Lompat ke isi

Nikotinamida

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 7 September 2026 13.25 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29572646; atribusi sumber disertakan.)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Nikotinamida, juga dikenal sebagai niasinamida dan nikotinik amida, adalah suatu amida dari asam nikotinat (vitamin B3 / niasin). Nikotinamida merupakan vitamin yang sangat larut dalam air dan bagian dari kelompok vitamin B. Asam nikotinat, juga dikenal sebagai niasin, diubah menjadi nikotinamida secara in vivo, dan meskipun keduanya mempunyai fungsi yang identik sebagai vitamin, nikotinamida tidak mempunyai efek farmakologi dan toksisitas sama dengan yang dimiliki oleh niasin, yang terjadi insidental dari konversi niasin. Jadi nikotinamida tidak mengurangi kolesterol atau menyebabkan flushing, meskipun nikotinamida lebih toksis pada hati pada dosis melebihi 3 g/hari bagi orang dewasa. Dalam sel, niasin disisipkan ke dalam nikotinamida adenina dinukleotida (NAD) dan nikotinamida adenina dinukleotida fosfat (NADP), meskipun jalur reaksi asam nikotinat amida dan asam nikotinat sangat mirip. NAD+ dan NADP+ adalah koenzim bagi banyak reaksi enzimatik oksidasi-reduksi. Senyawa ini diproduksi melalui aminolisis dalam air dari 3-sianopiridina (nikotinonitril) dan dilanjutkan dengan kristalisasi.

Kegunaan dalam medis

Kondisi kulit

Nikotinamida telah menunjukkan tindakan antiradang yang mungkin bermanfaat bagi pasien dengan kondisi kulit inflamasi. Kondisi ini termasuk jerawat, dan senyawa ini dapat menekan transformasi limfosit yang diinduksi antigen dan menghambat 3',5'-siklik-AMP fosfodiesterase. Nikotinamida telah terbukti mampu memblokir aksi inflamasi iodida yang diketahui memicu atau memperparah jerawat yang disertai radang.

Berdasarkan bidang penelitian ini, NicAzel dan Nicomide adalah nama obat jerawat oral yang mengandung nikotinamida sebagai bahan utamanya. Nikotinamida juga ditemukan sebagai bagian dari kombinasi suplemen tambahan baru yang disebut, AzerizinTM. Menurut produsen Azerizin, zat tambahan ini merupakan bagian dari produk suplemen makanan resep mereka, yang mereka klaim dapat membantu mengatasi kondisi kulit yang meradang. Nikotinamida juga digunakan secara topikal dalam bentuk gel atau krim 4% atau 5% - sama efektifnya dengan klindamisin topikal 1% (uji coba ganda-buta 8 minggu) yang dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas New York. Tidak seperti eritromisin atau klindamisin topikal, obat ini tidak memicu resistensi bakteri dalam mengobati jerawat yang disertai radang. Perawatan jerawat dengan nikotinamida juga tersedia dalam bentuk bantalan dan krim nikotinamida.

Nikotinamida juga dilaporkan sebagai pemutih kulit yang efektif dalam aplikasi topikal.

Kecemasan

Studi menunjukkan bahwa nikotinamida memiliki sifat anksiolitik (anti-kecemasan). Nikotinamida mungkin bekerja dengan cara yang mirip dengan benzodiazepin.

Penyakit Alzheimer

Zat ini adalah aktivator sirtuin (tetapi menghambat pada dosis yang lebih tinggi) dan telah dilaporkan memulihkan kognisi pada mencit transgenik penyakit Alzheimer. Sebuah studi keamanan niasinamida untuk pengobatan penyakit Alzheimer saat ini sedang berlangsung di Universitas California, Irvine.

Kanker

Nikotinamida berperan sebagai agen kemoterapi dan radiosensitisasi/promotor pertumbuhan kanker dengan meningkatkan aliran darah tumor, sehingga mengurangi hipoksia tumor. Niasinamida juga menghambat poli(ADP-ribosa) polimerase (PARP-1), enzim yang terlibat dalam penyambungan kembali untai DNA yang putus akibat radiasi atau kemoterapi. PARP-1 tampaknya menjadi target penting untuk kanker payudara tripel negatif karena sel-sel tersebut sensitif terhadap penghambatan PARP-1. Niasinamida juga digunakan oleh beberapa pasien dalam kombinasi dengan terapi vitamin C intravena untuk kanker. Telah diketahui juga bahwa ia dapat mencegah imunosupresi yang disebabkan oleh radiasi UVA dan UVB (sehingga berpotensi ditambahkan ke tabir surya).

Apoptosis

Nikotinamida dapat mencegah apoptosis (kematian sel terprogram) pada sel yang terpapar agen pemicu stres oksidatif. Oleh karena itu, nikotinamida mencegah apoptosis pada sel neuron kortikal manusia ketika stres oksidatif diinduksi oleh butilhidroperoksida tersier, dan pada Jurkat (sel limfoma sel T manusia) ketika stres oksidatif diinduksi oleh natrium deoksikolat.

Lain-lain

Nikotinamida dilaporkan meningkatkan daya tahan tikus.

Sumber makanan

Nikotinamida ditemukan dalam jumlah sangat kecil terutama pada daging, ikan, kacang-kacangan, dan jamur, juga dalam jumlah lebih kecil pada sayur-sayuran.

Toksisitas

Nikotinamida tidak mempunyai aksi vasodilator, gastrointestinal, hepatik, dan hipolipidemik yang dimiliki oleh asam nikotinat. Jadi, nikotinamida tidak menunjukkan efek flushing, rasa gatal, dan terbakar pada kulit sebagaimana timbul ketika meminum dosis besar asam nikotinat secara oral. Dosis tinggi nikotinamida masih dianggap sebagai obat dengan potensial toksisitas pada dosis dewasa melebihi 3 g/hari dan tidak dianjurkan untuk digunakan tanpa pengawasan. Secara keseluruhan, jarang menyebabkan efek samping, dan umumnya dianggap aman sebagai aditif makanan dan sebagai komponen pada kosmetik dan obat-obatan.

Status Kompendium

Lihat pula

Referensi

Pranala luar


Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29572646 (2026-08-13T15:40:30Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.