Lompat ke isi

Hepatitis B

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 7 September 2026 13.16 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29463765; atribusi sumber disertakan.)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Hepatitis B adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV) yang menyerang hati. Penyakit ini termasuk ke dalam jenis hepatitis akibat virus. Hepatitis B dapat menyebabkan infeksi akut maupun kronis.

Banyak orang yang tidak mengalami gejala setelah terpapar virus. Pada sebagian orang lainnya, gejala-gejala dapat muncul 30 hingga 180 hari setelah terpapar. Gejala-gejala tersebut dapat berupa timbulnya sakit secara mendadak dan cepat disertai mual, muntah, kulit kekuningan, kelelahan, urin berwarna kuning gelap, dan nyeri perut. Gejala-gejala selama infeksi akut biasanya berlangsung selama beberapa minggu, meskipun beberapa orang mungkin merasa sakit sampai enam bulan. Kematian akibat tahap akut infeksi HBV jarang terjadi. Infeksi HBV yang berlangsung lebih dari enam bulan biasanya dianggap sebagai kronis. Kemungkinan terjadinya hepatitis B kronis lebih tinggi pada individu yang terinfeksi HBV dalam usia muda. Sekitar 90% individu yang terinfeksi selama proses persalinan atau segera setelah lahir mengalami hepatitis B kronis, sedangkan kurang dari 10% individu yang terinfeksi setelah usia lima tahun mengalami kasus kronis. Sebagian besar penderita hepatitis B kronis tidak bergejala; namun, sirosis dan kanker hati pada akhirnya akan terjadi pada sekitar 25% infeksi HBV kronis.

Virus hepatitis B ditularkan melalui paparan darah atau cairan tubuh. Di daerah-daerah di mana penyakit ini umum ditemukan, infeksi pada sekitar masa persalinan atau akibat kontak dengan darah orang lain selama masa kanak-kanak merupakan cara penularan hepatitis B yang paling sering terjadi. Di daerah-daerah di mana penyakit ini jarang ditemukan, penggunaan obat-obatan terlarang melalui suntikan intravena dan hubungan seksual merupakan jalur penularan yang paling sering. Faktor-faktor risiko lainnya adalah bekerja di bidang layanan kesehatan, transfusi darah, cuci darah, tinggal bersama orang yang terinfeksi, bepergian ke negara-negara dengan prevalensi yang tinggi, dan tinggal di panti atau penjara. Pembuatan tato dan akupuntur menjadi penyebab sejumlah besar kasus pada tahun 1980-an, tetapi hal ini sudah lebih jarang terjadi seiring dengan membaiknya proses sterilisasi. Virus hepatitis B tidak dapat ditularkan melalui aktivitas berpegangan tangan, berbagi alat makan, berciuman, berpelukan, batuk, bersin, atau menyusui. Infeksi ini dapat didiagnosis 30 hingga 60 hari setelah paparan. Diagnosis hepatitis B biasanya dikonfirmasi oleh pemeriksaan darah untuk mendeteksi komponen virus dan antibodi terhadap virus. Virus hepatitis B adalah salah satu dari lima virus hepatitis utama: A, B, C, D, dan E. Selama fase awal infeksi, penatalaksanaan didasarkan pada gejala yang dialami pasien. Pada mereka yang mengalami penyakit kronis, obat-obatan antivirus seperti tenofovir atau interferon dapat berguna, tetapi harga obat-obatan ini mahal. Transplantasi hati kadang direkomendasikan untuk kasus-kasus sirosis atau karsinoma hepatoseluler.

Sejak tahun 1982, infeksi hepatitis B dapat dicegah melalui vaksinasi. Sampai tahun 2022, vaksin hepatitis B 98% hingga 100% efektif mencegah terjadinya infeksi. Vaksin tersebut diberikan dalam beberapa dosis; setelah dosis awal, diperlukan dua atau tiga dosis vaksin tambahan di kemudian hari untuk memperoleh perlindungan penuh. World Health Organization (WHO) merekomendasikan agar bayi menerima vaksin dalam periode 24 jam setelah lahir jika memungkinkan. Hingga akhir tahun 2021, berbagai program nasional telah menyediakan vaksin hepatitis B untuk para bayi di 190 negara. Untuk mencegah penyebaran infeksi, WHO merekomendasikan agar seluruh darah yang didonorkan diuji hepatitis B sebelum digunakan untuk transfusi. Penggunaan profilaksis antivirus untuk mencegah penularan dari ibu ke anak juga direkomendasikan, begitu pula praktik hubungan seksual yang aman, termasuk penggunaan kondom. Pada tahun 2016, WHO menetapkan target untuk mengeliminasi hepatitis viral sebagai ancaman terhadap kesehatan masyarakat dunia pada tahun 2030. Pencapaian target ini akan membutuhkan pengembangan terapi pengobatan untuk menyembuhkan hepatitis B kronis, pencegahan penularannya, serta penggunaan vaksin untuk mencegah terjadinya infeksi baru.

Hingga tahun 2019, diperkirakan sebanyak 296 juta orang, atau 3,8% dari total populasi dunia, mengalami infeksi hepatitis B kronis. Pada tahun yang sama, terdapat 1,5 juta kasus infeksi akut baru dan 820.000 kematian akibat HBV. Sirosis dan kanker hati merupakan penyebab utama sebagian besar kematian terkait HBV. Prevalensi hepatitis B paling tinggi adalah di Afrika (menyerang 7,5% total populasi benua tersebut) dan di wilayah Pasifik Barat (5,9%). Tingkat infeksi hepatitis B di Eropa dan Amerika masing-masing adalah sebesar 1,5% dan 0,5%. Menurut beberapa perkiraan, sekitar sepertiga populasi dunia pernah terinfeksi hepatitis B pada suatu waktu dalam hidupnya. Hepatitis B awalnya dikenal dengan nama "hepatitis serum".

Gejala dan tanda

Infeksi akut virus berkaitan dengan hepatitis viral akut, yaitu suatu penyakit yang dimulai dengan gangguan kesehatan umum, hilang nafsu makan, mual, muntah, nyeri tubuh, demam ringan, dan urin berwarna gelap, yang kemudian berkembang menjadi jaundis. Penyakit ini berlangsung selama beberapa minggu dan kemudian berangsur-angsur membaik pada sebagian besar penderita. Sebagian kecil penderita dapat mengalami bentuk penyakit hati yang lebih berat yang dikenal sebagai gagal hati fulminan yang dapat berakibat fatal. Infeksi hepatitis B dapat sepenuhnya tanpa gejala dan tidak terdiagnosis.

Infeksi kronis virus dapat tidak bergejala atau dapat berkaitan dengan peradangan hati kronis (hepatitis kronis), yang dalam jangka waktu beberapa tahun dapat berkembang menjadi sirosis. Jenis infeksi ini secara signifikan meningkatkan kejadian karsinoma hepatoseluler (HCC; kanker hati). Di seluruh Eropa, hepatitis B dan C menyebabkan sekitar 50% karsinoma hepatoseluler. Pembawa kronis virus dianjurkan untuk menghindari konsumsi alkohol karena meningkatkan risiko sirosis dan kanker hati. telah dikaitkan dengan terjadinya glomerulonefritis membranosa.

Gejala-gejala ekstrahepatik ditemukan pada 1-10% orang yang terinfeksi HBV dan meliputi sindrom menyerupai penyakit serum, vaskulitis nekrotikans akut (poliarteritis nodosa), glomerulonefritis membranosa, dan akrodermatitis papular pada masa kanak-kanak (sindrom Gianotti-Crosti). Sindrom menyerupai penyakit serum terjadi pada akut dan sering mendahului timbulnya jaundis. Gambaran klinisnya meliputi demam, ruam kulit, dan poliarteritis. Gejala-gejala tersebut sering kali mereda segera setelah timbulnya jaundis, tetapi dapat bertahan selama periode akut. Sekitar 30–50% orang dengan vaskulitis nekrotikans akut (poliarteritis nodosa) merupakan pembawa HBV. Terdapat laporan kasus nefropati terkait HBV pada orang dewasa, tetapi hal ini lebih sering terjadi pada anak-anak. Glomerulonefritis membranosa merupakan bentuk yang paling umum. Gangguan hematologi yang diperantarai sistem imun lainnya, seperti krioglobulinemia campuran esensial dan anemia aplastik, telah dilaporkan sebagai bagian dari manifestasi ekstrahepatik infeksi HBV, tetapi hubungannya belum dipastikan secara jelas. Oleh karena itu, penyakit-penyakit tersebut kemungkinan tidak memiliki keterkaitan etiologis dengan HBV.

Penyebab

Penularan

Penularan hepatitis B terjadi akibat paparan terhadap darah yang mengandung virus atau cairan tubuh yang mengandung virus. HBV 50 hingga 100 kali lebih menular daripada human immunodeficiency virus (HIV). HBV dapat ditularkan melalui beberapa jalur penularan. Pada penularan vertikal, HBV ditularkan dari ibu ke anak saat persalinan. Tanpa adanya intervensi, seorang ibu dengan HBsAg positif memiliki risiko sebesar 20% untuk menularkan HBV kepada bayinya pada saat persalinan. Risiko ini mencapai 90% jika sang ibu juga positif HBeAg.

Penularan horizontal pada masa awal kehidupan dapat terjadi melalui gigitan, lesi, praktik kebersihan tertentu, atau kontak lain dengan sekresi tubuh. Meskipun HBV ditemukan pada hampir seluruh hasil sekresi dan ekskresi tubuh, hanya darah, air mani, dan sekresi vagina yang terbukti bersifat menularkan. Penularan horizontal pada dewasa diketahui terjadi melalui hubungan seksual, transfusi darah dan transfusi produk darah manusia lainnya, serta penggunaan berulang jarum dan alat suntik yang terkontaminasi. Aktivitas menyusui setelah pemberian imunoprofilaksis yang tepat tidak tampak berkontribusi terhadap penularan HBV dari ibu ke anak.

Virologi

Struktur

Virus (HBV) merupakan anggota famili hepadnavirus. Partikel virus (virion) terdiri atas selubung lipid luar dan sebuah inti nukleokapsid ikosahedral yang tersusun dari protein inti. Virion-virion ini berdiameter 30–42 nm. Nukleokapsid menyelubungi DNA virus dan DNA polimerase virus yang memiliki aktivitas transkriptase balik. Selubung luar virus mengandung protein-protein yang terintegrasi yang terlibat dalam pengikatan virus pada sel-sel yang rentan serta masuknya virus ke dalam sel-sel tersebut. Virus ini adalah salah satu virus hewan berselubung terkecil. Virion berukuran 42 nm yang mampu menginfeksi sel hati (hepatosit) disebut sebagai "partikel Dane". Selain partikel Dane, terdapat juga badan berbentuk filamen dan sferis tanpa inti nukleokapsid dalam serum individu yang terinfeksi. Partikel-partikel ini tidak menular dan tersusun dari lipid dan protein yang membentuk permukaan virion, yang disebut sebagai antigen permukaan (HBsAg), dan diproduksi secara berlebihan selama siklus hidup virus.

Genom

Genom HBV tersusun dari DNA sirkular, namun strukturnya tidak biasa karena DNA tersebut tidak sepenuhnya beruntai ganda. Salah satu ujung untai panjang yang utuh terikat pada DNA polimerase HBV. Genom virus memiliki panjang 3.020–3.320 basa nukleotida (untuk untai panjang yang utuh) dan 1.700–2.800 basa nukleotida (untuk untai pendek). Untai sense-negatif (non-penyandi) bersifat komplementer terhadap mRNA virus. DNA virus ditemukan di dalam nukleus segera setelah sel terinfeksi. DNA yang sebagian beruntai ganda kemudian menjadi sepenuhnya beruntai ganda melalui penyelesaian sintesis untai sense (+) dan penghilangan molekul protein dari untai sense (−) dan sekuens pendek RNA dari untai sense (+). Basa non-penyandi dihilangkan dari ujung-ujung untai sense (−), kemudian ujung-ujung tersebut disambungkan kembali. Terdapat empat gen yang diketahui dikodekan oleh genom, disebut C, X, P, dan S. Protein inti dikodekan oleh gen C (HBcAg), dan kodon awalnya didahului oleh kodon awal AUG dalam hulu rangka yang darinya protein pre-core dihasilkan. HBeAg dihasilkan oleh pemrosesan proteolitik protein pre-core. Pada beberapa galur virus yang langka yang dikenal sebagai mutan pre-core virus hepatitis B, tidak ditemukan HbeAg. DNA polimerase dikodekan oleh gen P. Gen S adalah gen yang mengodekan antigen permukaan (HBsAg). Gen HBsAg merupakan satu rangka baca terbuka yang panjang, tetapi mengandung tiga rangka kodon awal (ATG) yang membagi gen tersebut ke dalam tiga bagian: pre-S1, pre-S2, dan S. Akibat adanya beberapa kodon awal, terbentuk polipeptida dengan tiga ukuran berbeda yang disebut polipeptida besar (urutan dari bagian permukaan ke dalam: pre-S1, pre-S2, dan S), polipeptida tengah (pre-S2, S), dan polipeptida kecil (S). Terdapat gugus miristil, yang berperan penting dalam proses infeksi, pada ujung terminal dari bagian preS1 pada protein besar (L). Selain itu, N-terminus protein L memiliki titik pelekatan virus dan titik pengikatan kapsid. Oleh karena itu, termini-N dari setengah molekul protein L berada di luar membran dan setengah lainnya berada di dalam membran.

Fungsi dari protein yang dikodekan oleh gen X belum dipahami sepenuhnya, tetapi dikaitkan dengan terjadinya kanker hati. Protein tersebut menstimulasi gen yang memicu pertumbuhan sel dan menonaktifkan molekul-molekul yang meregulasi pertumbuhan.

Patogenesis

Siklus hidup virus bersifat kompleks. adalah salah satu dari sedikit pararetrovirus (non-retrovirus yang masih menggunakan transkripsi balik dalam proses replikasi mereka) yang diketahui. Virus tersebut masuk ke dalam sel dengan berikatan pada NTCP pada permukaan sel dan mengalami endositosis. Karena replikasi virus melibatkan RNA yang disintesis enzim inang, DNA genom virus harus dikirim ke nukleus sel oleh protein inang bernama kaperon. DNA melingkar yang sebagian beruntai ganda virus kemudian dibentuk menjadi beruntai ganda penuh oleh DNA polimerase HBV, mengubah genom menjadi DNA melingkar kovalen tertutup (cccDNA). cccDNA ini berfungsi sebagai cetakan untuk transkripsi empat mRNA virus oleh RNA polimerase inang. mRNA terbesar (yang lebih panjang daripada genom virus) digunakan untuk membuat salinan genom yang baru dan untuk membuat protein inti kapsid dan DNA polimerase virus. Keempat transkrip virus ini mengalami pemrosesan lebih lanjut dan kemudian membentuk virion progeni (keturunan) yang dilepaskan dari sel atau dikembalikan ke nukleus dan didaur ulang untuk menghasilkan salinan yang lebih banyak lagi. mRNA panjang tersebut kemudian diangkut kembali ke sitoplasma, di mana protein P virion (DNA polimerase) mensintesis DNA melalui aktivitas transkriptase baliknya. Selain ke reservoir cccDNA nukleusnya, fragmen-fragmen DNA virus hepatitis B dapat berintegrasi ke dalam genom inang, khususnya pada kasus-kasus infeksi kronis, dan integrasi ini berperan dalam perkembangan kanker hati.

Serotipe dan genotipe

Virus ini dibagi ke dalam empat serotipe besar (adr, adw, ayr, ayw) berdasarkan epitop antigenik yang ditampilkan pada protein selubungnya, dan ke dalam delapan genotipe besar (A–H). Genotipe-genotipe tersebut memiliki distribusi geografis yang berbeda yang digunakan dalam penelusuran evolusi dan penyebaran virus. Perbedaan antar genotipe memengaruhi tingkat keparahan penyakit, perjalanan penyakit dan kemungkinan terjadinya komplikasi, serta respons terhadap terapi dan vaksinasi. Terdapat dua genotipe lain, I dan J, tetapi keduanya belum diterima secara luas hingga tahun 2015. Keanekaragaman genotipe virus tidak tersebar secara merata di seluruh wilayah dunia. Sebagai contoh, genotipe A, D, dan E banyak ditemukan di Afrika, sementara genotipe B dan C banyak ditemukan di Asia.

Genotipe-genotipe tersebut memiliki perbedaan pada setidaknya 8% sekuens mereka dan dilaporkan pertama kali pada tahun 1988 ketika enam genotipe (A–F) pertama kali diidentifikasi. Sejak saat itu, ada dua genotipe lain (G dan H) yang telah diidentifikasi. Saat ini, sebagian besar genotipe terbagi ke dalam berbagai subgenotipe dengan karakteristik yang berbeda.

Mekanisme

Virus terutama mengganggu fungsi hati dengan bereplikasi di hepatosit. Virion berikatan dengan sel inang melalui domain pre-S pada antigen permukaan virus dan kemudian diinternalisasi melalui endositosis. Reseptor spesifik pre-S HBV utamanya diekspresikan di hepatosit; tetapi, DNA dan protein virus juga telah terdeteksi pada beberapa titik ekstrahepatik, menunjukkan bahwa reseptor seluler HBV mungkin juga terdapat pada sel-sel ekstrahepatik.

Selama infeksi HBV, respons imun inang menyebabkan kerusakan hepatoseluler dan klirens virus. Meskipun respons imunitas bawaan tidak berperan penting dalam proses ini, respons imun adaptif, khususnya limfosit T sitotoksik (CTL) spesifik virus, berkontribusi terhadap sebagian besar kerusakan hati terkait infeksi HBV. CTL mengeliminasi infeksi HBV dengan membunuh sel-sel yang terinfeksi dan menghasilkan sitokin antivirus, yang kemudian digunakan untuk membersihkan HBV dari hepatosit viabel. Meskipun kerusakan hati diinisiasi dan dimediasi oleh CTL, sel-sel inflamasi nonspesifik antigen dapat memperburuk imunopatologi yang diinduksi CTL, dan trombosit yang diaktifkan di titik infeksi dapat memfasilitasi akumulasi CTL di hati.

Diagnosis

Tes (asai) untuk mendeteksi infeksi virus melibatkan uji serum atau darah yang mendeteksi antigen virus (protein yang diproduksi oleh virus) atau antibodi yang diproduksi oleh inang. Interpretasi hasil tes ini bersifat kompleks.

Antigen permukaan (HBsAg) paling sering digunakan untuk skrining keberadaan infeksi. HBsAg merupakan antigen virus pertama yang terdeteksi selama infeksi. Namun, pada awal infeksi, antigen ini mungkin belum terdeteksi dan pada tahap lanjut infeksi, antigen ini dapat tidak terdeteksi karena sedang dieliminasi oleh inang. Virion menular mengandung "partikel inti" dalam yang membungkus genom virus. Partikel inti berbentuk ikosahedral tersebut terbuat dari 180 atau 240 salinan protein inti, atau dikenal sebagai antigen inti , atau HBcAg. Selama periode 'jendela' ini, inang tetap terinfeksi tetapi berhasil mengeliminasi virus, sehingga antibodi IgM spesifik terhadap antigen inti (anti-HBc IgM) merupakan satu-satunya bukti serologis penyakit. Oleh karena itu, sebagian besar panel diagnostik mengandung HBsAg dan anti-HBc total (baik IgM dan IgG).


Segera setelah HBsAg terdeteksi, antigen lain yang disebut antigen e (HBeAg) juga akan terdeteksi. Secara tradisional, keberadaan HBeAg dalam serum inang dikaitkan dengan tingkat replikasi virus yang jauh lebih tinggi dan peningkatan kemampuan menularkan infeksi. Namun, varian virus tidak menghasilkan antigen 'e', jadi aturan ini tidak selalu benar. Secara keseluruhan, hanya sebagian kecil kasus hepatitis B yang terdiagnosis yang ditemukan memiliki antigen 'e'. Selama perjalanan alami infeksi, HBeAg dapat dibersihkan, dan antibodi terhadap antigen 'e' (anti-HBe) akan segera muncul setelahnya. Konversi ini biasanya dikaitkan dengan penurunan nyata dalam replikasi virus.

Jika inang mampu mengatasi infeksi, pada akhirnya HBsAg akan menjadi tidak terdeteksi dan hal ini akan diikuti dengan munculnya antibodi IgG terhadap antigen permukaan dan antigen inti hepatitis B (IgG anti-HBs dan IgG anti-HBc). Waktu antara hilangnya HBsAg dan munculnya anti-HBs disebut periode jendela. Seseorang dengan HBsAg negatif tetapi anti-HBs positif dapat berarti telah sembuh dari infeksi atau telah divaksinasi sebelumnya.

Individu dengan HBsAg tetap positif setidaknya selama enam bulan dianggap sebagai pembawa . Pembawa virus mungkin mengidap hepatitis B kronis, yang ditunjukkan dengan peningkatan kadar serum alanina aminotransferase (ALT) dan penanda peradangan hati, jika individu pembawa tersebut berada dalam fase klirens imun dari infeksi kronis. Pembawa yang telah mengalami serokonversi ke status HBeAg negatif, khususnya mereka yang memperoleh infeksi saat dewasa, memiliki multiplikasi virus yang sangat sedikit dan karenanya mungkin berisiko kecil mengalami komplikasi jangka panjang atau menularkan infeksi ke orang lain. Namun, terdapat kemungkinan bagi penderita untuk memasuki fase "immune escape", meskipun langka terjadi, dengan reaktivasi hepatitis HBeAg-negatif dan kembali menunjukkan tanda-tanda penyakit meskipun sebelumnya telah mengalami kontrol sistem imun penuh. Hal ini mengakibatkan replikasi virus yang tinggi dan progresivitas penyakit yang lebih cepat ke arah sirosis dibandingkan dengan perjalanan penyakit yang biasa. Individu-individu tersebut umumnya akan memiliki antibodi anti-Hbe yang dapat terdeteksi, namun tidak memiliki HBeAg yang dapat terdeteksi dalam serum.


Tes PCR telah dikembangkan untuk mendeteksi dan mengukur jumlah DNA HBV, yang disebut beban virus, dalam spesimen klinis. Tes ini digunakan untuk menilai status infeksi seseorang dan untuk memantau pengobatan. Individu dengan beban virus yang tinggi secara khas memiliki gambaran hepatosit ground glass pada biopsi.

Pencegahan

Vaksin

Pemberian vaksin pada bayi untuk pencegahan hepatitis B telah direkomendasikan secara rutin di Amerika Serikat sejak tahun 1991. Pemberian dosis pertama vaksin umumnya direkomendasikan dalam 24 jam setelah kelahiran bayi. Vaksin hepatitis B adalah vaksin pertama yang terbukti dapat mencegah kanker, khususnya kanker hati.

Sebagian besar vaksin diberikan dalam 3 dosis dalam beberapa bulan. Respons protektif terhadap vaksin didefinisikan sebagai konsentrasi antibodi anti-HBs sekurang-kurangnya 10 mIU/ml pada serum penerima vaksin. Vaksin lebih efektif diberikan pada anak-anak dan 95% penerima vaksin memiliki antibodi dengan kadar antibodi protektif. Kadar antibodi tersebut turun menjadi sekitar 90% pada usia 40 tahun dan menjadi sekitar 75% pada usia 60 tahun. Proteksi yang diberikan oleh vaksin bersifat jangka panjang, bahkan sesudah konsentrasi antibodi turun di bawah 10 mIU/ml. Untuk bayi baru lahir dari ibu dengan HBsAg positif: vaksin hepatitis B saja, imunoglobulin hepatitis B saja, atau kombinasi vaksin dan imunoglobulin hepatitis B, semuanya efektif mencegah terjadinya hepatitis B. Kombinasi vaksin dan imunoglobulin hepatitis B lebih unggul dibandingkan vaksin saja. Kombinasi ini mencegah penularan HBV pada periode perinatal pada 86% hingga 99% kasus.

Pemberian tenofovir pada trimester kedua atau ketiga dapat menurunkan risiko penularan HBV dari ibu ke anak sebesar 77% ketika dikombinasikan dengan pemberian imunoglobulin hepatitis B dan vaksin hepatitis B, khususnya pada ibu hamil dengan kadar DNA virus hepatitis B yang tinggi. Namun, tidak tersedia cukup bukti bahwa pemberian imunoglobulin hepatitis B saja selama masa kehamilan dapat mengurangi angka penularan ke bayi yang baru lahir. Tidak ada uji klinis acak terkontrol yang telah dilakukan untuk menilai efek vaksin hepatitis B selama masa kehamilan dalam mencegah infeksi bayi.

Semua orang yang berisiko terpapar cairan tubuh seperti darah harus menerima vaksin jika belum pernah menerimanya. Tes untuk memastikan efektivitas imunisasi dan pemberian dosis vaksin tambahan kepada mereka dengan kekebalan yang belum cukup memadai direkomendasikan.

Dalam studi tindak lanjut selama 10 hingga 22 tahun, tidak ada kasus hepatitis B pada individu dengan sistem imun normal yang telah divaksinasi. Hanya ada kasus infeksi kronis langka yang telah didokumentasikan. Vaksinasi sangat direkomendasikan untuk kelompok berisiko tinggi seperti tenaga kesehatan, penderita gagal ginjal kronis, dan laki-laki yang berhubungan seks dengan sesama laki-laki.

Kedua jenis vaksin hepatitis B, yaitu vaksin turunan plasma (PDV) dan vaksin rekombinan (RV), memiliki efektivitas yang serupa dalam mencegah infeksi pada kelompok tenaga kesehatan maupun kelompok penderita gagal ginjal kronis. Terdapat satu perbedaan yang ditemukan dalam kelompok tenaga kesehatan: pemberian RV melalui rute intramuskuler secara signifikan lebih efektif dibandingkan dengan rute intradermal.

Lainnya

Pada teknologi reproduksi berbantuan, pencucian sperma bagi laki-laki dengan hepatitis B tidak diperlukan untuk mencegah penularan, kecuali jika pasangan perempuan belum mendapatkan vaksinasi yang efektif. Pada perempuan dengan hepatitis B, risiko penularan dari ibu ke anak pada IVF tidak berbeda dengan risiko pada konsepsi spontan.

Individu yang berisiko tinggi tertular dianjurkan untuk menjalani skrining karena tersedia pengobatan yang efektif bagi mereka yang terbukti terinfeksi. Kelompok yang dianjurkan menjalani skrining mencakup mereka yang belum menerima vaksin dan salah satu dari kelompok berikut: orang yang berasal dari wilayah dunia dengan prevalensi hepatitis B lebih dari 2%, individu dengan HIV, pengguna obat intravena, laki-laki yang berhubungan seksual dengan sesama laki-laki, dan mereka yang tinggal dengan penderita hepatitis B. Skrining selama masa kehamilan juga direkomendasikan di Amerika Serikat.

Pengobatan

Infeksi akut biasanya tidak membutuhkan terapi dan kebanyakan orang dewasa dapat mengeliminasi infeksi secara spontan. Pengobatan antivirus dini mungkin diperlukan pada kurang dari 1% orang dengan perjalanan infeksi yang sangat agresif (hepatitis fulminan) atau kondisi imunokompromais. Di sisi lain, pengobatan terhadap infeksi kronis mungkin diperlukan untuk mengurangi risiko sirosis dan kanker hati. Individu yang mengalami infeksi kronis disertai dengan peningkatan kadar alanina aminotransferase serum, penanda kerusakan hati, dan DNA HBV merupakan kandidat untuk menjalani terapi. Terapi berlangsung selama enam bulan hingga satu tahun tergantung pada pengobatan dan genotipe. Durasi terapi ketika obat dikonsumsi lewat mulut lebih bervariasi dan biasanya berlangsung lebih dari satu tahun.

Meskipun tidak ada obat yang dapat mengeliminasi infeksi HBV sepenuhnya, obat-obatan tersebut dapat menghentikan replikasi virus sehingga meminimalkan kerusakan hati. Hingga tahun 2024, terdapat tujuh obat yang memperoleh lisensi untuk pengobatan infeksi hepatitis B di Amerika Serikat. Obat-obatan tersebut meliputi obat antivirus lamivudin, adefovir, tenofovir disoproksil, tenofovir alafenamida, telbivudin, dan entekavir, serta dua modulator sistem imun interferon alfa-2a dan Peginterferon alfa-2a. Pada tahun 2015, WHO merekomendasikan tenofovir atau entecavir sebagai obat lini pertama. Pasien yang telah mengalami sirosis adalah pihak yang paling membutuhkan pengobatan.

Penggunaan interferon, yang membutuhkan suntikan setiap hari atau tiga kali seminggu, telah digantikan oleh interferon PEGylated kerja lama, yang disuntikkan hanya sekali seminggu. Namun, beberapa individu mungkin memiliki respons yang jauh lebih baik daripada yang lain, dan hal ini mungkin disebabkan oleh genotipe virus yang menginfeksi atau faktor keturunan individu tersebut. Pengobatan ini mengurangi replikasi virus di hati sehingga menurunkan beban virus (jumlah partikel virus yang diukur dalam darah). Respons terhadap pengobatan berbeda-beda antar genotipe. Terapi interferon dapat menghasilkan tingkat serokonversi antigen e sebesar 37% pada genotipe A, tetapi hanya 6% pada tipe D. Genotipe B memiliki tingkat serokonversi yang serupa dengan tipe A, sedangkan genotipe tipe C hanya mengalami serokonversi pada 15% kasus. Tingkat kehilangan antigen e yang menetap setelah terapi adalah ~45% pada tipe A dan B, tetapi hanya 25–30% pada tipe C dan D.

Tampaknya rencana WHO pada tahun 2016 untuk tercapainya eliminasi penyakit ini pada tahun 2030 tidak akan terwujud. Namun, berbagai kemajuan terus dicapai dalam pengembangan terapi pengobatan. Pada tahun 2010, Hepatitis B Foundation melaporkan bahwa 3 obat tahap praklinis dan 11 obat tahap klinis yang sedang dikembangkan dengan mekanisme kerja yang sebagian besar serupa. Pada tahun 2020, mereka melaporkan bahwa terdapat 17 obat tahap praklinis dan 32 obat tahap klinis yang sedang dikembangkan dengan mekanisme beragam.

Prognosis

Infeksi virus dapat berlangsung akut (sembuh secara spontan) atau kronis (berlangsung lama). Pasien dengan infeksi akut sembuh secara spontan dalam beberapa minggu hingga bulan.

Anak-anak lebih sulit untuk mengeliminasi infeksi dibandingkan orang dewasa. Lebih dari 95% orang yang terinfeksi saat dewasa atau pada masa anak-anak yang sudah cukup besar akan sembuh sepenuhnya dan membentuk kekebalan terhadap virus. Namun, hanya 30% anak usia dini dan hanya 5% bayi yang tertular HBV dari ibu mereka pada saat proses persalinan yang dapat mengatasi infeksi HBV. Kelompok tersebut memiliki risiko 40% seumur hidupnya untuk mengalami kematian akibat sirosis atau karsinoma hepatoseluler. Pada mereka yang terinfeksi dalam usia antara satu sampai enam tahun, 70% akan mengatasi infeksi.

Hepatitis D (HDV) dapat terjadi hanya bersamaan dengan infeksi , karena HDV menggunakan antigen permukaan HBV untuk membentuk kapsid. Ko-infeksi dengan hepatitis D meningkatkan risiko terjadinya sirosis hati dan kanker hati. Poliarteritis nodosa lebih sering ditemukan pada orang dengan infeksi .

Sirosis

Tersedia sejumlah pemeriksaan untuk menilai derajat sirosis yang ada. Elastografi transien (FibroScan) merupakan metode pemeriksaan pilihan, namun biayanya tinggi. Indeks rasio aspartat aminotransferase terhadap trombosit dapat digunakan apabila biaya menjadi pertimbangan.

Reaktivasi

DNA virus tetap berada di tubuh setelah infeksi, dan pada beberapa orang, termasuk pada mereka dengan HBsAg yang tidak terdeteksi, penyakit ini dapat kambuh. Meskipun jarang terjadi, reaktivasi virus paling sering terjadi setelah konsumsi alkohol atau penggunaan obat-obatan terlarang, atau pada individu dengan gangguan sistem kekebalan. HBV mengalami beberapa siklus replikasi dan nonreplikasi. Sekitar 50% pembawa virus dengan manifestasi klinis mengalami reaktivasi akut. Laki-laki dengan kadar ALT dasar sebesar 200 UL/L tiga kali lebih berisiko untuk mengalami reaktivasi dibandingkan mereka dengan kadar yang lebih rendah. Meskipun reaktivasi dapat terjadi secara spontan, orang yang menjalani kemoterapi memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami reaktivasi. Obat-obatan imunosupresan meningkatkan replikasi HBV sekaligus menghambat fungsi sel T sitotoksik di hati. Risiko reaktivasi bervariasi tergantung pada profil serologi; mereka dengan HBsAg yang terdeteksi dalam darah berada dalam risiko tertinggi, namun mereka yang hanya memiliki antibodi terhadap antigen inti juga berada dalam risiko. Adanya antibodi terhadap antigen permukaan, yang dianggap sebagai penanda imunitas, tidak menyingkirkan risiko reaktivasi. Terapi dengan antivirus profilaksis dapat mencegah morbiditas serius yang berhubungan dengan reaktivasi HBV.

Epidemiologi

Pada tahun 2022, sekitar 254 juta orang mengalami infeksi HBV kronis. Sebanyak 1,2 juta kasus infeksi HBV akut juga terjadi di tahun yang sama. Prevalensi hepatitis B di berbagai wilayah dunia berkisar dari sekitar 7,5% di Afrika hingga 0,5% di Amerika.

Metode utama penularan HBV dan prevalensi infeksi HBV kronis pada wilayah-wilayah tertentu sering kali saling berhubungan satu sama lain. Pada populasi dengan prevalensi HBV sebesar 8% atau lebih, yang diklasifikasikan sebagai prevalensi tinggi, penularan vertikal (biasanya terjadi selama persalinan) adalah metode penularan yang paling umum terjadi, meskipun tingkat penularan pada masa kanak-kanak dini juga dapat signifikan dalam populasi-populasi ini. Pada tahun 2021, 19 negara Afrika memiliki prevalensi yang berkisar antara 8% hingga 19%, menempatkan mereka dalam kategori dengan prevalensi tinggi. Prevalensi HBV yang tinggi juga didapatkan di Mongolia. Afrika sub-Sahara memiliki prevalensi HBV tertinggi, dengan prevalensi lebih dari 15% di Eritrea, Guinea, Liberia dan Eswatini pada tahun 2017.

Pada wilayah dengan prevalensi moderat, yaitu di mana 2–7% populasi mengalami infeksi kronis, penyakit ini sebagian besar menular secara horizontal, sering kali di antara anak-anak, namun juga terjadi secara vertikal. Prevalensi HBV Tiongkok berada pada batas atas kategori prevalensi moderat dengan prevalensi sebesar 6,89% pada tahun 2019. Prevalensi HBV di India juga termasuk moderat yaitu sebesar 2–4%.

Di Eropa, sebagian besar negara-negara Eropa Barat memiliki prevalensi yang rendah di bawah 1%, tetapi prevalensi menengah ditemukan pada beberapa bekas negara-negara Blok Timur, dengan prevalensi tertinggi terdapat pada wilayah Balkan dan bekas negara-negara Uni Soviet. Pada tahun 2017, prevalensi tertinggi di Eropa terdapat di Moldova dan Albania (masing-masing memiliki prevalensi sebesar 9,61% dan 9%) serta di Rumania, Kazakhstan, dan Turki (masing-masing memiliki prevalensi menengah sebesar 5,49%, 4,95% dan 4,29%). Namun demikian, prevalensi HBV di banyak negara Eropa Timur sangat bervariasi antar generasi karena penerapan standar kebersihan yang baru di fasilitas kesehatan dan dimasukkannya vaksin hepatitis B ke dalam skema imunisasi nasional pada tahun 1990-an seperti yang terjadi di Rumania, menurunkan prevalensi HBV secara signifikan.

Negara-negara dengan prevalensi HBV rendah meliputi Australia (0,9%), negara-negara di wilayah Eropa menurut WHO (dengan rata-rata 1,5%), dan sebagian besar negara-negara di Amerika Utara dan Selatan (dengan rata-rata 0,28%).

Di Indonesia, prevalensi hepatitis B pada tahun 2023 adalah 2,4% (kategori moderat), turun dari tahun 2013 yaitu sebesar 7,1%. Data tahun 2022 menunjukkan angka kematian akibat hepatitis B di Indonesia adalah sebesar 21,7 per 100.000 penduduk. Di Amerika Serikat, diperkirakan 0,26% populasi hidup dengan infeksi HBV pada tahun 2018.

Sejarah

Penemuan DNA HBV pada sisa-sisa manusia purba menunjukkan bahwa HBV telah menginfeksi manusia setidaknya selama sepuluh milenium, baik di Eurasia maupun di Amerika. Hal ini membantah anggapan bahwa hepatitis B berasal dari Dunia Baru dan menyebar ke Eropa sekitar abad ke-16. Subgenotipe C4 virus hepatitis B hanya ditemukan pada penduduk asli Australia, yang menunjukkan asal usul yang sangat tua hingga sekitar 50.000 tahun yang lalu. Tetapi, analisis terhadap genom-genom HBV purba menunjukkan bahwa nenek moyang bersama paling baru dari seluruh galur HBV yang diketahui diperkirakan berasal dari antara 20.000 hingga 12.000 tahun yang lalu, menunjukkan bahwa seluruh genotipe HBV memiliki asal-usul yang lebih baru. Evolusi HBV pada manusia diketahui mencerminkan peristiwa-peristiwa sejarah manusia yang telah diketahui seperti migrasi awal manusia ke Amerika pada akhir era Pleistosen dan transisi Neolitik di Eropa. Penelitian DNA purba juga menunjukkan bahwa beberapa galur virus hepatitis purba masih menginfeksi manusia, sedangkan galur-galur lainnya telah punah.

Catatan paling awal mengenai epidemi yang disebabkan oleh virus dibuat oleh Lurman pada tahun 1885. Terjadi wabah cacar di Bremen pada tahun 1883 dan sebanyak 1.289 pekerja galangan kapal divaksin menggunakan limfa dari orang lain. Setelah beberapa minggu, dan hingga delapan bulan kemudian, 191 pekerja yang divaksinasi jatuh sakit dengan gejala jaundis dan didiagnosis dengan hepatitis serum. Pekerja lain yang diinokulasi dengan limfa dari gelombang yang berbeda tetap sehat. Karya ilmiah Lurman, yang sekarang dianggap sebagai sebuah contoh klasik penelitian epidemiologi, membuktikan bahwa limfa yang terkontaminasi menjadi sumber wabah tersebut. Di kemudian hari, beberapa wabah serupa dilaporkan terjadi setelah diperkenalkannya penggunaan jarum hipodermik pada tahun 1909, dan yang lebih penting, pemakaian ulang jarum untuk pemberian Salvarsan dalam terapi sifilis.

Wabah hepatitis B terbesar yang pernah tercatat adalah kasus infeksi pada sekitar 330.000 tentara Amerika selama Perang Dunia II. Terjadinya wabah tersebut dikaitkan dengan vaksin demam kuning yang dibuat menggunakan serum darah manusia yang terkontaminasi, dan setelah menerima vaksinasi, sekitar 50.000 tentara mengalami jaundis.

Virus hepatitis B baru ditemukan pada tahun 1966 ketika Baruch Blumberg, saat itu bekerja di National Institutes of Health (NIH), menemukan antigen Australia (di kemudian hari dikenal sebagai antigen permukaan , atau HBsAg) di dalam darah masyarakat Aborigin Australia. Meskipun keberadaan virus telah dicurigai sejak penelitian yang dipublikasikan oleh Frederick MacCallum pada tahun 1947, David Dane dan rekan-rekannya menemukan partikel virus tersebut pada tahun 1970 melalui mikroskop elektron. Pada tahun 1971, FDA mengeluarkan perintah skrining suplai darah pertamanya kepada bank darah. Pada awal tahun 1980-an, genom virus hepatitis B telah berhasil diurutkan, dan vaksin pertama mulai diuji.

Masyarakat dan budaya

Hari Hepatitis Sedunia, yang diperingati setiap 28 Juli, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dunia akan dan hepatitis C serta mengampanyekan pencegahan, diagnosis, dan pengobatannya. Peringatan ini telah dipimpin oleh World Hepatitis Alliance sejak tahun 2007 dan pada bulan Mei 2010, gerakan ini menerima dukungan global dari WHO.

Lihat pula

Referensi

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29463765 (2026-07-16T03:56:09Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.