Kantuk berlebihan di siang hari
Kantuk berlebihan di siang hari (excessive daytime sleepiness, EDS) merupakan kondisi yang bercirikan rasa kantuk terus-menerus dan, sering kali, energi yang kurang pada siang hari bahkan setelah tidur malam hari yang cukup atau bahkan yang lama. EDS juga merupakan kondisi yang mencakup banyak gangguan tidur dengan gejala tidur yang lebih banyak atau yang menjadi pertanda gangguan lain, misalnya narkolepsi, gangguan ritme sirkadian, apnea tidur, atau hipersomnia idiopatik.
Sebagian orang yang menderita EDS, termasuk dari penderita hipersomnia baik narkolepsi maupun hipersomnia idiopatik, tertidur berulang kali pada siang hari; berhadapan dengan dorongan yang semakin kuat untuk tidur pada waktu-waktu yang tidak pantas, misalnya saat berkendara, jam kerja, makan, atau bercakap. Seiring menguatnya dorongan untuk tidur, kemampuan individu untuk melakukan sesuatu menghilang; fenomena ini mirip dengan intoksikasi (alkohol). Pada situasi tertentu dan/atau kondisi dengan stimulasi, individu tersebut kadang mungkin tetap bergerak, terbangun dan memiliki perhatian kepada lingkungan, selama periode waktu yang singkat atau lama. EDS dapat memengaruhi kemampuan individu berfungsi dalam keluarga, kondisi sosial, lingkungan kerja, atau latar yang lain. Diagnosis yang tepat terhadap penyebab yang mendasarinya dan, pada ujungnya, penanganan gejala dan/atau penyebab dasar tersebut yang tepat dapat membantu mengurangi komplikasi tersebut. Menurut National Sleep Foundation Amerika Serikat, sekitar 20% orang mengalami EDS.
Sebab
EDS dapat menjadi gejala sejumlah faktor dan gangguan. Terdapat spesialis gangguan tidur yang berkompetensi menegakkan diagnosis. Sejumlah kondisi tersebut antara lain:
- Kualitas dan kuantitas tidur pada malam hari yang tidak cukup
- Apnea tidur obstruktif
- Ketidakselarasan pemacu ritme sirkadian tubuh dengan lingkungan (misalnya, jet lag, kerja shift, atau gangguan tidur ritme sirkadian lainnya)
- Gangguan tidur lain yang mendasarinya, seperti narkolepsi, sleep apnea, hipersomnia idiopatik, atau sindrom kaki gelisah
- Gangguan seperti depresi klinis atau depresi atipikal
- Tumor, trauma kepala, anemia, gagal ginjal, hipotiroidisme, atau cedera pada sistem saraf pusat
- Penyalahgunaan obat
- Predisposisi genetik
- Kekurangan vitamin, seperti kekurangan biotin
- Golongan obat tertentu, entah yang diserahkan dengan resep maupun obat bebas
- COVID jangka panjang
Diagnosis
Orang dewasa yang tertidur berulang kali pada siang hari mungkin mengalami kantuk berlebihan di siang hari (EDS). Namun, terdapat kantuk di siang hari sesekali berbeda dengan EDS yang bersifat kronis.
Sejumlah alat digunakan dalam menapis EDS yang muncul. Salah satunya adalah Epworth Sleepiness Scale (ESS) yang menilai hasil kuesioner dengan delapan pertanyaan yang mengacu pada situasi sehari-hari. ESS mungkin menunjukkan nilai dengan rentang 0–24, nilai 10 atau lebih menjadi rujukan agar seseorang mengunjungi spesialis tidur untuk diperiksa lebih lanjut.
Alat lain yang digunakan dalam penapisan adalah Multiple Sleep Latency Test (MSLT) yang telah digunakan sejak tahun 1970-an. Alat ini mengukur waktu yang diperlukan untuk mencapai tanda-tanda tidur yang paling awal sejak waktu tidur siang dimulai, latensi tidur. Mereka yang diuji menjalani serangkaian kesempatan tidur 20 menit sebanyak lima kali tanpa faktor pemicu perhatian dengan selang waktu dua jam pada satu hari. Uji ini dibuat berdasarkan teori bahwa semakin seseorang mengantuk maka ia akan lebih cepat tertidur.
Maintenance of Wakefulness Test (MWT) ialah alat yang juga digunakan dalam menilai kantuk di siang hari secara kuantitatif. Uji ini diadakan di pusat diagnosis tidur, mirip dengan MSLT karena juga mengukur latensi tidur awal. Namun demikian pada MWT, pasien diminta untuk menahan diri sehingga tidak tertidur dalam kondisi mengantuk dalam periode waktu yang telah ditetapkan.
Penggunaan pembacaan elektroensefalografi (EEG) tidak dapat dipisahkan dari penegakan diagnosis EDS yang objektif. Latensi tidur awal yang ada pada MSLT dan MWT terutama diperoleh dari rekaman EEG. Selain itu, sifat daya gelombang alfa pada pembacaan EEG istirahat, yang berhubungan dengan kantuk, juga menunjukkan korelasi dengan keberadaan EDS.
Tata laksana
Kantuk berlebihan di siang hari (EDS) ditangani tergantung identifikasi dan penanganan gangguan dasar yang menyebabkannya sehingga pasien tidak lagi mengalami EDS. Obat-obatan, seperti modafinil, armodafinil, pitolisant (Wakix), dan larutan oral sodium oxybate (Xyrem), telah disetujui sebagai pengobatan gejala EDS di Amerika Serikat. Penggunaan obat-obatan lain, seperti metilfenidat (Ritalin), dekstroamfetamin (Dexedrine), amfetamin, lisdeksamfetamin (Vyvanse), metamfetamin (Desoxyn), dan pemoline (Cylert), karena obat dalam golongan stimulan ini mungkin memiliki beberapa efek samping.
EDS juga dapat disebabkan oleh apnea tidur obstruktif (OSA). Pada kasus ini, penderita OSA diarahkan agar menggunakan terapi continuous positive airway pressure (tekanan positif kontinu pada jalan napas, CPAP). Sebelum mulai menggunakan obat yang termasuk agen penambah bangun seperti modafinil, CPAP digunakan sebagai alat bantu pernapasan saat tidur untuk mencegah OSA.
Lihat juga
Referensi
Pranala luar
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28654803 (2025-12-03T01:39:45Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.