Lompat ke isi

Vaksin virus Epstein-Barr

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 7 September 2026 17.28 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29593732; atribusi sumber disertakan.)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Hingga 2024, vaksin untuk virus Epstein–Barr belum tersedia, virus yang menyebabkan infeksi berbahaya dan mengakibatkan demam kelenjar. Terdapat pula bukti yang makin mengarah kepada bahwa EBV dapat menjadi pemicu Sklerosis multipel. Virus ini merupakan virus dual-tropik, yang berarti virus yang menginfeksi dua jenis sel inang yang berbeda (dalam hal ini, sel B dan sel epitel). Salah satu tantangannya adalah virus Epstein–Barr mengekspresikan protein yang sangat berbeda selama fase litik dan latennya. Agen antivirus bekerja dengan menghambat replikasi DNA virus, namun hingga 2016, hanya sedikit bukti yang menunjukkan bahwa agen antivirus efektif melawan virus Epstein–Barr. Agen antivirus juga mahal, berisiko menyebabkan resistensi terhadap agen antivirus, dan (dalam 1% hingga 10% kasus) dapat menyebabkan efek samping yang tidak diharapkan.

Beberapa uji klinis untuk vaksin dilakukan pada 2006–2008. Protein virus Gp350/220 adalah target utama, namun ini hanya akan memblokir infeksi sel B, bukan sel epitel. Vaksin yang disebut MVA-EL juga telah diusulkan sebagai target untuk kanker positif EBV, namun ini hanya akan efektif dalam memerangi kanker terkait EBV, bukan infeksi EBV itu sendiri. Vaksin EBV berbasis VLP (partikel mirip virus) juga menjadi subjek penelitian intensif.

Pada April 2018, antibodi manusia pertama yang memblokir Virus Epstein-Barr ditemukan, yang disebut AMMO1. Antibodi ini memblokir glikoprotein gH dan gL. Penemuan ini mendefinisikan situs kerentanan baru pada Virus Epstein-Barr, dan menetralkan infeksi dual-tropik (menghentikan infeksi sel B dan sel epitel). Ini adalah penemuan yang paling menjanjikan hingga sekarang, karena merupakan penemuan yang pertama yang mungkin dapat memblokir infeksi sel B dan infeksi epitel.

Pada 2021, Moderna mengumumkan dua kandidat vaksin mRNA yang menargetkan EBV: mRNA-1189 profilaksis dan mRNA-1195 terapeutik. Mengenai mRNA-1189, perusahaan tersebut menyatakan bahwa "vaksin ini mengkodekan lima glikoprotein untuk menghambat kedua mekanisme masuknya virus ke dalam sel B (gp350 plus gH/gL/gp42), menambahkan perlindungan untuk sel epitel (gH/gL), dan mencakup gB untuk perlindungan semua sel". Protein virus yang diproduksi oleh mRNA dalam vaksin ini diekspresikan dalam bentuk aslinya, terikat pada membran sel, di mana protein tersebut tersedia untuk dikenali oleh sistem kekebalan tubuh. Perusahaan tersebut memulai uji klinis Fase I mRNA-1189 pada 5 Januari 2022. Kandidat lainnya, vaksin mRNA-1195, sedang dikembangkan untuk mencegah komplikasi jangka panjang yang mungkin disebabkan oleh EBV, dan mengandung antigen tambahan dibandingkan dengan mRNA-1189. Pada awal 2023, dikabarkan bahwa Moderna sedang memulai uji klinis Fase I mRNA-1195.

Referensi

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29593732 (2026-08-17T22:49:13Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.