Lompat ke isi

Mons pubis

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 7 September 2026 13.45 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29318762; atribusi sumber disertakan.)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Dalam anatomi manusia, dan pada mamalia secara umum, mons pubis atau gundukan pubis (juga dikenal hanya sebagai mons ), dan secara spesifik pada perempuan dikenal sebagai mons Venus atau dengan istilah yang lebih lama mons veneris, adalah massa membulat dari jaringan lemak yang berada di atas simfisis pubis dari tulang pubis.

Struktur

Pada perempuan, mons pubis membentuk bagian anterior dan superior dari vulva. Struktur ini terbagi menjadi labia mayora (secara harfiah 'bibir yang lebih besar'), di kedua sisi lekukan yang dikenal sebagai celah pudendal yang mengelilingi bagian vulva lainnya: labia minora, klitoris, meatus urinarius, bukaan vagina, dan vestibula vulva.

Meskipun terdapat pada pria dan wanita, mons pubis cenderung lebih besar pada wanita. Sebelum masa pubertas, mons pubis relatif rata dan tidak berambut. Jaringan lemaknya sensitif terhadap estrogen, yang menyebabkan terbentuknya gundukan yang jelas seiring dengan dimulainya masa pubertas wanita. Hal ini mendorong bagian depan labia mayora keluar dan menjauh dari tulang pubis. Peningkatan aktivitas androgen dapat menyebabkan kulit mons pubis tertutup oleh rambut kemaluan yang kasar. Selama masa menopause, rambut kemaluan dapat menipis dan ukuran mons pubis mengecil.

Etimologi

Istilah mons pubis berasal dari bahasa Latin yang berarti "gundukan pubis". Istilah mons Venus yang lebih spesifik untuk perempuan atau istilah yang lebih tua mons veneris berasal dari bahasa Latin yang berarti "gundukan Venus".

Masyarakat dan budaya

Meskipun bukan bagian dari alat kelamin luar itu sendiri, gundukan pubis dapat dianggap sebagai zona erogen dan sangat dierotisasi dalam banyak budaya. Sepanjang sejarah, penghilangan rambut kemaluan seluruhnya atau sebagian telah menjadi hal yang umum di banyak masyarakat, dan baru-baru ini hal tersebut telah tersebar luas di dunia Barat. Menghilangkan seluruh rambut kemaluan telah menjadi praktik umum dalam tiga puluh tahun terakhir terutama karena tekanan sosial dan preferensi pribadi. Terdapat beberapa metode penghilangan yang populer termasuk mencukur dan waxing, seperti waxing brazil.

Dalam beberapa keadaan, mons pubis menjadi sasaran idealisme estetika di luar penghilangan rambut. Sejalan dengan hal tersebut, ditawarkan bedah plastik yang mengubah bentuk mons menjadi bentuk ideal yang diinginkan.

Bentuk dekorasi permanen untuk meningkatkan daya tarik estetika di area ini adalah hanabira (penerapan luka kosmetik) atau tindikan seperti Tindik Christina atau Tindik Nefertiti. Vajazzling mengacu pada dekorasi tidak permanen pada mons pubis dengan ornamen kristal. Tato kelamin juga umum dilakukan di area ini menggunakan tinta tradisional serta desain inai sementara atau mehndi.

Meskipun memperlihatkan mons pubis di depan umum biasanya merupakan tindakan ilegal, terdapat beberapa pakaian yang memperlihatkannya. Misalnya, pada tahun 1985, empat minggu sebelum kematiannya, Rudi Gernreich memperkenalkan pubikini, pakaian renang topless (tanpa atasan) yang memperlihatkan mons pubis dan rambut kemaluan pemakainya. Pakaian ini merupakan bawahan tipis berbentuk V bergaya thong yang di bagian depannya menampilkan sepotong kecil kain. Pubikini digambarkan sebagai sebuah pièce de résistance yang sepenuhnya membebaskan tubuh manusia.

Galeri

Referensi

Daftar pustaka

Pranala luar


Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29318762 (2026-06-06T06:31:46Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.