Investigasi yang dilakukan oleh jurnalis Brian Deer menemukan bahwa Wakefield memiliki berbagai konflik kepentingan yang tidak ia ungkapkan, telah memalsukan bukti penelitian, dan telah melanggar berbagai kode etik. Berdasarkan temuan Deer, Peter N. Steinmetz merangkum adanya enam bentuk fabrikasi dan pemalsuan dalam artikel tersebut maupun dalam tanggapan Wakefield, pada aspek temuan terkait kolitis nonspesifik; gejala perubahan perilaku; temuan autisme regresif; pernyataan persetujuan etik; pernyataan konflik kepentingan; serta metode rujukan pasien. Artikel dalam The Lancet tersebut ditarik sebagian pada tahun 2004 dan ditarik sepenuhnya pada tahun 2010, ketika pemimpin redaksi The Lancet, Richard Horton, menyebut artikel ini sebagai "sepenuhnya tidak benar" dan mengatakan bahwa pihak jurnal telah ditipu. Wakefield dinyatakan bersalah atas pelanggaran profesional serius oleh General Medical Council pada Mei 2010, dan namanya dicoret dari daftar registrasi medis, sehingga ia tidak diizinkan untuk berpraktik sebagai dokter di Britania Raya. Pada tahun 2011, Deer memberikan informasi tambahan mengenai praktik penelitian Wakefield yang tidak semestinya ke British Medical Journal, yang dalam bagian editorialnya, menggambarkan artikel Wakefield sebagai sebuah penipuan.

Konsensus ilmiah menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara vaksin MMR dan autisme, dan manfaat vaksin jauh lebih besar dibandingkan risiko dari pemberian vaksin. Namun, pada saat para peneliti berhasil membuktikan bahwa narasi Wakefield itu keliru, narasi tersebut telah terlanjur menjadi bagian dari pemahaman masyarakat umum tentang autisme. Narasi keliru tersebut mudah dipahami dan tampaknya sejalan dengan bukti anekdotal mengenai anak-anak yang didiagnosis autisme tidak lama setelah menerima vaksinasi.

Saat artikel tersebut ditarik, seluruh penulis artikel selain Wakefield meminta agar nama mereka dihapus dari publikasi.

Pada Januari 2011, Fiona Godlee, editor The BMJ, mengatakan:


Peran media

Para pengamat mengkritik keterlibatan media massa dalam kontroversi ini, yang dikenal dengan istilah 'sains melalui konferensi pers'. Mereka menuduh media memberi kredibilitas berlebihan terhadap penelitian Wakefield. Sebuah artikel oleh Shona Hilton, Mark Petticrew, dan Kate Hunt, yang terbit pada Maret 2007 di BMC Public Health, menyatakan bahwa pemberitaan media mengenai penelitian Wakefield telah "menciptakan kesan keliru bahwa bukti yang mendukung adanya hubungan dengan autisme sama kuatnya dengan bukti yang menentangnya", melalui upaya untuk menghadirkan "pemberitaan yang berimbang". Artikel sebelumnya dalam Communication in Medicine dan British Medical Journal menyimpulkan bahwa pemberitaan media memberi gambaran yang menyesatkan mengenai tingkat dukungan terhadap hipotesis Wakefield.

Sebuah editorial dalam Australian Doctor pada tahun 2007 mengeluhkan bahwa sejumlah jurnalis masih terus membela penelitian Wakefield bahkan setelah The Lancet menerbitkan pencabutan artikel oleh 10 dari 12 penulis asli artikel penelitian tersebut. Namun, editorial itu juga mengakui bahwa seorang jurnalis investigasi, Brian Deer, memainkan peran utama dalam mengungkap kelemahan yang terdapat di dalam penelitian tersebut. PRWeek menulis bahwa setelah Wakefield dicoret dari daftar registrasi medis karena pelanggaran profesional pada Mei 2010, 62% responden jajak pendapat terkait kontroversi MMR menyatakan bahwa mereka merasa media tidak melakukan peliputan yang bertanggung jawab pada isu kesehatan.

Sebuah artikel dalam New England Journal of Medicine yang menelaah sejarah aktivis antivaksin menyebutkan bahwa penolakan terhadap vaksin sudah ada sejak abad ke-19, tetapi "kini, media pilihan para antivaksin biasanaya adalah televisi dan Internet, termasuk laman media sosialnya, yang dipakai untuk memengaruhi opini publik dan mengalihkan perhatian dari bukti ilmiah". Editorial tersebut menggambarkan para aktivis antivaksin sebagai orang-orang yang "cenderung memiliki ketidakpercayaan penuh terhadap pemerintah dan produsen, pola pikir konspiratif, penyangkalan, kompleksitas pola pikir kognitif yang rendah, kekeliruan dalam penalaran, serta kebiasaan mengganti data dengan anekdot emosional". Mereka mencakup orang-orang yang "tidak mampu memahami dan memadukan konsep risiko dan peluang ke dalam pengambilan keputusan berbasis sains" sampai orang-orang yang "menggunakan kebohongan yang disengaja, intimidasi, data palsu, serta ancaman kekerasan".

Di sebuah editorial dalam The American Spectator pada Januari 2011, Robert M. Goldberg berpendapat bahwa bukti dari komunitas ilmiah mengenai masalah dalam penelitian Wakefield "terabaikan karena media membiarkan Wakefield dan para pengikutnya untuk mendiskreditkan temuan para ilmuwan hanya dengan pernyataan mereka sendiri saja".

Seth Mnookin, penulis The Panic Virus, juga menyalahkan media sebagian karena memaparkan keseimbangan palsu antara bukti ilmiah dan pengalaman pribadi: "Liputan berita sudah jatuh ke dalam kekeliruan 'di satu sisi, di sisi lain', artinya apabila ada dua pihak yang tidak sepakat, maka keduanya harus disajikan dengan bobot yang sama."

Kekhawatiran juga disampaikan terhadap sistem penelaahan sejawat jurnal yang sebagian besar bergantung pada kepercayaan antarpeneliti, serta terhadap peran jurnalis dalam melaporkan teori ilmiah karena “mereka tidak berada dalam posisi untuk mempertanyakan dan mendalami teori tersebut”. Neil Cameron, sejarawan yang mengkhususkan diri dalam bidang sejarah sains, menulis di Montreal Gazette bahwa kontroversi ini adalah "kegagalan jurnalisme" yang mengakibatkan kematian yang seharusnya dapat dihindari. Ia menyatakan bahwa: 1) The Lancet seharusnya tidak menerbitkan penelitian yang didasarkan pada "hasil yang secara statistik tidak bermakna" dari hanya 12 kasus; 2) kampanye antivaksin dilanjutkan oleh majalah satir Private Eye; dan 3) penyebaran gosip di kalangan para orang tua yang khawatir dan keterlibatan selebritas yang "goblok" ikut memperkuat ketakutan masyarakat. The Gazette juga melaporkan:


Epidemiologi awam

Epidemiologi awam (folk epidemiology) merujuk pada kepercayaan populer tentang asal-muasal autisme. Tanpa pengetahuan memadai tentang autisme, yang merupakan sebuah gangguan yang kompleks, masyarakat umum mudah dipengaruhi oleh rumor-rumor dan informasi keliru yang disebarkan melalui media massa serta ditampilkan di media sosial dan internet.

Kepercayaan yang keliru ini tetap bertahan bahkan ketika dibantah oleh bukti ilmiah. Epidemiologi awam bertahan karena orang-orang mencari, menerima, dan lebih memilih untuk memercayai informasi yang sesuai dengan pandangan yang sudah yang mereka miliki; salah menilai tingkat kepercayaan sumber informasi yang mereka peroleh, dan disesatkan oleh bukti anekdotal. Mereka juga cenderung tidak mau merevisi pendapat mereka bahkan ketika sumber informasi awal mereka terbukti salah.

Sebuah laporan yang terbit di Ars Technica pada Juni 2024 mendiskusikan penelitian terbaru mengenai kepercayaan populer tentang vaksin dan autisme di AS, yang mendapati kurangnya kesadaran akan sikap tegas CDC yang menyatakan vaksin bukanlah penyebab autisme. Artikel ini mengutip hasil survei April 2024, yang menyatakan bahwa "24 persen orang dewasa di AS menyangkal atau meragukan bahwa CDC pernah menyatakan hal tersebut", sebuah hasil yang relatif tidak berubah sejak tahun 2018. Laporan itu juga melaporkan bahwa sejumlah kecil warga Amerika, walaupun dalam jumlah yang tidak bisa diabaikan pula, percaya bahwa vaksin pasti atau mungkin menyebabkan autisme (meningkat dari 9% pada tahun 2021 menjadi 10% pada tahun 2023). Penelitian ini sebagian besar berasal dari hasil survei yang dilakukan oleh Annenberg Public Policy Center.

Gugatan hukum

Sepanjang tahun 1980-an dan 1990-an, sejumlah gugatan diajukan terhadap para produsen vaksin, dengan tuduhan bahwa vaksin menyebabkan gangguan jiwa dan fisik pada anak-anak. Meskipun gagal dikabulkan, gugatan-gugatan ini menyebabkan kenaikan besar biaya vaksin MMR, dan para perusahaan farmasi pun mencari perlindungan legislatif. Pada tahun 1993, Merck KGaA menjadi satu-satunya perusahaan yang bersedia menjual vaksin MMR di Amerika Serikat dan Britania Raya.

Italia

Pada Juni 2012, sebuah pengadilan lokal di Rimini, Italia, memutuskan bahwa vaksinasi MMR menyebabkan autisme pada seorang anak laki-laki berusia 15 bulan. Pengadilan tersebut sangat bergantung pada artikel Lancet yang sudah dicabut dan mengabaikan bukti ilmiah yang diajukan dalam proses persidangan. Kemudian, diajukan banding atas putusan ini. Pada 13 Februari 2015, putusan tersebut dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi di Bologna.

Jepang

Kepanikan terhadap vaksin MMR menyebabkan penurunan persentase vaksinasi beguk (kurang dari 30%), sehingga memicu terjadinya wabah di Jepang. Terdapat 2.002 korban jiwa akibat campak di Jepang dan tidak ada korban di Britania Raya, tetapi kematian tambahan tersebut dikaitkan dengan penerapan vaksin di Jepang pada usia yang lebih lanjut. Juru bicara Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa penghentian vaksinasi tidak berpengaruh pada kasus campak, tetapi juga menyatakan bahwa terdapat lebih banyak korban jiwa akibat campak saat vaksin MMR masih digunakan. Pada tahun 1994, pemerintah menghapus kewajiban vaksinasi campak dan rubela akibat kepanikan atas vaksin MMR tahun 1993. Jepang kemudian dicap sebagai "eksportir campak" oleh Centers for Disease Control and Prevention AS. Akibat lain dari kepanikan tersebut adalah pada tahun 2003, 7 juta anak sekolah belum menerima vaksin rubela.

Jumlah kasus autisme terus meningkat di Jepang setelah vaksin MMR dihentikan. Hal ini menjadi bantahan adanya efek samping berskala besar dari vaksinasi, serta menunjukkan bahwa penarikan vaksin MMR di negara lain kemungkinan tidak akan menurunkan jumlah kasus autisme. Pemerintah Jepang tidak mengakui adanya hubungan apapun antara vaksin MMR dan autisme. Hingga tahun 2003, Jepang masih mencoba menemukan vaksin kombinasi untuk menggantikan vaksin MMR.

Belakangan ditemukan bahwa sejumlah vaksin disuntikkan setelah melewati tanggal kedaluwarsa, dan kewajiban vaksinasi MMR baru dicabut setelah terdapat kematian pada tiga anak serta lebih dari 2.000 laporan efek samping. Per tahun 1993, Pemerintah Jepang telah membayar kompensasi sebesar $160.000 kepada keluarga masing-masing ketiga anak yang meninggal tersebut. Orang tua lainnya tidak menerima kompensasi karena pemerintah menyatakan tidak ada buktinya vaksin MMR menyebabkan efek samping; mereka kemudian memutuskan untuk menggugat produsen vaksin alih-alih pemerintah. Pada 13 Maret 2003, pengadilan distrik Osaka memutuskan bahwa kematian dua anak (di antara banyak kondisi serius lainnya) memang disebabkan oleh galur Urabe dari vaksin MMR di Jepang. Pada tahun 2006, Pengadilan Tinggi Osaka dalam putusan lain menyatakan bahwa negara bertanggung jawab karena gagal mengawasi produsen vaksin campak-beguk-rubela yang menyebabkan efek samping berat pada anak-anak.

Britania Raya

Gugatan terhadap MMR dimulai sebelum Peraturan Prosedur Sipil dirumuskan. Status gugatan kelompok ditetapkan berdasarkan arahan praktik Ketua Pengadilan saat itu pada tanggal 8 Juli 1999. Pada tanggal 8 Juni 2007, hakim Pengadilan Tinggi, Justice Keith, mengakhiri gugatan kelompok ini karena pencabutan bantuan hukum oleh komisi pelayanan hukum membuat sebagian besar proses terhadap perkara ini tidak dapat dilakukan. Ia memutuskan bahwa semua tuntutan terhadap perusahaan farmasi, kecuali dua tuntutan, harus dihentikan. Hakim menekankan bahwa putusannya bukan berarti menolak klaim bahwa MMR telah menimbulkan sakit yang serius pada anak-anak yang bersangkutan.

Sebuah kelompok penekan bernama JABS (Justice, Awareness, Basic Support) dibentuk untuk mewakili keluarga dengan anak-anak yang, menurut orang tua mereka, "sakit akibat vaksin". Dana bantuan hukum publik sebesar £15 juta dikeluarkan untuk gugatan hukum. £9,7 juta di antaranya digunakan untuk biaya pengacara dan £4,3 juta sisanya untuk saksi ahli.

Amerika Serikat

Sidang Autisme Omnibus (OAP) adalah sidang terkoordinasi di hadapan Office of Special Masters of the U.S. Court of Federal Claims—biasa disebut pengadilan vaksin. Sidang ini dirancang untuk memfasilitasi penanganan hampir 5.000 petisi vaksin yang melibatkan klaim bahwa anak yang menerima vaksin tertentu mengalami autisme. Petitioners' Steering Committee mengeklaim bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan autisme, kemungkinan dalam kombinasi dengan vaksin yang mengandung thiomersal. Pada tahun 2007, tiga kasus uji dipaparkan untuk menguji klaim tentang kombinasi vaksin tersebut; semuanya kalah. Pengadilan vaksin memutuskan menolak gugatan dalam tiga kasus tersebut dengan menyatakan bukti yang dipaparkan tidak membuktikan klaim mereka bahwa vaksinasi menyebabkan autisme pada pasien-pasien tertentu atau secara umum.

Dalam sejumlah kasus, pengacara penggugat memilih untuk tidak menjalani Sidang Autisme Omnibus, yang khusus menangani autisme dan masalah terkait gangguan usus; mereka membawa kasusnya ke pengadilan vaksin biasa.

Pada tanggal 30 Juli 2007, keluarga Bailey Banks, anak yang mengalami keterlambatan perkembangan menyeluruh, memenangkan kasus melawan Departemen Kesehatan dan Pelayanan Masyarakat Amerika Serikat. Dalam perkara yang diklasifikasikan sebagai terkait dengan "keterlambatan perkembangan non-autistik", Special Master Richard B. Abell memutuskan bahwa Banks berhasil menunjukkan bahwa "vaksin MMR yang dipermasalahkan benar-benar menyebabkan kondisi yang diderita dan terus diderita Bailey". Dalam kesimpulannya, ia memutuskan bahwa ia percaya MMR terbukti menyebabkan peradangan otak yang disebut acute disseminated encephalomyelitis (ADEM). Ia mengeluarkan putusan ini atas dasar dua kasus vaksin tahun 1994 dan 2001, yang menyimpulkan bahwa "ADEM dapat disebabkan oleh infeksi alami campak, beguk, dan rubela serta vaksin campak, beguk, dan rubela."

Dalam kasus-kasus lain, pengacara tidak mengeklaim bahwa vaksin menyebabkan autisme; mereka mengajukan tuntutan kompensasi untuk ensefalopati, ensefalitis, atau kejang-kejang.

Penelitian

Jumlah kasus autisme yang dilaporkan meningkat tajam pada tahun 1990-an dan awal tahun 2000-an. Peningkatan ini sebagian besar disebabkan oleh perubahan pada praktik diagnostik; tidak diketahui seberapa besar, jika ada, peningkatan kasus yang berasal dari perubahan nyata prevalensi autisme, dan tidak ada hubungan sebab-akibat dengan vaksin MMR yang terbukti.

Pada tahun 2004, sebuah tinjauan meta yang didanai oleh Uni Eropa menilai bukti dari 120 penelitian lainnya dan mempertimbangkan efek samping yang tidak diinginkan dari vaksin MMR. Di tinjauan ini, disimpulkan bahwa meskipun vaksin tersebut terkait dengan efek samping positif dan negatif, "tidak mungkin" ada hubungan antara MMR dan autisme. Pada tahun yang sama, terdapat sebuah publikasi artikel tinjauan yang menyimpulkan, "Bukti saat ini meyakinkan bahwa vaksin campak-beguk-rubela tidak menyebabkan autisme atau subtipe gangguan spektrum autisme apapun." Sebuah tinjauan literatur tahun 2006 tentang vaksin dan autisme menemukan bahwa "tumpukan bukti menunjukkan tidak ada hubungan sebab-akibat antara vaksin MMR dan autisme." Sebuah studi kasus tahun 2007 menggunakan data dalam surat Wakefield ke The Lancet tahun 1999 yang mengeklaim adanya hubungan sementara antara vaksinasi MMR dan autisme guna menunjukkan bagaimana sebuah grafik dapat keliru dalam merepresentasikan data, dan memberi nasihat kepada para penulis dan penerbit artikel ilmiah untuk menghindari terjadinya kesalahan interpretasi serupa di masa depan. Sebuah tinjauan tahun 2007 terhadap penelitian-penelitian independen yang dilakukan setelah publikasi artikel asli Wakefield et al. menemukan bahwa penelitian-penelitian tersebut memberikan bukti kuat yang menyangkal hipotesis bahwa MMR terkait dengan autisme. Sebuah tinjauan terhadap penelitian yang dilakukan pada tahun 2004 untuk proses pengadilan di Britania Raya, namun baru diungkap pada tahun 2007, menemukan bahwa analisis reaksi berantai polimerase yang sifatnya esensial terhadap hasil penelitian Wakefield et al. memiliki cacat fatal akibat adanya kontaminasi, sehingga tidak mungkin mendeteksi keberadaan campak sebagaimana yang diklaim. Tinjauan tahun 2009 mengenai hubungan antara vaksin dan autisme membahas kontroversi vaksin MMR sebagai satu dari tiga hipotesis utama yang gagal didukung penelitian epidemiologi dan biologis.

Pada tahun 2012, Perpustakaan Cochrane menerbitkan sebuah tinjauan terhadap puluhan studi ilmiah yang melibatkan sekitar 14.700.000 anak-anak, yang tidak menemukan adanya bukti yang kredibel mengenai keterlibatan vaksin MMR dengan autisme ataupun penyakit Crohn. Artikel tersebut diperbarui pada tahun 2020 dan kembali diperbarui pada tahun 2021, dengan para penulisnya menyatakan, "Kami telah mengamati adanya peningkatan kualitas desain dan pelaporan hasil keamanan vaksin MMR dan MMRV dalam beberapa tahun terakhir baik sebelum maupun setelah pemasaran." Sebuah metaanalisis pada Juni 2014 yang melibatkan lebih dari 1,25 juta anak menemukan bahwa "vaksinasi tidak terkait dengan perkembangan autisme atau gangguan spektrum autisme. Selain itu, komponen vaksin (tiomersal atau merkuri) maupun pemberian beberapa vaksin (MMR) tidak terkait dengan perkembangan autisme atau gangguan spektrum autisme." Pada Juli 2014, sebuah tinjauan sistematis menemukan "bukti kuat bahwa vaksin MMR tidak terkait dengan kasus autisme". Pada bulan Maret 2019, sebuah penelitian berskala besar yang dilakukan oleh Statens Serum Institut, Denmark, yang mengikuti perjalanan penyakit 650.000 anak selama 10 tahun tidak menemukan adanya hubungan antara vaksin MMR dan autisme, bahkan pada anak-anak yang memiliki saudara dengan kondisi autisme.

Wabah penyakit

Setelah kontroversi merebak, kepatuhan vaksinasi MMR di Britania Raya jatuh bebas dari 92% pada tahun 1996 menjadi 84% pada tahun 2002. Di sebagian wilayah London, persentasenya jatuh hingga 61% pada tahun 2003, jauh di bawah persentase yang diperlukan untuk mencegah wabah campak. Per tahun 2006, vaksinasi MMR di Britania Raya pada usia 24 bulan mencapai 85%, lebih rendah daripada persentase vaksin-vaksin lain yaitu 94%.

Setelah tingkat vaksinasi jatuh, jumlah kasus dua dari tiga penyakit yang memperoleh perlindungan dari vaksin MMR meningkat drastis di Britania Raya. Pada tahun 1998, terdapat 56 kasus campak yang terkonfirmasi di Britania Raya; pada tahun 2006, 449 kasus muncul pada lima bulan pertama tahun tersebut, termasuk kematian pertama sejak tahun 1992; semua kasus ini dialami oleh anak yang tidak menerima vaksin secara memadai. Kasus beguk mulai meningkat pada tahun 1999 setelah beberapa tahun sebelumnya terjadi dengan jumlah yang sangat sedikit. Pada tahun 2005, Britania Raya mengalami wabah beguk dengan 5.000 kasus hanya pada bulan pertama tahun tersebut. Kelompok usia yang mengalami beguk terlalu tua untuk menerima imunisasi rutin MMR pada saat artikel Wakefield et al. terbit, namun terlalu muda untuk pernah terinfeksi beguk secara alami saat masa kanak-kanak sehingga tidak memperoleh kekebalan kelompok. Seiring menurunnya kasus beguk setelah diperkenalkannya vaksin MMR, kelompok ini belum pernah terpapar penyakit ini, tetapi juga tidak memiliki kekebalan, baik alami ataupun dari vaksin. Oleh sebab itu, ketika tingkat imunisasi menurun setelah kontroversi tersebut dan penyakit kembali muncul, mereka menjadi rentan terinfeksi. Kasus campak dan beguk terus bertambah pada tahun 2006, dengan tingkat kejadian masing-masing 13 dan 37 kali lebih tinggi dibandingkan tahun 1998. Dua anak yang menjalani transplantasi ginjal di London mengalami cedera parah dan permanen akibat ensefalitis campak.

Wabah penyakit juga menimbulkan korban jiwa di negara-negara sekitar. Di Irlandia, wabah tahun 2000 menyebabkan tiga kematian dan 1.500 kasus dilaporkan saat wabah di Irlandia tahun 2000, yang terjadi sebagai akibat langsung dari menurunnya tingkat vaksinasi setelah kepanikan terkait MMR.

Pada tahun 2008, untuk pertama kalinya dalam 14 tahun, campak dinyatakan sebagai penyakit endemik di Britania Raya, artinya penyakit ini sudah bertahan di dalam populasi penduduk. Hal ini disebabkan oleh rendahnya tingkat vaksinasi MMR selama dekade sebelumnya sehingga terbentuk populasi anak rentan yang dapat menyebarkan penyakit ini. Tingkat vaksinasi MMR anak-anak Inggris pada tahun 2007–08 tidak berubah dibandingkan tahun sebelumnya dan masih terlalu rendah untuk mencegah wabah campak massal. Pada Mei 2008, seorang remaja Britania berusia 17 tahun dengan imunodefisiensi meninggal akibat campak. Pada tahun 2008, Eropa juga menghadapi wabah campak, termasuk wabah massal di Austria, Italia, dan Swiss.

Setelah pernyataan BMJ pada bulan Januari 2011 mengenai kecurangan Wakefield, Paul Offit, seorang dokter anak di Children's Hospital of Philadelphia dan "pengkritik gerakan anti-vaksin sejak lama", mengatakan, "bahwa artikel penelitian tersebut membunuh anak-anak", dan Michael Smith dari University of Louisville, seorang "pakar penyakit menular yang mendalami dampak kontroversi autisme terhadap tingkat imunisasi," mengatakan, "jelas sekali bahwa hasil penelitian (Wakefield) ini berdampak buruk." Pada tahun 2014, Laurie Garrett, anggota senior Council on Foreign Relations, menyalahkan "Wakefieldisme" atas meningkatnya jumlah anak yang tidak divaksinasi di negara-negara seperti Australia dan Selandia Baru. Ia mengatakan, "Data kami menunjukkan bahwa campak selalu muncul di negara-negara yang mengamini artikel Wakefield."

Dampak terhadap masyarakat

The New England Journal of Medicine menyebutkan bahwa aktivitas gerakan antivaksin menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat, "termasuk rusaknya kesejahteraan individu dan masyarakat akibat wabah penyakit yang sebelumnya bisa dikendalikan, mundurnya produsen vaksin dari pasar, ancaman terhadap keamanan nasional (dalam kasus vaksin antraks dan cacar), dan hilangnya produktivitas masyarakat".

Kerugian yang dialami masyarakat akibat turunnya tingkat vaksinasi (dalam dolar AS) diperkirakan oleh Daily Finance AOL pada tahun 2011 sebagai berikut:

  • Wabah campak di Italia tahun 2002–2003 "yang menyebabkan lebih dari 5.000 orang dirawat di rumah sakit, secara keseluruhan memakan biaya antara 17,6 juta euro dan 22,0 juta euro".
  • Wabah campak tahun 2004 di Iowa akibat "seorang pelajar yang tidak divaksin yang kembali dari India, memakan biaya sebesar $142.452".
  • Wabah beguk tahun 2006 di Chicago "yang disebabkan oleh karyawan-karyawan yang tidak diimunisasi secara memadai, memakan biaya $262.788, atau $29.199 per kasus".
  • Wabah beguk di Nova Scotia pada tahun 2007 memakan biaya sebesar $3.511 per kasus.
  • Wabah campak di San Diego, California pada tahun 2008 memakan biaya $177.000, atau $10.376 per kasus.

Di Amerika Serikat, Jenny McCarthy menyalahkan vaksinasi atas gangguan yang dialami putranya, Evan, dan memanfaatkan status selebritinya untuk memperingatkan para orang tua soal hubungan antara vaksin dan autisme. Gangguan yang dialami Evan bermula dari kejang dan ia pulih setelah kejang tersebut ditangani. Para ahli mengatakan bahwa gejala yang dialami Evan lebih konsisten dengan sindrom Landau–Kleffner yang sering sekali salah didiagnosis sebagai autisme. Setelah artikel karya Wakefield pada Lancet dibantah kebenarannya, McCarthy tetap membela Wakefield. Sebuah artikel di Salon.com mencap McCarthy sebagai "ancaman" karena terus mempertahankan pandangannya bahwa vaksin itu berbahaya.

Bill Gates memberi tanggapan keras terhadap Wakefield dan perilaku para aktivis anti-vaksin:


Jumlah anak yang menerima vaksin di Inggris pada usia dua tahun turun menjadi 91,2% pada tahun 2017–18, dari 91,6% pada tahun sebelumnya. Hanya 87,2% anak berusia lima tahun yang telah menerima dua dosis vaksin MMR.

Dengan terjadinya wabah campak dalam jumlah besar di Amerika Serikat pada tahun 2019, terdapat kekhawatiran bahwa para orang tua yang tidak memvaksinasi anak-anak mereka akan berkontribusi terhadap penyebaran infeksi di sekolah-sekoah dan universitas-universitas di tempat-tempat yang sudah ada wabah penyakit lainnya.

Lihat pula

Referensi

Bacaan lebih lanjut

  • Deer, Brian (2020). The Doctor Who Fooled the World. Johns Hopkins University Press. .


Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29344675 (2026-06-14T06:11:56Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.