Lompat ke isi

Azelastin

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 7 September 2026 13.29 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 27340685; atribusi sumber disertakan.)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Azelastin adalah obat penghambat reseptor H1 yang terutama digunakan sebagai semprotan hidung untuk mengobati rinitis alergi (hay fever) dan sebagai obat tetes mata untuk konjungtivitis alergi. Kegunaan lain mungkin termasuk asma dan ruam kulit. Efeknya timbul dalam beberapa menit jika digunakan di mata, dan dalam satu jam jika digunakan di hidung. Efeknya bertahan hingga 12 jam.

Efek samping yang umum termasuk sakit kepala, mengantuk, perubahan rasa, dan sakit tenggorokan. Tidak jelas apakah penggunaan aman selama kehamilan atau menyusui. Obat ini adalah antihistamin generasi kedua dan bekerja dengan menghalangi pelepasan sejumlah mediator inflamasi termasuk histamin.

Azelastin dipatenkan pada tahun 1971 dan mulai digunakan dalam dunia medis pada tahun 1986. Obat ini tersedia sebagai obat generik.

Kegunaan medis

Semprotan hidung azelastin diindikasikan untuk pengobatan lokal gejala rhinitis alergi musiman dan rhinitis alergi perenial, seperti hidung berair, bersin, dan hidung gatal pada orang berusia lima tahun ke atas. Di beberapa negara, obat ini juga diindikasikan untuk pengobatan rinitis vasomotor pada orang dewasa dan anak-anak ≥ 12 tahun. Tetes mata azelastin diindikasikan untuk pengobatan lokal konjungtivitis alergi musiman dan perenial.

Efek samping

Azelastin aman dan dapat ditoleransi dengan baik pada orang dewasa dan anak-anak dengan rinitis alergi. Rasa pahit, sakit kepala, hidung terbakar, dan mengantuk adalah efek samping yang paling sering dilaporkan. Rekomendasi resep AS memperingatkan terhadap penggunaan alkohol dan/atau depresan sistem saraf pusat lainnya secara bersamaan, tetapi hingga saat ini belum ada penelitian untuk menilai efek semprotan hidung azelastin pada SSP manusia. Penelitian yang lebih baru telah menunjukkan tingkat kantuk yang sama (sekitar 2%) dibandingkan dengan pengobatan plasebo.

Efek samping yang paling umum adalah rasa pahit (sekitar 20% orang). Karena itu, produsen telah memproduksi formulasi azelastin lain dengan sukralosa. Masalah rasa pahit juga dapat dikurangi dengan penggunaan semprotan hidung yang benar (misalnya sedikit menundukkan kepala ke depan dan tidak menghirup obat terlalu dalam), atau sebagai alternatif menggunakan formulasi azelastin/sukralosa.

Selain itu, anosmia (kehilangan kemampuan mencium) dapat terjadi dengan antihistamin semprot hidung (termasuk kedua formulasi azelastin).

Farmakologi

Farmakodinamik

Azelastin memiliki tiga cara kerja:

Farmakokinetik

Bioavailabilitas sistemik azelastin sekitar 40% saat diberikan secara intranasal. Konsentrasi plasma maksimum (Cmax) diamati dalam waktu 2–3 jam. Waktu paruh eliminasi, volume distribusi kondisi stabil, dan klirens plasma masing-masing adalah 22 jam; 14,5 L/kg; dan 0,5 L/jam/kg (berdasarkan data pemberian intravena dan oral). Sekitar 75% dari dosis oral diekskresikan dalam feses. Farmakokinetik azelastin yang diberikan secara oral tidak dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, atau gangguan fungsi hati.

Metabolisme

Azelastin dimetabolisme secara oksidatif oleh keluarga sitokrom P450 menjadi metabolit aktifnya, desmetilazelastin, dan dua metabolit asam karboksilat yang tidak aktif.

Properti kimia

Tata nama kimia azelastin adalah (±)-1-(2H)-ftalazinona, 4-[(4-klorofenil) metil]-2-(heksahidro-1-metil-1H-azepin-4-il)-monohidroklorida. Warnanya putih, hampir tidak berbau dengan rasa pahit.


Referensi

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 27340685 (2025-05-31T07:13:37Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.